Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Agustus 2011

Summer in Seoul - Ilana Tan


For those who always believe in me,

thank you….
Prolog
Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?
Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku di sini
Dan kini aku melihatmu

KONON ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat
potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas
alur ceritanya. Benarkah begitu?
Oh ya, ia sedang mengalaminya. Ketika tubuhnya terlempar ke sana-sini,
pandangannya mendadak gelap, namun anehnya ia kemudian bisa melihat wajah
seseorang dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suaranya.
Betapa ia sangat merindukannya sekarang, ingin bertemu dengannya, ingin
berbicara dengannya. Ada yang harus ia katakan pada orang itu. Ia harus
memberitahunya ia rindu.
Hanya sekali saja…
Kalau boleh, ia ingin mengatakannya sekali saja…
Kalau boleh, ia ingin melihatnya sekali saja…
Tapi tidak bisa…
Suaranya tidak bisa keluar…
Ia tidak punya tenaga untuk bicara…
Satu
“SEKARANG aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu
sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit.
Terserahlah.”
Sandy melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang
ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan
kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan
kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Jeong-Su, tapi
laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.
“Jeong-Su, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Sandy menyela ucapan Lee Jeong-Su
dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu
menatap ponselnya dengan kesal.
Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia
sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya
dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.
Sandy semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari.
Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan
otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang.
Ini bukan pertama kalinya Sandy harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia
sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya
sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang
tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.
Ia berhenti melangkah dan mendesah. “Bisa gila aku,” gumamnya pada diri sendiri. Sandy memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-
tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-
lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya
suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu.
Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Sandy masih terkagum-kagum
pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun
jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma
makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-
samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan
tertawa.
Tiba-tiba Sandy merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko
makanan kecil di seberang jalan. Setelah merenung sesaat, ia mengangguk dan
bergumam, “Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang
diri.
Sandy menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan
sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko
itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya,
Sandy langsung berjalan ke rak keripik.
“Nah, Soon-Hee, ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah
melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Sandy di meja kasir.
Sandy tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas
tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?
“Sebentar, Bibi. Saya yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…” Sandy
mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir.
Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak
lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat,
tiga keping uang logam, saputangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang
sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut.
“Kenapa tidak ada?” Sandy bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di
rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet?
Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Sandy melirik ponselnya yang tergeletak di
meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.
“Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.”
Sandy menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Suara itu milik pria bersetelah
putih yang berdiri di belakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria
tersebut. Sekarang Sandy melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke
saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol
soju*. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan
atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti
seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar.
Pria itu memandang Sandy, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Sandy
melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan
menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…
Sandy menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian
pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.
Tiba-tiba Sandy merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan
melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata, “Soon-Hee,
bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?”
Sandy memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di
belakangnya. “Oh, ya. Maaf.” Sandy menyingkir ke samping dan pria itu melangkah
maju.
“Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi.

Kepala Sandy mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan
sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.
Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia
meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan
ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.
Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus
punya dua? pikir Sandy sambil memijat-mijat pelipisnya.
Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu.
Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.
“Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Sandy.
Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.
Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Sandy memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika
ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan
putih yang diparkir di depan toko.
Karena Sandy tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko
mengizinkannya membayar besok. Sandy mengumpulkan kembali barang-barangnya
yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam
sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.
Begitu keluar dari toko, Sandy langsung membuka sebungkus keripik dan mulai
makan. “Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri.
Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel
diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus
menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus
menjerit minta diangkat. Akhirnya Sandy menyerah dan mengaduk-aduk tasnya
dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit
histeris di tengah jalan.
“Haaloo!” Sandy ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa.
Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?
“Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?”
Sandy baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang
ragu-ragu di seberang sana.
“Maaf… bukankah ini ponsel Tae-Woo?”
Siapa lagi orang ini?
“Anda salah sambung. Ini ponsel Han Soon-Hee,” ujar Sandy ketus dan langsung
menutup flap ponselnya dengan keras.
Sandy menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol. “Tidak
bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu
ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di
rumah. Walaupun Sandy tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jakarta, mereka sering
menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat
menelepon untuk menanyakan kenapa Sandy belum sampai di rumah.
Ia membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung
terhubung ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang
tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan “Rumah Jakarta”
yang tertera seperti biasa, tapi nama “Park Hyun-Shik”. Sandy cepat-cepat
memutuskan hubungan dan tertegun.
Sandy memerhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya,
setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka
daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya.
Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir.
Tadi di toko bibi itu, semua barangnya berserakan di meja kasir, termasuk
ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri di belakangnya tadi berbunyi untuk
pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka
sama.
Kemudian ponsel kedua pria itu berbunyi. Pria itu meletakkan ponselnya yang
pertama di meja dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu
dan ponsel Sandy.
Sandy teringat bentuk ponsel pria itu yang diletakkan di meja memang sama
dengan bentuk ponselnya sendiri. Sebelum keluar dari toko, pria itu berbalik untuk
mengambil ponsel pertamanya yang tertinggal di meja. Sekarang Sandy memegang
ponsel dengan daftar nama yang tidak dikenalnya.
Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Artinya… artinya… orang
itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponsel Sandy.
Sandy memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa. “Bagaimana ini? Aduh,
bisa gila aku. Gila.” Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak.
Sandy merasa tubuhnya nyaris ambruk ke tanah. Rasanya ingin menangis saja. Ke
mana ia harus mencari orang itu?
Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada
pria itu, bukan? Berarti Sandy bisa menelepon ke ponselnya dan pria itu akan
menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel
pria tadi yang sedang dipegangnya.
Sandy berjalan mondar-mandir di tepi jalan dengan gelisah sambil menunggu
hubungannya tersambung. “Cepat angkat… cepat… tolong… ce—Halo?”
“Oh, Hyong*. Kenapa lama sekali?”
Park Hyun-Shik tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertubuh tinggi yang
membuka pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya.
“Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas. “Hei,
Tae-Woo. Punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”
Jung Tae-Woo mengikuti Park Hyun-Shik ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan
pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyong sudah dengar gosipnya?”
Park Hyun-Shik memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Jung
Tae-Woo terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Jung Tae-Woo, Park Hyun-
Shik memahami alasan kekhawatirannya.
“Dari mana asal gosip itu?” kata Tae-Woo, seakan-akan bertanya pada dirinya
sendiri.
Park Hyun Shik hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya.
Tae-Woo membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang gay.” Tae-
Woo tertawa pahit. “Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku
seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, Hyong.
Jangan-jangan selama ini Hyong juga berpikir seperti mereka?”
Park Hyun-Shik duduk di kursi di hadapan Tae-Woo, ikut meneguk soju langsung
dari botolnya. “Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ujarnya tenang.
“Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka
sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir
kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita
mana pun di depan publik.”
Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa.
Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”
Park Hyun-Shik menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan.
Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa
menimbulkan gosip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit.
Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para
penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”
Jung Tae-Woo mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat.
“Lalu bagaimana?”
Park Hyun-Shik meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay
itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada
publik.”
Kepala Tae-Woo berputar cepat ke arah Park Hyun-Shik. “Apa?”
“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Park Hyun-Shik langsung.
“Apa?”
Park Hyun-Shik tidak memandang Jung Tae-Woo dan melanjutkan dengan nada
serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu
berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan
bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan
akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”
Park Hyun-Shik mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran. Akhirnya ia
menoleh dan mendapati Tae-Woo sedang menunggu hasil renungannya.
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. “Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau
punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan
hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada
yang pernah melihatnya.
” Tae-Woo mengerutkan kening karena bingung. “Tidak ada yang pernah melihat
dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada
sekadar kata-kata belaka.”
“Tapi kita bisa memberikan bukti.”
“Bukti apa?”
“Foto dirimu bersama wanita itu.”
“Wanita yang mana?”
“Wanita yang menjadi kekasihmu.”
“Kekasih yang mana?”
“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”
“Maksudnya?”
Senyum Park Hyun-Shik bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal
siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu
memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”
Tae-Woo merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki
asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari wanita yang bersedia dan bisa
dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”
Park Hyun-Shik meneguk soju-nya lagi dan menatap Tae-Woo. Temannya itu
tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut,
sesekali ia menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa saat, Tae-Woo mendesah dan melanjutkan, “Wanita yag seperti
apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama
yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu.
Tawa Park Hyun-Shik meledak. Tae-Woo menatapnya dengan pandangan bingung.
“Hyong, ada apa?”
Park Hyun-Shik mendorong pelan bahu Tae-Woo. “Astaga, Tae-Woo. Aku hanya
bercanda. Kenapa kau serius begitu?”
“Apa?”
Park Hyun-Shik menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah,
tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”
Tae-Woo mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan
sebentar. Hyong mau ikut?” kata Tae-Woo sambil merebahkan kepala di sandaran sofa
dan memandang langit-langit ruang duduk.
Park Hyun-Shik mengangkat bahu. “Oke.”
Tae-Woo mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya,
“Oh, Hyong, ponselku sudah diperbaiki belum?”
Park Hyun-Shik mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Tae-Woo. Tiba-
tiba ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Tae-Woo
tadi. Wanita yang mengaku bernama Han Soon-Hee itu berkata ponsel mereka tertukar.
Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Park Hyun-Shik meminta wanita
itu datang ke rumah Jung Tae-Woo. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena
bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat.
Jung Tae-Woo sedang uring-uringan dan kalau sedang uring-uringan, ia tidak suka
menunggu lama.
Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Tae-Woo ketika bel pintu berbunyi.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Tae-Woo heran.
Sandy benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai
di rumah ia harus cepat-cepat mandi kembang tujuh warna seperti yang pernah
diajarkan ibunya, apa pun untuk mengguyur hingga tak bersisa segala kesialan.
Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya
bernama Park Hyun-Shik menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang
tertukar. Sandy jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan
mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus meminjam uang dari bibi
pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di
kawasan perumahan elite ini.
Sandy kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa. Hal terpenting
sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali. Setelah ini ia bakal bisa bergegas
pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas
menit terakhir.
Pintu terbuka dan Sandy mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria
yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Sandy memaksakan seulas senyum sopan.
Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.
“Apa kabar? Saya Han Soon-Hee yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan
ponsel Anda. Ini.” Sandy mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.
“Oh, terima kasih banyak,” kata pria itu ramah. “Saya benar-benar minta maaf
karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada di dalam.”
Sebenarnya Sandy tahu ia tidak boleh masuk ke rumah pria yang tidak ia kenal,
apalagi pada jam selarut ini. Tapi otaknya sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana
mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke
rumah dan tidur. Lagi pula pria itu kelihatannya sangat baik.
Sandy melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas
dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk
laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya
bagus dan rapi, walaupun Sandy pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang
agak pirang. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?
“Mungkin Anda salah sambung,” Sandy mendengar pria itu berkata di ponselnya.
“Tidak ada yang namanya Han Soon-Hee atau Sandy di sini.”
Sandy menatap Park Hyun-Shik dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke
arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.
“Ya, itu ponsel Anda,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum kecil.
Laki-laki yang duduk di sofa masih sibuk sendiri, tidak menyadari kedatangan
Sandy. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah. “Maaf,
Lee Jeong-Su ssi*, saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Han
Soon-Hee. Bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon? Anda salah
sambung.”
Selesai berkata seperti itu, laki-laki itu menutup flap ponselnya dengan keras.
“Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.
“Hei…,” Sandy mendengar Park Hyun-Shik memanggil laki-laki itu. “Ponsel itu
milik nona ini.”
Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Park Hyun-Shik, lalu ke arah Sandy. Ketika
mata mereka bertemu, Sandy baru sadar siapa laki-laki itu.
Jung Tae-Woo agak bingung mendengar penjelasan Park Hyun-Shik. Pandangannya
berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali
ke manajernya lagi. Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di
ruang tamunya itu: gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir dan tangan menjinjing
kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat.
Gadis itu diam tak bersuara sementara Park Hyun-Shik menjelaskan apa yang sudah
terjadi.
“Oh, jadi ini ponsel Anda?” tanya Tae-Woo sambil bangkit dari sofa. Ia
mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya. “Itu… tadi—siapa namanya, maaf,
saya lupa—menelepon mencari Han Soon-Hee atau Sandy. Anda sendiri Han Soon-Hee
atau Sandy?”
Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Dua-duanya nama saya.”
Tiba-tiba ponsel itu berbunyi dan membuat Tae-Woo tersentak kaget. “Silakan
dijawab,” katanya cepat.
Han Soon-Hee menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya. “Halo?”
Kemudian Tae-Woo dan Park Hyun-Shik tertegun ketika mendengar gadis itu
berbicara dalam bahasa asing. Tae-Woo yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa
Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu. Entah bahasa apa yang
sedang dipakai gadis itu, pokoknya ia berbicara lancar sekali. Tae-Woo menoleh ke
arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Park Hyun-Shik menggeleng.
Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup telepon si gadis
memandang Park Hyun-Shik dan Tae-Woo bergantian dengan sikap serbasalah. Sambil
tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Saya pulang dulu.”
“Tunggu,” Park Hyun-Shik menyela. Gadis itu memandangnya tanpa ekspresi.
“Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?”
“Bahasa Indonesia,” jawab gadis itu langsung.
“Oh, begitu.” Park Hyun-Shik tersenyum dan mengangguk-angguk karena
sepertinya gadis itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. “Anda bisa berbahasa
Indonesia rupanya.”
“Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.
“Sebentar,” Park Hyun-Shik kembali menahan gadis itu. Ia memandang Tae-Woo
sekilas, lalu kembali memandang gadis itu. “Anda tidak datang dengan mobil, bukan?
Tadi saya lihat tidak ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar.
Bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus
mengantar ponsel itu kemari.”
Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya. “Tidak
usah. Saya bisa naik bus.”
“Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Tae-Woo. Ia tidak yakin gadis itu
bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya
bisa jatuh pingsan kapan saja. “Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda
maaf dari kami.”
Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut
wajahnya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk
menolak tawaran itu. Tae-Woo bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung
bersedia diantar dua pria tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.
“Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah,” kata Tae-Woo
sambil tersenyum lebar, walaupun ia tahu pasti kalimat itu terdengar tidak terlalu
meyakinkan.
“Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu,” kata gadis itu sambil menggoyang-
goyangkan tangannya lagi.
“Ayo, biar kami antar sampai ke halte bus,” sela Tae-Woo sambil meraih kunci
mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik. “Hyong, kita
pakai mobilmu saja, ya?”
Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Bila diajak bicara, ia hanya
menjawab seperlunya. Tae-Woo melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik
ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Gadis itu duduk bersandar
dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tae-Woo ingin tahu apa yang
membuat gadis itu terlihat begitu lelah.
Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”
Jung Tae-Woo membalikkan tubuhnya sedikit supaya bisa melihat gadis itu. “Di
sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”
“Benar, kami tidak keberatan,” Park Hyun-Shik menambahkan.
Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah.
Berhenti di sini saja.”
Park Hyun-Shik menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte bus.
“Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil. “Selamat malam.”
Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Park
Hyun-Shik menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Nona Han Soon-Hee, ada yang
ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?”
Tae-Woo menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya.
Han Soon-Hee mengerjapkan matanya sekali, lalu mengangguk. “Orang ini? Jung
Tae-Woo, bukan? Jung Tae-Woo yang penyanyi itu?” Lalu seakan baru menyadari
sesuatu, ia memandang Tae-Woo dan berkata, “Lagu Anda… lagu Anda… bagus.”

Dua
“.LAGU Anda bagus.?”
Sandy yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh
menatap bingung Kang Young-Mi yang duduk di sampingnya. Temannya yang
bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap
Sandy dengan kedua tangan terlipat di dada.
“Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda
tangannya?” Young-Mi melanjutkan dengan nada menuduh.
Sandy mengerang. “Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah… dan
lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng. “Betul,
sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke
mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah
malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak.
Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-
apa kemarin?”
Kayng Young-Mi mendecakkan lidah. “Hei, kau bukannya bersama orang asing.
Kau bersama Jung Tae-Woo. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya
sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.
“Jung Tae-Woo orang asing bagiku,” cetus Sandy tegas. “Lagi pula kau tahu sendiri
aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”
“Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar
beratnya,” tegur Young-Mi lagi sambil menekankan telapak tangan di dada. “Aku
sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya
kau bisa minta tanda tangannya untukku… Tidak semua orang bisa bertemu langsung
dengan Jung Tae-Woo, kau tahu? Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau
bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan
mobilnya.”
“Mobil temannya,” sela Sandy. “Temannya juga ada di sana.”
Young-Mi tidak mengacuhkan Sandy. “Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau
aku jadi kau, aku akan—“
“Hei, Kang Young-Mi!”
Sikap Young-Mi melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu
dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.”
Sandy membaringkan diri ke tempat tidur. “Kalau aku bertemu dengannya lagi,”
gumamnya lirih. Pandangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.”
Young-Mi bermain-main dengan salah satu ujung selimut Sandy lalu tiba-tiba
menyeletuk,” Oh ya, kudengar Jung Tae-Woo itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip
itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay.
Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti
apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah
penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?”

Sandy mengerutkan kening dan berpikir. “Entahlah, aku tidak merasa ada yang
aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh
otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”
Young-Mi menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau
yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan,
belum?”
Sandy tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia
menggigit bibir dan bertanya, “Young-Mi, sebenarnya apa yang kau suka dari Jung
Tae-Woo? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?”
Senyum Kang Young-Mi mengembang. “Karena dia tampan, lucu, pandai
menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang
begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi.
Ah, aku sudah tidak sabar.”
“Begitu?”
Tiba-tiba Young-Mi memekik dan membuat Sandy terperanjat.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Sandy begitu melihat Young-Mi meraih tasnya yang
tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.
“Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Young-Mi berulang-ulang. “Seharusnya
aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.”
“Apa?” tanya Sandy heran.
Young-Mi mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau
lihat ini.”
sandy melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan
Young-Mi dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Jung Tae-Woo
bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Sandy sudah tentu
bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Jung Tae-Woo di dalam foto itu
adalah dirinya. Astaga! Apa-apaan ini?
Foto pertama memperlihatkan Sandy dan Jung Tae-Woo yang sedang keluar dari
rumah artis itu. Kepala Sandy tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat.
Sandy ingat saat itu teman Jung Tae-Woo masih berada di dalam rumah sehingga
orang itu tidak ikut terfoto.
Foto yang kedua diambil ketika Jung Tae-Woo sedang membuka pintu mobil
untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Jung Tae-Woo. Sandy merasa
bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.
“Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Young-
Mi menjelaskan. “Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa
yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita
yang di foto itu kau, bukan?”
“Astaga,” gumam Sandy tidak percaya. “Siapa yang mengambil foto-foto ini?”
“Jung Tae-Woo itu artis terkenal,” kata Young-Mi dengan nada aku-tahu-semua-
jadi-percaya-saja-padaku. “Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita
tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau
kekasih Jung Tae-Woo.”
Sandy menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Young-Mi. Ia
masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Jung Tae-Woo. Paman berkacamata
itu, teman Jung Tae-Woo, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang
mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?”
Kang Young-mi menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Jung Tae-Woo itu artis
terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang.
Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.”
Sandy merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Young-Mi,
kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Jung
Tae-Woo.”

Alis Young-Mi terangkat. “Kenapa?”
Sandy mengerutkan kening dan menggaruk kepala. “Enak saja mereka membuat
gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti
gosip artis…”
“Kepalamu masih sakit?” tanya Young-Mi ketika melihat Sandy terdiam sambil
memegang dahi.
Sandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara
kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa
Young-Mi, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah
makan ibumu pasti sedang ramai.”
“Ibuku juga mencemaskanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku
sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan,
mengerti?” kata Young-Mi sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan
tangannya di kening Sandy dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus
minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
“Kau baik sekali, Young-Mi,” kata Sandy sambil tersenyum. “Sampaikan terima
kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya
aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal
pertemuanku dengan Jung Tae-Woo kemarin malam, jangan kaukatakan pada siapa
pun.”
“Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata
Young-Mi sebelum keluar dari kamar Sandy.
Jung Tae-Woo berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang
berada di lantai 20 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan
kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan
kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa. Pagi ini sebuah
tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat
dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-
wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko
menjadi artis. Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan
mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus
bersembunyi untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari
penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah sebenarnya sudah dimulai?
“Oh, Tae-Woo, sudah datang rupanya.”
Tae-Woo begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari
manajernya sudah masuk ke kantor itu.
Park Hyun-Shik berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja.
“Sudah lama?”
Tae-Woo menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja. “Baru saja sampai.
Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?”

Park Hyun-Shik menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang
tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan tabloid dari dalamnya dan
menyodorkannya kepada Tae-Woo.
Tae-Woo menerima tabloid yang disodorkan dengan bingung, namun begitu
melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah. “Apa-apaan ini? Bagaimana
mereka bisa… Ini—“
Tae-Woo memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. “Benar. Ini foto
yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”
Dengan kesal Tae-Woo melemparkan tabloid itu ke meja. “Bagus, satu gosip masih
tidak cukup rupanya.” Ia duduk dan bersandar di kursi. “Bagaimana mereka bisa
mendapatkan foto-foto ini? Apakah menurut Hyong, gadis yang kemarin itu ada
hubungannya dengan masalah ini?”
Manajernya menggeleng pelan. “Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti
itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.”
Tae-Woo mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang
kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi…
“Gadis yang kemarin itu, Han Soon-Hee… aku sudah menyelidikinya,” kata Park
Hyun-Shik sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Tae-Woo. Ia lalu melanjutkan,
“Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana.
Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan
mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di
sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai,
mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali
ke Jakarta karena ayahnya ditugaskan lagi di sana, sedangkan dia tetap tinggal di
Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.”
Tae-Woo membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari
mana Hyong mendapatkan semua informasi ini? Sampai tinggi dan berat badannya
ada.”
Park Hyun-Shik hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam
mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Han
Soon-Hee wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-
mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apa
pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di
tabloid itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu.
Tae-Woo menerima kertas yang disodorkan manajernya.

Park Hyun-Shik menghela napas. “Meski harus diakui… secara tidak langsung,
gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya.

Tae-Woo mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Park Hyun-
Shik, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.

“Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay-mu? Foto-foto itu
memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu
yang sangat mencurigakan,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum lebar.





“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak
enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Han. Saat ini juga. Kami
di sini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik
napas. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Han. Tolong datanglah sekarang.
Please… Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah
diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Han?”

Sandy berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan
kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam.
Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak
menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh
kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu. Diktator!

“Miss Han? Miss Han? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Han? Aku tidak bisa
berbicara lama-lama, Miss Han. Very very busy. Kau akan datang, kan?”

“Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai di sana dalam satu jam,”
sahut Sandy malas.

“Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Han,” kata bosnya
sebelum menutup telepon.

Sandy menatap ponselnya dengan hati dongkol. “Lihat saja, kau akan menerima
surat pengunduran diriku hari Senin nanti. Drakula! Pengisap darah! Hhh, bisa gila
aku!”

Sambil mengumpat, Sandy memaksa dirinya bangkit dan berjalan terseok-seok ke
lemari pakaian.





Empat puluh tiga menit kemudian, Sandy sudah berdiri di studio Mister Kim, salah
satu perancang busana paling populer di Korea. Yang disebut studio oleh bosnya
adalah ruang kerja berantakan yang penuh kain berbagai corak, baik kain perca tak
berguna maupun kain yang masih baru. Studio itu terletak di lantai teratas gedung


berlantai tiga. Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai: lantai pertama
diperuntukkan tamu umum sedangkan lantai duanya untuk tamu VIP.

Sandy masuk dan melihat pria setengah baya berpenampilan perlente, berambut
dicat merah, dan berkaca-mata itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan
tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan
menyuruh anak buahnya memanggil model lain.

Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan
Sandy dan langsung memekik, “Miss Han! Kau terlambat. Kenapa—sebentar…” Ia
berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau.
Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang
kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.”

Sandy merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister
Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat
senang.

Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Sandy. “Kau lihat sendiri, Miss
Han, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kauantarkan pakaian-
pakaian untuk dicoba.”

Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang
lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.

“Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Sandy.

Mister Kim menatapnya dengan mata dibelalakkan selebar-lebarnya, setidaknya
selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit. “Astaga, Miss Han.
Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Jung Tae-Woo, bukan? Dia sudah setuju
akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-
cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran
dan seleranya.”

Lalu, sebelum Sandy bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang
ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!”

Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu
Sandy dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa yang Anda sebut
tadi?”

“Jung Tae-Woo. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak bukan
masalah penting. Sana cepat pergi! Dia sudah menunggu di butik. Ayo sana. Go!
Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Sandy ke arah pintu keluar studionya.



* * *


Sandy mendorong rak beroda yang nyaris terisi penuh pakaian di sepanjang koridor.
Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan Sandy berpapasan
dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Jung Tae-Woo
sudah menunggu di lantai dua.

Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan
elite itu, ia berhenti beberapa saat. Ia ragu. Kenapa ia harus bertemu Jung Tae-Woo
lagi? Apa yang harus ia katakan kepadanya? Apa yang harus ia lakukan? Apakah laki-
laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di tabloid itu?

Sandy mendesah dan menggigit bibir. Mungkin saja Jung Tae-Woo malah tidak
ingat padanya lagi. Sandy mengangguk. Benar, Jung Tae-Woo pasti sudah lupa
padanya. Artis-artis pasti sulit mengingat wajah karena setiap hari mereka harus
bertemu begitu banyak orang baru. Pasti begitu. Mana mungkin mereka ingat setiap
orang yang mereka temui dalam waktu singkat, kan?

Dengan keyakinan itu, Sandy mendorong pintu kaca besar di hadapannya dan
melangkah masuk. Ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa kakinya terus
berjalan.

Sandy berdiri di depan pintu putih salah satu kamar peragaan dan kembali menarik
napas. Baiklah, ini saatnya. Lakukan dan selesaikan secepatnya! Tidak usah cemas.
Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu.

Ia meraih pegangan pintu dan membukanya.





“Salah seorang anak buahnya akan mengantarkan pakaian-pakaian itu ke sini,” kata
Park Hyun-Shik sambil menutup flap ponsel.

Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras dan mengempaskan diri ke sofa empuk
yang diletakkan di tengah-tengah kamar peragaan. “Sudah kubilang, seharusnya kita
tidak usah datang secepat ini.” Ia melirik jam tangannya. “Ah, aku salah, ternyata
bukan kita yang datang terlalu cepat. Mereka yang terlambat. Hhh… harus menunggu
berapa lama?”

Park Hyun-Shik baru akan menjawab ketika ponselnya berdering untuk kesekian
kalinya dalam dua jam terakhir.

Tae-Woo menatap manajernya yang sedang berbicara dengan bahasa formal di
ponsel. Sepertinya telepon dari produser atau semacamnya. Park Hyun-Shik memberi
isyarat akan keluar sebentar. Tae-Woo mengangguk tak acuh dan Park Hyun-Shik
keluar dari ruangan itu.


Tae-Woo merebahkan kepala ke sandaran sofa, mencoba mendapatkan
kenyamanan. Baru saja ia merasa damai dan hampir terlelap ketika ia mendengar bunyi
pintu dibuka dan suara seorang wanita.

“Selamat siang. Maaf membuat Anda menunggu lama.”

Tae-Woo membuka mata. Gadis berambut sebahu dan bertopi merah memasuki
ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Tae-
Woo berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya.

“Mister Kim meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk Anda. Silakan
dicoba.” Gadis itu mendorong rak hingga ke ujung ruangan, ke dekat bilik ganti. Ia
mengeluarkan salah satu pakaian dari gantungan dan mengulurkannya kepada Tae-
Woo. “Silakan dicoba di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah bilik yang tertutup
tirai tebal.

Ada perasaan janggal yang mengusik Tae-Woo, tapi ia tidak tahu apa yang
membuatnya merasa seperti itu. Ia menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak ke
bilik ganti.

Selesai mengenakan pakaian, Tae-Woo menyibakkan tirai. Tepat pada saat itu ia
melihat gadis yang membawakan pakaian tadi sedang duduk di kursi bulat di samping
sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang agak ikal
dengan jari-jari tangan. Tae-Woo tertegun dan menatap gadis itu. Itulah kali pertama ia
melihat jelas wajah si gadis sejak ia masuk bersama rak pakaian.

Tiba-tiba gadis itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya ia menyadari sedang
diperhatikan. Ia cepat-cepat mengenakan kembali topinya dan berdiri. “Bagaimana?
Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?”

Bukankah ia gadis yang kemarin ditemuinya? Tidak salah lagi. Tae-Woo masih
ingat wajah gadis itu. Wajah yang lelah dan pucat. Gadis yang berdiri di hadapannya
ini memang gadis yang kemarin. Wajahnya masih terlihat lelah dan pucat. Tapi kenapa
gadis ini tidak mengatakan apa-apa? Apakah ia tidak mengenalinya?

“Kita pernah bertemu,” kata Tae-Woo. Ia tidak sedang bertanya. Ia benar-benar
yakin, karena itu ia ingin melihat reaksi si gadis.

Gadis itu tertegun, lalu perlahan-lahan mengangkat kepala dan memandang Tae-
Woo dengan ragu-ragu.

Tatapan yang ragu-ragu itu tidak salah lagi sama dengan tatapan gadis yang
kemarin datang ke rumahnya. Tae-Woo menunggu si gadis mengatakan sesuatu.

Setelah hening beberapa detik, gadis itu hanya bergumam, “Oh?”

Tae-Woo kecewa karena gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya
menatapnya dengan matanya yang besar. Gadis itu bodoh atau benar-benar tidak ingat
lagi kejadian kemarin malam? Bukannya sombong, tapi Tae-Woo tidak habis pikir


bagaimana seseorang bisa melupakan artis yang baru ia temui kemarin malam? Tae-
Woo kesal karena justru dirinyalah yang ingat pada si gadis, sementara si gadis
tampaknya sama sekali tidak ingat padanya. Bagaimana bisa? Atau sebenarnya ia tidak
sepopuler yang ia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya?

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan
ponselmu,” kata Tae-Woo datar dan cepat, berusaha membantu ingatan gadis itu. Demi
Tuhan, memangnya gadis ini menderita amnesia?





Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo masuk ke bilik ganti dan menarik tirai. Ia
mengembuskan napas lega dan duduk di kursi bulat yang empuk. Laki-laki itu teryata
memang tidak mengenalinya. Sandy melepaskan topi dan memegang pipinya dengan
sebelah tangan. Lelah sekali. Semoga saja sampai pekerjaannya selesai Jung Tae-Woo
tidak akan mengenalinya. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan sambil melamun.
Tiba-tiba ia melihat Jung Tae-Woo sudah berdiri di sana sambil memerhatikannya.
Sandy tersentak dan segera memakai topinya kembali.

“Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” tanyanya dengan nada yang
dibuat riang dan sopan.

“Kita pernah bertemu.”

Sandy bergeming. Ia menggigit bibir. Ternyata Jung Tae-Woo mengenalinya.
Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang akan terasa
aneh. Akhirnya ia hanya bisa bergumam tidak jelas.

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan
ponselmu,” kata Jung Tae-Woo lagi. Nada suaranya datar.

Baiklah, ia tidak bisa mengelak lagi. Sandy memaksakan seulas senyum. “Oh, ya,
benar. Apa kabar?”

Hanya itu yang bisa dipikirkannya. Sandy memarahi dirinya sendiri dalam hati.

Jung Tae-Woo memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan
mendengus pelan. “Ternyata ingat juga,” gumamnya.

Sandy mengangkat alis. “Ya?”

Jung Tae-Woo kembali menatapnya dan berkata, “Jadi kau bekerja di sini?”

“Ya… bisa dibilang begitu,” jawab Sandy. Ia lega sekarang. Setidaknya ia tidak
perlu menundukkan kepala lagi. Tidak perlu menyembunyikan wajah lagi.

“Foto di tabloid itu… Kau sudah melihatnya?” tanya Jung Tae-Woo.

Sandy menelan ludah. Ini dia. Apakah Jung Tae-Woo menyangka ia berada di balik
semua ini?


“Sudah…,” sahutnya ragu, lalu cepat-cepat menambahkan sambil menggoyang-
goyangkan tangan, “tapi bukan aku… Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan
itu. Sungguh.”

Jung Tae-Woo tertawa kecil. “Kami juga berpikir begitu. Lagi pula sebenarnya foto-
foto itu malah membantuku.”

Sandy tidak mengerti.

“Kau sering membaca tabloid?” tanya Tae-Woo.

Sandy menggeleng. Ia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ia sama sekali tidak
perlu membaca tabloid untuk tahu gosip seputar artis. Temannya, Kang Young-Mi,
adalah tabloid berjalan. Kang Young-Mi tahu semua yang terjadi dalam dunia artis.
Apa pun yang ia ketahui pasti akan diceritakannya kepada Sandy, tidak peduli Sandy
sebenarnya mau tahu atau tidak.

Jung Tae-Woo mengangguk-angguk. “Hm, berarti kau tidak tahu-menahu soal
gosip tentang diriku.”

“Gosip gay itu?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sandy tanpa diproses
di otaknya terlebih dahulu.

Jung Tae-Woo menatapnya. “Bukannya kau tadi bilang kau tidak membaca
tabloid?”

Sandy memiringkan kepala dengan salah tingkah. “Temanku yang
menceritakannya padaku.”

“Ternyata banyak orang yang sudah tahu.” Jung Tae-Woo mendesah.
“Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gosip.”

Sandy hanya mengangguk-angguk tidak acuh, namun ia terkejut ketika laki-laki di
hadapannya itu mendadak berpaling ke arahnya dengan wajah berseri-seri.

“Han Soon-Hee ssi—namamu Han Soon-Hee, bukan?” tanyanya cepat. Tanpa
menunggu jawaban Sandy, ia meneruskan, “Karena kau sudah membantuku satu kali,
bagaimana kalau kau membantuku lagi?”

Sandy mundur selangkah. “Bantu… apa?”

“Jadi pacarku.”

“A-apa?!”





Tae-Woo agak kaget mendengar pekikan gadis itu, tapi ia bisa memakluminya.

“Begini, biar kuganti kalimat permintaanku,” katanya sambil berkacak pinggang
dan berpikir-pikir. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Sandy. “Aku hanya
ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku.”


Sandy mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. Tae-Woo cepat-cepat
menjelaskan. Ia sangat menyadari alis gadis itu terangkat ketika mendengarkan
ceritanya.

“Hanya berfoto. Bagaimana?” tanya Tae-Woo di akhir penjelasannya. Ia menatap
Sandy yang masih tercengang. Kenapa tiba-tiba ia merasa seolah sedang disidang di
pengadilan? Ia sangat penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu, apa jawabannya.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Sandy adalah, “Kenapa aku?”

Pertanyaan yang bagus. “Tidak ada alasan khusus,” sahut Tae-Woo santai. “Kupikir
kau mungkin mau membantuku. Bagaimanapun kita sudah pernah difoto bersama
walaupun tanpa sengaja.”

Sandy masih terlihat bingung, tapi Tae-Woo melihat kening gadis itu berkerut,
tanda sedang mempertimbangkan usul yang ia ajukan. Setidaknya Sandy tidak
langsung menolak mentah-mentah.

Tae-Woo cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk menambahkan, “Kalau kau
mau, anggap saja aku menawarkan pekerjaan kepadamu. Tidak akan mengganggu
pekerjaanmu yang sekarang. Kau masih kuliah? Kuliahmu juga tidak akan terganggu.”

“Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh pekerjaan?” tanya Sandy datar.
“Atau butuh uang?”

Tae-Woo terdiam. Ia memandang Sandy dari kepala sampai ke ujung kaki. Tidak,
gadis ini memang sudah punya pekerjaan dan dilihat dari cara berpakaiannya, ia tidak
tampak seperti gadis yang kekurangan uang.

“Memang tidak,” Tae-Woo mengakui. “Begini saja, aku akan memberimu apa pun
yang kauinginkan kalau kau bersedia membantuku.”

“Hanya untuk berfoto bersama?” tanya Sandy memastikan.

“Begitulah rencananya,” jawab Tae-Woo pasti. Ia mulai merasa tidak percaya diri
melihat tanggapan gadis itu. Apa yang sedang dipertimbangkannya? Yah, mungkin
memang karena pada dasarnya Han Soon-Hee bukanlah salah satu penggemarnya.
Jadi, tidak aneh kalau gadis itu tidka antusias dengan gagasan ini.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Otomatis Tae-Woo merogoh saku bagian dalam
jasnya. Pada saat yang sama Sandy juga merogoh tas tangannya yang terletak di meja.
Ternyata yang berdering ponsel milik gadis itu. Tae-Woo baru ingat ponsel Sandy sama
dengan ponsel miliknya. Bahkan nada deringnya juga persis sama. Mungkin salah satu
dari mereka harus segera mengganti nada dering.

Sandy menatap ponselnya, membuka flap-nya, tapi langsung menutupnya lagi
tanpa dijawab terlebih dulu. Rasa ingin tahu Tae-Woo bertambah ketika ia melihat
gadis itu melepaskan baterai ponselnya kemudian kembali menyimpan tas beserta
baterainya itu ke tas. Siapa yang meneleponnya tadi? Tidak tampak ekspresi apa pun di


wajahnya. Tapi sepertinya Sandy tidak berniat memberikan penjelasan atas tidakannya
barusan.

“Mau membantu, kan?” Tae-Woo akhirnya membuka suara setelah mereka berdua
terdiam beberapa saat.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Tae-Woo. “Baiklah, asalkan wajahku
tidak terlihat.”

Udara di sekeliling Tae-Woo jadi terasa lebih ringan. Ia mengembuskan napas pelan
dan tersenyum lega. Meminta bantuan Sandy ternyata tidak sesulit dugaannya. Tidak
ada syarat yang aneh-aneh. Kalau sekadar merahasiakan identitas, ia bisa memaklumi
itu. Gadis ini tentu saja tidak ingin berurusan dengan wartawan.

“Terima kasih. Kuharap kau tidak akan memberitahu orang lain tentang kesepakan
kita ini, bahkan orangtuamu sekalipun. Aku tidak ingin menciptakan skandal yang
lebih parah. Aku bisa memercayaimu, kan?”

“Mm, aku mengerti,” kata Sandy menyanggupi. Tapi begitu melihat matanya yang
agak menerawang, Tae-Woo jadi kurang yakin apakah gadis itu benar-benar
memahami kata-katanya.

Pada saat itu pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk Park
Hyun-Shik. Sang manajer memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya,
lalu setelah beberapa saat wajahnya menjadi cerah.

“Oh, kau yang kemarin itu?” tanya Park Hyun-Shik sambil menghampiri Sandy.

Tae-Woo tersenyum lebar. “Hyong, dia bersedia menjadi pacarku.”

Senyum manajernya langsung lenyap. “Maksudmu?”

“Yang Hyong katakan kemarin… soal foto… aku sudah memikirkannya,” kata Tae-
Woo, masih tetap tersenyum. “Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu.
Memang tidak persis seperti rencana yang Hyong usulkan kemarin.”

Park Hyun-Shik terlihat bingung. “Soal yang kemarin…?” Ia terdiam sebentar, lalu,
“Astaga, kau serius?”

“Akan kujelaskan lebih lanjut pada Hyong nanti,” kata Tae-Woo sambil menepuk-
nepuk pundak manajernya. “Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu. Bukankah kita ke sini
karena aku harus mencoba semua pakaian ini?”





Sandy keluar dari tempatnya bekerja dengan langkah gamang seolah setengah sadar.
Tugasnya mencocokkan pakaian Jung Tae-Woo sudah selesai, tapi otaknya seakan
masih tertinggal sebagian di butik itu. Ia berjalan dengan langkah lambat, membelok di
ujung jalan, lalu langkah kakinya terhenti.


“Apa yang sudah kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang
pipi dengan sebelah tangan.

Sandy harus berusaha keras menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang
sekali. Sejak tadi ia berjuang supaya rasa gugupnya tidak terlihat oleh kedua pria itu.
Perasaan canggung saat Jung Tae-Woo menjelaskan rencananya kepada si manajer
sementara pria itu mencoba pakaian tadi bahkan masih bisa ia rasakan hingga kini.

Si manajer agak bimbang. Ia banyak bertanya pada Sandy, selain itu juga berulang
kali menekankan bahwa masalah ini tidak boleh sampai diketahui orang lain. Tentu
saja Sandy mengerti. Diam-diam, sambil mendengarkan pesan Park Hyun-Shik, Sandy
mengamatinya. Pria yang satu itu benar-benar memiliki daya tarik. Cara bicaranya
menyenangkan, senyumnya menawan, dan matanya ramah. Sandy tahu Hyun-Shik
bertanya-tanya kenapa ia mau begitu saja membantu Jung Tae-Woo, tapi ia pura-pura
bodoh. Pada awalnya Sandy memang agak ragu dengan tawaran Tae-Woo, tapi
akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Ia meyakinkan dirinya ini jalan yang
tepat. Ini mungkin kesempatan yang telah lama dinantinya untuk mendapat jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menghantui….

Lagi pula menurutnya pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tidak susah. Ia hanya
perlu difoto bersama Jung Tae-Woo. Bukan masalah. Ia pasti bisamelakukannya. Ia
sadar kesepakatan ini akan membuatnya sering bertemu Jung Tae-Woo, tapi ini bukan
masalah, toh ia tidak merasakan apa-apa terhadap artis itu. Nilai tambah lain, kalau ia
sering bersama Jung Tae-Woo, ia akan tahu dan mengerti kenapa teman dekatnya juga
banyak wanita lain bisa tergila-gila pada pria itu.

“Baiklah,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa melakukannya. Ah, astaga!
Aku lupa minta tanda tangan Jung Tae-Woo untuk Young-Mi.”

Sandy merogoh tasnya untuk mencari ponsel, tapi kemudian berhenti. Apakah
sebaiknya aku tidak memberitahu Young-Mi aku bertemu Tae-Woo tadi? Dia pasti
kesal karena aku lupa meminta tanda tangan lagi. Tapi ia pasti bakal jadi lebih kesal
kalau tahu aku menyembunyikan soal pertemuan ini…

Sandy melanjutkan mencari ponselnya di tas tangannya dan menemukan baterai
ponsel yang tadi ia lepas. Mendadak ia jadi teringat Lee Jeong-Su tadi meneleponnya.
Mudah-mudahan Jeong-Su bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menerima telepon tadi.
Eh… tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus merasa bersalah? Mana ada
orang yang bisa menjawab telepon kalau sedang berada dalam situasi seperti tadi? Lagi
pula sepanjang pengalamannya, kalau Lee Jeong-Su yang menelepon, pasti bukan
karena ada hal penting.

Kenapa Lee Jeong-Su masih terus menghubunginya? Bukankah pria itu sendiri yang
meminta putus hubungan? Orang aneh!


Sandy memasang baterai ponselnya kembali dan baru akan menghubungi Young-
Mi ketika ia teringat janjinya. Aah… benar juga, aku sudah berjanji pada Park Hyun-
Shik ssi tidak akan menceritakan masalah ini pada orang lain. Ah, bagaimana ini?
Yah… apa boleh buat…

Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas tangannya, lalu ia mendongak menatap
langit yang biru dan bergumam, “Baiklah, Sandy. Semoga keputusanmu ini ada
gunanya. Aja aja, fighting*!”

Sekarang ia harus pulang dan tidur dulu untuk mengumpulkan tenaga. Ia sudah
berjanji akan menemui kedua pria itu nanti malam.

























































* Ayo, semangat!




Tiga









“SOON-HEE SSI, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu
harus tertutup,” perintah Park Hyun-Shik.

Sandy bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Jung
Tae-Woo, lalu menarik turun topi merahnya. “Kalau begini aku sendiri tidak bisa
melihat apa-apa,” desahnya. “Paman sebenarnya ada di mana? Dia sedang
meneropong kita atau semacamnya?”

Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam mobil Jung Tae-Woo yang diparkir di
lapangan parkir depan gedung tempat Park Hyun-Shik bekerja. Saat itu pukul sepuluh
malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Jung Tae-Woo yang mengenakan topi
hitam dan kacamata hitam duduk di balik kemudi, Sandy duduk di sampingnya,
sementara Park Hyun-Shik mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi
dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.

Jung Tae-Woo menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.”

Ia menutup ponsel dan memandang Sandy yang sedang merapikan kepang
rambutnya. “Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.

“Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke
mobil?” tanya Sandy memastikan.

Jung Tae-Woo mengangguk. Ia diam, lalu, “Nah, sepertinya Hyong sudah siap
dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”

Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.

“Kenapa jauh begitu?” tanya Jung Tae-Woo.

Sandy menoleh dan menyadari Jung Tae-Woo sedang mengomentari jarak antara
mereka berdua yang terlalu jauh. “Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat.”


“Orang-orang tidak akan percaya aku punya hubungan khusus denganmu kalau
kau berdiri sejauh itu.”

Sandy berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Jung Tae-Woo.
“Menurutku seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu sampai berpelukan
supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”

Jung Tae-Woo tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan
jalanmu seperti robot.”

Sandy tetap diam.

Jung Tae-Woo balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.”

Sandy terkejut ketika Jung Tae-Woo melangkah mendekati dirinya. “Mau apa kau?”
tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.

Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya. Sandy baru menyadari betapa dirinya
begitu pendek dibandingkan pria itu. Kepalanya sampai harus mendongak kalau ia
mau melihat wajah Jung Tae-Woo.

“Hei, Jung Tae-Woo ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Sandy sekali lagi ketika
setelah beberapa saat Jung Tae-Woo hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia
tidak bisa melihat ekspresi Jung Tae-Woo dengan jelas karena laki-laki itu memakai
kacamata hitam, tapi Sandy bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.

“Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia
mundur kembali.

Sandy mendengus pelan. “Lucu sekali.”





“Misi selesai,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali di dalam mobil.
“Hhhh… lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.”

Tae-Woo tersenyum kecil mendengar gurauan Sandy. Ternyata gadis ini bisa
bercanda juga. Tae-Woo yakin sebenarnya Sandy orang yang ramah, meski saat ini
gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung
dingin. Bagaimanapun hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu saling
mengenal.

“Aku merasa seperti sedang main film,” Sandy menambahkan. “Mungkin
seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”

“Teruslah bermimpi,” sahut Tae-Woo sambil menghidupkan mesin mobil.

Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka.
Yang berdering ternyata ponsel Tae-Woo.

“Sebaiknya kauganti nada dering ponselmu,” gerutu Sandy sambil memasukkan
ponselnya kembali ke saku celana.


“Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti,” kata Tae-Woo sebelum menjawab
teleponnya. “Ya, Hyong… Sudah?”

Tiba-tiba ponsel Sandy berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sandy
langsung menjawab teleponnya. “Halo?”

Tae-Woo melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang
meneleponnya? Lamunan dalam benaknya buyar ketika ia sadar Park Hyun-Shik
berulang kali menyebut namanya di telepon.

“Eh, apa, Hyong?... Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Tae-Woo sebelum menutup
ponsel.

“Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Sandy dengan nada santai.

Tae-Woo memerhatikan alis Sandy terangkat ketika gadis itu mendengarkan
jawaban orang di seberang sana.

“Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti
saja. Aku sekarang sedang sibuk. Tutup dulu ya.” Sandy langsung menutup
teleponnya.

“Telepon dari siapa?” tanya Tae-Woo sambil lalu.

Sandy menoleh ke arahnya. “Teman,” sahut gadis itu pendek, lalu mengalihkan
pembicaraan. “Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”

Tae-Woo memandang Sandy dengan kening berkerut. “Paman?” tanyanya heran.
“Kenapa kau memanggil Hyong „paman.? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak
akan sudi dipanggil „paman..”

Sandy baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Tae-Woo menambahkan,
“Tapi terserah kau sajalah. Panggil saja dia „paman. atau apa pun sesukamu. Hyong
tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti
ini. Asal kau tidak memanggilnya „onni*. saja.”

Sandy menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali
lagi.

“Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul di tabloid,” jawab Tae-Woo.
Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri,
“Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali
seperti dulu…”

Tae-Woo menoleh dan mendapati Sandy sedang menatapnya dengan pandangan
aneh. “Apa? Ada apa?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sandy agak ragu.

“Apa?”





* Kakak, panggilan wanita kepada wanita yang lebih tua.


“Sebenarnya… kau gay atau bukan?”

Tae-Woo melepas kacamatanya dan menatap Sandy dengan kesal.

Tanpa menunggu jawaban, Sandy mengibaskan tangan. “Oh, baiklah, aku tidak
akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan juga bukan urusanku.”





Seperti rencana Park Hyun-Shik, hari Senin pagi foto-foto mereka sudah mucul di
tabloid. Sandy baru memasuki ruang kuliah ketika Kang Young-Mi berlari ke arahnya.

“Hei, Han Soon-Hee!” seru Young-Mi dengan suara menggelegar.

Sandy mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari
kekagetannya, ia menggerutu, “Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil nama
lengkapku seperti itu. Memangnya „Sandy. terlalu susah diucapkan?”

“Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang kebarat-baratan,”
balas Young-Mi lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia
melambai-lambaikan tabloid tepat di depan wajah Sandy.

“Apa ini?” tanya Sandy. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa
yang ingin diperlihatkan temannya itu.

“Jung Tae-Woo ternyata punya pacar!” kali ini seruan Young-Mi begitu keras
sampai-sampai Sandy terlompat kaget.

Sandy melihat halaman depat tabloid itu dan menahan napas. Ia membaca judul
utamanya “JUNG TAE-WOO DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran
besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Jung Tae-Woo. Foto-foto itu agak
buram, tapi kenapa Sandy merasa dirinya terlihat begitu jelas?

Foto pertama memperlihatkan mereka berdua di dalam mobil. Jung Tae-Woo
sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Sandy sendiri
juga sedang memandang pria itu dengan kepala dimiringkan sehingga wajahnya
tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Sandy sendiri tidak ingat.

Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit
menyamping sehingga Sandy agak tertutup tubuh Jung Tae-Woo. Sandy memerhatikan
foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi
mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.

Foto ketiga adalah saat Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya dan begitu dekat,
Sandy sendiri berdiri tegak dengan kepala mendongak memandangnya. Lagi-lagi
sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus sekali dan wajah Sandy agak
tertutup. Ditambah lagi Jung Tae-Woo sedang tersenyum dalam foto itu. Mau tidak
mau Sandy kagum pada Park Hyun-Shik. Ternyata Paman pintar memotret.


“Kau lihat? Sudah lihat?” Young-Mi jelas-jelas terlihat kesal dan sedikit histeris.
“Ternyata selama ini Jung Tae-Woo sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau
tahu tidak, semua penggemarnya sedang shock saat ini.”

Sandy agak lega karena Kang Young-Mi tidak menyadari bahwa dirinyalah yang
ada di dalam foto bersama Jung Tae-Woo. Ia melipat kembali tabloid itu,
mengembalikannya kepada Young-Mi, lalu berkata, “Kenapa kesal? Bukankah ini
malah membuktikan Jung Tae-Woo bukan gay?”

Young-Mi terdiam dan menimbang-nimbang. “Tapi kalau melihat dia dengan
wanita lain, rasanya hatiku… aduh,” katanya dengan wajah memelas.

Sandy tertawa geli.

“Tapi… mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Young-Mi tiba-tiba.

“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Bisa saja kasusnya sama dengna kasusmu waktu itu. Jung Tae-Woo hanya
mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Lagi pula semua
orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”

Sandy cepat-cepat menoleh dan mendapati sahabatnya sedang memandangnya
yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada
sumber tepercaya yang menyatakan Jung Tae-Woo memang sudah punya pacar, kan?
Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar
sepertimu, yang paling penting kan Jung Tae-Woo bukan gay alias suka wanita….”

Karena ekspresi kecewa Young-Mi belum berubah, Sandy menambahkan, “Kau juga
tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada
kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”

“Kau bisa berkata seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran
sekali siapa wanita itu. Di sini juga tidak diceritakan siapa dia….” Young-Mi
mengembuskan napas panjang. Mendadak dia menepuk tangan dan berkata penuh
semangat, “Tapikau benar. Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus
putus dengan Tae-Woo oppa*-ku!”

Sandy geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Young-Mi
sudah berkata lagi, “Tapi ada yang aneh. Coba lihat foto-foto ini, Soon-Hee. Kenapa
mereka berdua tidak bersentuhan? Mungkin memang bukan hal penting, tapi
maksudku, orang pacaran bukannya suka berpegangan tangan kalau berjalan
bersama?”



* * *





*Kakak, panggilan wanita kepada pria yang lebih tua.


Jung Tae-Woo sedang berada di kantor Park Hyun-Shik. Ia memegang tabloid yang
memuat foto-fotonya bersama Sandy.

“Hyong ternyata pandai memotret,” kata Tae-Woo sambil tersenyum.

Park Hyun-Shik hanya mengangkat bahu menerima pujian itu. “Menurutku rencana
kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta
kepastian dan wawancara denganmu.”

“Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanya Tae-Woo sambil meletakkan tabloid
itu di atas meja.

“Soon-Hee ssi? Seharusnya sudah karena orang-orang juga akan membicarakan-
nya,” sahut Park Hyun-Shik. Ia meraih tabloid itu dan mengamati foto-foto Tae-Woo
dan Sandy. “Dia melakukannya dengan baik sekali, kan? Gadis yang tenang, mudah
diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris
atau semacamnya.”

Tae-Woo hanya mengangkat bahu.

Park Hyun-Shik berkata pelan seperti merenung. “Ya, gadis yang tenang. Bahkan
mungkin terlalu tenang… Tidakkah menurutmu dia terlalu mudah menyetujui
permintaanmu?”

Tae-Woo mengangkat bahu lagi. “Tidak juga,” jawabnya.

“Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Park Hyun-Shik lagi.

Tae-Woo mengingat-ingat. “Tidak.”

“Aneh,” gumam Park Hyun-Shik. Setelah berkata seperti itu, telepon di meja
kerjanya berdering.

Sementara manajernya menjawab telepon, Jung Tae-Woo menimbang-nimbang
apakah sebaiknya ia menelepon Sandy. Tak berapa lama akhirnya ia mengeluarkan
ponselnya dan menekan angka sembilan.





Sandy dan Young-Mi sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Jung
Tae-Woo dan pacar misteriusnya ketika Sandy mendengar namanya dipanggil.

Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang
berlari-lari kecil menghampiri mereka.

Young-Mi menyikut lengan Sandy dan berbisik, “Mau apa lagi dia?”

Sandy mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu.

Laki-laki itu berhenti di depan mereka berdua sambil tersenyum lebar. “Halo,
kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, kutraktir.”

Young-Mi meringis. “Kebetulan apanya?”

“Lee Jeong-Su ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Sandy.


“Tidak ada alasan khusus,” jawab Lee Jeong-Su riang, seakan tidak menyadari nada
ketus kedua gadis itu. “Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya
kita makan siang bersama sambil mengobrol.”

“Pacarmu mana?” tanya Young-Mi tiba-tiba. “Dia tidak marah kalau kau makan
siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih bersama gadis yang waktu
itu, kan? Atau sudah ada yang baru?”

Wajah Lee Jeong-Su memerah dan dia agak salah tingkah ketika menjawab, “Oh, dia
sedang ada urusan di tempat lain. Ayolah, mumpung pekerjaanku sedang tidak
banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?”

Sandy dan Young-Mi berpandangan. Mereka tahu mereka tidak bisa menghindar
tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Lee Jeong-Su.

Mereka masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi. Mereka baru
saja duduk di meja kosong ketika Sandy mendengar ponselnya berbunyi. Ia menatap
layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana.

“Halo?”

“Sudah lihat?”

“Apa?” Dalam kebingungan Sandy menatap ponselnya, lalu menempelkannya
kembali di telinga. “Siapa ini?”

Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?”

“Tidak.”

Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Jung Tae-Woo.”

Sandy tersentak dan sontak menatap Young-Mi dan Jeong-Su bergantian. Kedua
orang itu jadi ikut menatapnya dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu
pelayan datang dan menanyakan pesanan.

Sandy memalingkan wajah dan berkata dengan suara pelan di telepon, “Oh, kau
rupanya. Ada apa?”

Sandy mendengar Jung Tae-Woo menarik napas di seberang sana. “Kau sudah lihat
fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.

“Sudah,” sahut Sandy. “Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?”

“Sore ini aku ada jadwal wawancara.”

“Soon-Hee, kau mau makan apa?” tanya Jeong-Su tiba-tiba.

Sandy menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.”

“Kau tidak sedang sendirian?” tanya Tae-Woo.

“Aku sedang makan bersama teman.”

“Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.”

“Lho, kenapa marah-marah? Kau sendiri tidak bertanya dulu, lagi pula aku kan
tidak bilang apa-apa ke siapa pun.”


Jung Tae-Woo terdiam sebentar, lalu berkata, “Malam ini jam tujuh kau harus ke
rumah Hyun-Shik Hyong. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?”

Wajah Sandy berubah kesal, tapi ia berkata, “Ya, ya, mengerti. Tapi rumahnya di
mana?”

Sandy mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat
alamat Park Hyun-Shik seperti yang disebutkan Jung Tae-Woo, ia menutup ponsel dan
mendapati Young-Mi dan Jeong-Su sedang memerhatikannya.

“Dari siapa?” tanya Jeong-Su.

“Teman,” sahut Sandy ringan sambil tersenyum kecil. “Makanannya sudah
dipesan?”





Tae-Woo menutup ponselnya sambil melamun.

“Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Park Hyun-Shik
membuyarkan lamunannya.

“Sudah,” jawabnya pelan.

“Kau juga nanti malam jangan datang terlambat,” kata manajernya sambil
mengenakan jas. “Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?”

“Hyong,” panggil Tae-Woo tiba-tiba.

“Apa?”

“Hyong pernah mencari informasi tentang Han Soon-Hee. Apakah Hyong sudah
mengecek dia punya pacar atau tidak?”

“Memangnya kenapa?”

“Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia
punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.”

Park Hyun-Shik berpikir. “Nanti malam kita bisa menanyakannya langsung pada
Soon-Hee ssi. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk
wawancara.”





“Jadi kau sudah mengatakannya pada wartawan?” tanya Sandy sambil menjepit
sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut.

Mereka bertiga—Jung Tae-Woo, Park Hyun-Shik, dan dia sendiri—sudah
berkumpul di apartemen Park Hyun-Shik yang besar dan mewah. Ketika Sandy
datang, kedua laki-laki itu baru akan mulai memanggang daging. Hyun-Shik berkata
makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Sandy.


“Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahut Jung Tae-Woo sambil membolak-
balikkan potongan daging di atas panggangan.

Sandy meringis, lalu menoleh ke arah Park Hyun-Shik yang sedang meneguk soju.
“Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit.

Park Hyun-Shik meraih sumpit dan berkata, “Soon-Hee ssi…”

“Kalian boleh memanggilku Sandy saja,” Sandy menyela dengan cepat dan
memandang Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo bergantian.

Jung Tae-Woo mendengus pelan, tapi tidak menjawab.

Pakr Hyun-Shik berdeham dan melanjutkan, “Oke, kalau memang kau tidak
keberatan. Sandy, sepertinya aku belum pernah bertanya, tapi apa kau punya pacar
sekarang ini?”

Sandy tersedak mendengar pertanyaan Park Hyun-Shik. “Pacar?”

Park Hyun-Shik cepat-cepat berkata, “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan
pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak
mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.”

Sandy mengangguk-angguk pelan. “Oh,” gumamnya. “Tenang saja, aku tidak
punya pacar.”

“Siang tadi ketika aku meneleponmu, bukankah kau sedang bersama pacarmu?”
Jung Tae-Woo menimpali.

Sandy menoleh ke arahnya. “Siang tadi? Aah… dia bukan pacarku.”

“Kedengarannya seperti pacar,” Jung Tae-Woo bersikeras.

Sandy menatap kedua laki-laki itu dengan mata disipitkan. “Baiklah,” akhirnya ia
berkata. Ia meletakkan sumpitnya di meja. “Karena kalian curiga begitu, aku akan
mengatakan yang sebenarnya.”

“Dia pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo langsung.

“Bukan,” Sandy menegaskan. “Aku dan dia memang pernah berhubungan, tapi
hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.”

“Lalu hubungan kalian sekarang masih baik?” Kali ini Park Hyun-Shik yang
bertanya.

“Susah mengatakannya,” sahut Sandy agak bingung. Ia bertopang dagu dan
mengerutkan kening. “Sebenarnya setelah berpisah, kami tidak bertemu lagi.
Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa
maunya.”

“Itu artinya dia ingin kembali kepadamu,” kata Jung Tae-Woo. “Kenapa kau
memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.”

Alis Sandy terangkat. “Siapa bilang aku yang memutuskannya? Dia sendiri yang
minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.”


Kedua laki-laki itu menatapnya dengan pandangan aneh. Apakah pandangan itu
disebabkan rasa kasihan? Sandy memang merasa dirinya dulu sangat menyedihkan.
Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain.

“Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Waktu itu aku memang
sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku
bahagia. Banyak sekali…”

Merasa canggung telah membicarakan masalah pribadinya pada kedua pria itu,
sebelum Sandy bisa menghentikan dirinya sendiri, bibirnya terus mengoceh, “Mmm,
aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan
bintang. Jadi waktu itu untuk menenangkan diri, aku makan banyak sekali keripik
kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin
aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.”

“Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desak Jung Tae-Woo.

Sandy mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”

“Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Park Hyun-
Shik.

Sandy memiringkan kepala. “Sepertinya belum.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Jung Tae-Woo sambil menatap Sandy ingin tahu.

Sandy membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?”

“Kau masih mengharapkannya?”

Sandy terdiam sejenak, lalu ia mengetukkan sumpitnya ke piring dan berkata,
“Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan
tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.”

Jung Tae-Woo masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Sandy berhasil mengendalikan
mulutnya. Bagaimanapun, ia kan baru mengenal kedua laki-laki itu, rasanya tidak
nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan mereka.

Sandy berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya, “Lalu rencana selanjutnya
apa? Paman akan memotret kami lagi?”

Park Hyun-Shik menggeleng. “Tidak. Untuk saat ini kau boleh bersantai dulu.
Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.”

“Aku mengerti,” ujar Sandy. “Yang jadi bosnya kan kalian berdua.”

“Oh ya, hari Sabtu nanti Tae-Woo akan mengadakan jumpa penggemar untuk
mempromosikan album barunya,” kata Park Hyun-Shik tiba-tiba. “Kau mau datang?”

Sandy tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke
lantai.


Sandy memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Park Hyun-Shik.
“Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan
telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins.

“Tidak perlu rakus seperti itu,” kata Jung Tae-Woo. Sama sekali tidak membantu.

Sandy tidak mengacuhkannya dan bertanya pada Park Hyun-Shik, “Jumpa
penggemar? Seperti yang dulu?”

Jung Tae-Woo tertegun menatap daging panggangnya. Ia kaget Sandy tahu soal
jumpa penggemar terakhir yang dilakukannya sebelum mengambil jeda dari dunia
selebriti.

“Tidak, tidak seperti dulu,” Park Hyun-Shik cepat-cepat menyela sebelum suasana
hati Tae-Woo berubah menjadi buruk. “Kali ini tidak seramai dulu. Kami akan
membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?”

“Oh, begitu? Hmmm…” Sandy menerima sumpit baru yang diulurkan Park Hyun-
Shik. “Aku boleh datang?”

Jung Tae-Woo mendengus dan meneguk soju-nya, rupanya Park Hyun-Shik
terlambat menyelamatkan situasi. “Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk
penggemarku?”

“Memang bukan,” jawab Sandy terus terang, lalu menjepit daging panggang dan
memasukkannya ke mulut. Ia melihat Jung Tae-Woo menatapnya dengan pandangan
bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan.

Entah kenapa sandy merasa tidak nyaman dengan cara Tae-Woo memandangnya
itu, ia pun berdecak. “Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan
melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?”

Tae-Woo sudah membuka mulut untuk membalas komentar Sandy, tapi Park
Hyun-Shik buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar
tiket untukmu. Datanglah bersama temanmu hari Sabtu nanti. Kau belum pernah
mendengar Tae-Woo menyanyi, kan?”

Sandy meringis dan menatap Jung Tae-Woo yang melahap daging panggang
dengan kesal. “Sebenarnya pernah. Di televisi…,” katanya.

Setelah beberapa saat Sandy memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh
datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak
kulihat selama ini. Siapa tahu nantinya aku jadi bisa mengerti kenapa banyak orang
menyukaimu.”

Jung Tae-Woo menatapnya dan mendesah. “Datang saja kalau kau mau. Tapi
jangan macam-macam.”

Sandy tersenyum jail, tiba-tiba saja ia merasa menggoda Tae-Woo adalah kegiatan
yang menyenangkan, dan berkata, “Baiklah, kau mau aku berpura-pura menjadi


penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-
kuat. Lalu menjerit-jerit memanggil namamu. Tae-Woo Oppa! Aku cinta padamu! Itu
yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?”

“Mungkin sebaiknya kau tidak usah datang,” kata Tae-Woo sambil meletakkan
sumpitnya dengan keras. “Benar. Jangan datang!”

Sandy menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Kau tadi sudah setuju. Tidak
boleh ditarik kembali. Lagi pula temanku Kang Young-Mi penggemar beratmu. Aku
sudah merasa tidak enak karena harus menyembunyikan masalah ini darinya. Dia
sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara
jumpa penggemarmu Sabtu nanti.”

Jung Tae-Woo hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”
























































Empat









“HYONG, hari ini tidak ada jadwal kerja, kan? … Aku sedang di luar. Ada sedikit
urusan… Oke, sampai jumpa.”

Tae-Woo melempaskan earphone dari telinga dan kembali memusatkan perhatian
pada jalanan di depannya.

“Sepertinya di sini kampusnya,” gumamnya pada diri sendiri sambil menghentikan
mobil di tepi jalan. Ia membuka flap ponselnya dan baru akan menekan angka sembilan
ketika gerakannya terhenti.

Ia melihat Sandy melalui kaca jendela mobilnya. Gadis itu sedang berjalan keluar
dari gerbang kampus bersama laki-laki tinggi besar. Tae-Woo terus mengamati mereka
ketika laki-laki itu membukakan pintu mobilnya untuk Sandy dan gadis itu masuk.

Tae-Woo menutup ponsel, melemparkannya ke kursi penumpang di sampingnya,
lalu memutar mobilnya untuk mengikuti mobil putih itu.

Ternyata mereka tidak pergi jauh. Mobil putih itu berhenti di depan kafe dan kedua
orang itu turun. Tae-Woo menghentikan mobil di seberang jalan dan tetap diam di
dalam mobil. Ia melihat Sandy dan laki-laki itu masuk ke kafe dan, untungnya,
menempati meja di dekat jendela. Dari mobilnya, Tae-Woo bisa melihat mereka berdua
dengan jelas. Si laki-laki tidak henti-hentinya tersenyum dan berbicara, Sandy juga
sering tersenyum dan sesekali menanggapi kata-kata pria itu.

Tae-Woo meraih ponselnya dan menekan angka sembilan. Begitu mendengar suara
operator telepon, Tae-Woo langsung menutup flap ponselnya dengan keras.

“Kenapa ponselnya dimatikan?” tanyanya kesal.


Tae-Woo memerhatikan Sandy yang sedang tersenyum kepada pelayan yang meng-
antarkan minuman. Ia memalingkan wajah lalu bertanya pada dirinya sendiri dengan
nada heran, “Kenapa aku harus peduli?”

Ia menghidupkan mesin dan menjalankan mobil dengan kasar sehingga rodanya
berdecit.





“Kau mau pulang? Bagaimana kalau kuantar?”

Sandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak usah, Jeong-Su ssi. Aku belum mau
pulang.”

Lee Jeong-Su berdiri di samping mobil putihnya dan bertanya lagi, “Kalau begitu
kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu.”

Sandy menggeleng lagi. “Tidak usah. Kau pasti sibuk. Pergi saja dulu.”

Karena tidak bisa membujuk Sandy, Lee Jeong-Su akhirnya melambaikan tangan
dan masuk ke mobil.

Sandy memerhatikan mobil putih itu membelok di sudut jalan dan mengembuskan
napas. Ia berbalik dan mulai berjalan pelan. Karena teringat ponselnya yang tadi ia
matikan, ia merogoh tas dan menyalakan alat komunikasi itu segera setelah
menemukannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Halo?” katanya, menempelkan ponsel ke telinga.

“Ini aku,” ujar suara di seberang sana.

“Jung Tae-Woo ssi?” Sandy agak heran mendengar suara Jung Tae-Woo.

“Kau di mana sekarang?” tanya Jung Tae-Woo cepat.

“Aku… oh…” Sandy melihat sekelilingnya dan menyebutkan tempatnya.

“Tunggu di sana.” Lalu tanpa menunggu jawaban, Jung Tae-Woo langsung
memutuskan hubungan.

Sandy menatap ponselnya dengan bingung. Orang aneh. Tunggu di sini? Kenapa?
Dia mau datang?

Sandy sedang mempertimbangkan apakah ia harus menunggu sambil berdiri di tepi
jalan atau masuk lagi ke kafe ketika mobil merah berhenti tepat di depannya. Jendela
mobil itu diturunkan dan Sandy membungkukkan badan untuk melihat ke dalam. Ia
melihat Jung Tae-Woo yang berkacamata gelap seperti biasa duduk di balik kemudi.

“Masuk,” kata laki-laki itu singkat.

Sandy mendengus pelan mendengar nada memerintah dalam suara Jung Tae-Woo,
tapi ia masuk juga ke mobil.

“Kenapa cepat sekali datangnya? Tadi kau sedang ada di sekitar sini?” tanya Sandy
ringan ketika mereka sudah melaju di jalan.


Tae-Woo tidak menjawab, hanya bergumam tidak jelas.

“Kenapa mencariku? Kita harus berfoto?” tanya Sandy lagi sambil menatap teman
seperjalanannya yang entah kenapa agak aneh hari ini.

Sepertinya Jung Tae-Woo tidak bisa menahan emosi lagi karena ia mulai
menggerutu. “Aku mencoba menghubungimu dari tadi. Kenapa ponselmu dimatikan?
Bukankah Hyong sudah bilang padamu kau harus siap setiap saat kalau-kalau kami
menghubungimu?”

Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan jengkel. “Baiklah, aku minta maaf. Aku
memang baru mengaktifkan kembali ponselku. Tapi bukankah sekarang kau sudah
berhasil menghubungiku?”

“Kau tadi sedang apa sampai tidak bisa menjawab telepon?” tanya Jung Tae-Woo
sambil tetap menatap lurus ke jalan.

“Sedang bersama teman,” jawab Sandy, lalu mengalihkan pembicaraan. “Kenapa
kau mencariku? Kita mau ke mana?”

Sandy melihat Jung Tae-Woo agak ragu sesaat, lalu laki-laki itu berkata, “Aku
sampai lupa apa yang ingin kukatakan saking terlalu lamanya menunggumu. Tapi
sebaiknya kau menemaniku membeli sesuatu.”

“Beli apa?”

“Hadiah untuk penggemarku,” sahut Jung Tae-Woo sambil memandang Sandy
sebentar, lalu kembali menatap ke depan. “Untuk dibagikan dalam acara jumpa
penggemar Sabtu nanti.”

“Untuk semua orang?”

“Tidak, hanya untuk beberapa orang yang terpilih.”

“Ooh.” Sandy mengangguk-angguk. “Kenapa kau baik sekali? Kukira artis tidak
membeli sendiri hadiah untuk penggemarnya. Kupikir hal-hal semacam itu diurus
orang lain.”

“Aku lebih suka membelinya sendiri. Karena kebetulan kau tidak sibuk, kau bisa
membantuku.”

Sandy menoleh cepat. “Hei, siapa bilang aku tidak sibuk? Dua jam lagi aku harus
menemui Mister Kim. Lagi pula menurut perjanjian, kita hanya akan berfoto bersama.
Tidak pernah disebut-sebut soal aku harus menemani atau membantumu mengerjakan
apa pun.”

“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, kita anggap saja kesepakatan ini sama
dengan aku menawarkan pekerjaan untukmu. Kau tidak menolak. Jadi intinya, kau
sekarang bekerja untukku. Bukankah begitu?” kata Jung Tae-Woo sambil tersenyum.
“Soal Mister Kim-mu itu, tidak usah cemas. Kau akan bisa menemuinya tepat waktu.
Sudah kubilang aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sana.”


Sandy merasa tidak perlu memberitahu Jung Tae-Woo bahwa ia tadi bersama Lee
Jeong-Su. Bagaimanapun, masalahnya dengan Lee Jeong-Su adalah masalah pribadi
yang tidak ada hubungannya dengan Jung Tae-Woo maupun Park Hyun-Shik.
Ditambah lagi kenyataan bahwa pertemuan dengan Lee Jeong-Su tadi hanyalah
perbincangan singkat tanpa arti khusus.

Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan toko pakaian yang kelihatan mewah di
Apgujeong-dong, salah satu kawasan paling trendi di Seoul, dipenuhi restoran kelas
atas dan toko pakaian dari para desainer terkenal. Sandy tahu toko itu karena ia sering
melewatinya. Kadang-kadang ia berhenti dan mengagumi pakaian yang dipajang di
etalasenya, tapi tidak pernah sekali pun ia menapakkan kakinya di dalam toko itu. Ia
tidak perlu masuk ke toko itu untuk tahu bahwa harga barang yang dijual di toko itu
pasti mahal, sama seperti butik Mister Kim. Ia lebih suka berbelanja di Meyong-dong
yang sering disebut Ginza-nya Seoul, salah satu kawasan perbelanjaan yang populer.
Harga barang-barang di Myeong-dong memang tidak jauh berbeda dengan harga
barang di Apgujeong-dong, tetapi Sandy merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa
berbelanja di sana.

Sandy mencondongkan badan dan mengamati bangunan itu. “Hei, kau mau masuk
ke sana? Memangnya tidak apa-apa kalau kau dikenali orang? Lalu aku bagaimana?
Aku tidak ingin terlihat bersamamu.”

Jung Tae-Woo melepaskan sabuk pengamannya dan mendesah. Ia menatap Sandy
dengan kening berkerut, lalu berkata, “Aku ini bukan narapidana yang tidak boleh ke
mana-mana. Lagi pula apa gunanya jadi artis kalau tidak ingin dikenal orang?”

Sandy masih tidak berniat melepas sabuk pengamannya. “Oh, begitu? Kau merasa
senang kalau orang-orang mengenalimu, jadi histeris, lalu jatuh pingsan di
hadapanmu?”

“Orang-orang tidak akan pingsan begitu melihatku,” kata Jung Tae-Woo. “Kau
tenang saja. Aku kenal pemilik toko ini. Dia tidak akan banyak bertanya. Aku sering ke
sini dengan staf manajemenku. Soal dirimu… anggap saja kau salah satu anggota
stafku.”

Jung Tae-Woo membuka pintu, lalu mulai beranjak dari kursi ketika ia berhenti dan
menoleh ke arah Sandy lagi. “Tunggu dulu. Kau kan memang anggota stafku. Kau
bekerja untukku, bukan? Ayo, turun.”

Sandy mengangkat bahu, melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.





“Sebenarnya kau ingin beli apa?” tanya Sandy bingung. Ia melihat-lihat barang-barang
yang dijual di toko itu dan ia benar, harganya sama sekali tidak murah.


“Entahlah, aku belum tahu,” jawab Jung Tae-Woo sambil melepas kacamata
gelapnya. “Bagaimana kalau kau saja yang pilih. Ayo, kita naik.”

“Hei, Jung Tae-Woo!”

Sandy dan Jung Tae-Woo serentak menoleh ke arah seruan penuh semangat itu.
Ternyata suara itu milik laki-laki yang tampan sekali. Sandy merasa pernah melihat
laki-laki itu. Di mana ya? Ah! Di televisi. Laki-laki itu kan bintang iklan pakaian
olahraga. Tidak salah lagi.

“Apa kabar, Danny?” Jung Tae-Woo menyapa dan menepuk punggungnya.

Sandy menjauh dari sana dan membiarkan kedua laki-laki itu berbincang-bincang.
Kalau tidak salah, ia memang pernah dengar Jung Tae-Woo berteman baik dengan
Danny. Walaupun sudah berdiri agak jauh dan tersembunyi di balik rak pakaian, ia
masih bisa mendengar jelas pembicaraan kedua laki-laki itu.

“Hei, kauganti nomor ponselmu, ya?” Sandy mendengar Danny bertanya kepada
Jung Tae-Woo.

“Tidak. Kenapa?”

“Beberapa hari yang lalu aku meneleponmu, tapi yang menjawab wanita dan dia
bilang dia tidak kenal denganmu.”

Sandy menutup mulut dengan sebelah tangan. Ia ingat hari itu, hari ketika
ponselnya dan ponsel Jung Tae-Woo tertukar. Saat itu ia mengira orang itu salah
sambung. Sandy mengalihkan tatapan ke arah Jung Tae-Woo, penasaran bagaimana
jawaban pria itu.

“Kau pasti salah sambung. Nomor ponselku tetap seperti yang dulu,” katanya
tenang sambil tersenyum.

“Tidak mungkin salah sambung,” Danny bersikeras. “Tapi sudahlah, itu bukan
masalah. Kakakku terus menanyakan kabarmu. Katanya sudah lama kau tidak ke sini.”

“Maaf. Aku memang agak sibuk belakangan ini.”

Danny menatap Jung Tae-Woo penuh selidik. “Oh ya, aku baru ingat. Kenapa kau
tidak cerita padaku?”

Jung Tae-Woo mengangkat alis. “Tentang apa?”

“Pacarmu.”

Sandy menahan napas.

Jung Tae-Woo terlihat bingung. “Pacar? Pacar yang man—Aah, itu…”

Bagaimana sih? Sandy merasa kesal. Jung Tae-Woo selalu khawatir Sandy akan
membocorkan rahasia mereka, tapi sekarang ia sendiri yang hampir membongkar
semuanya.

Danny tertawa. “Masa kau lupa pacarmu sendiri?”


Jung Tae-Woo ikut tertawa. “Lain kali saja kuceritakan. Nah, itu ada yang
memanggilmu. Sudah, pergilah, tidak usah melayaniku.”

“Hei, tadi itu Danny yang bintang iklan itu ya?” tanya Sandy ketika Jung Tae-Woo
sudah berada di sampingnya.

“Mmm. Memangnya kenapa?” Jung Tae-Woo balas bertanya.

“Ternyata dia tampan sekali,” kata Sandy. “Aku tidak percaya aku bisa melihat
aslinya. Seharusnya tadi aku minta tanda tangan, siapa tahu Young-Mi mau.”

Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bergumam pelan. “Untuk temanmu atau…”

“Hm?”

“Ah, tidak…. Sudah memilih sesuatu?”

“Katanya kau ingin memilih sendiri,” protes Sandy, tapi Jung Tae-Woo sudah
berjalan pergi. Sandy membiarkan dirinya beberapa saat memandang sosok belakang
Danny yang menjauh, lalu membalikkan tubuh menyusul Jung Tae-Woo yang sudah
naik ke lantai dua toko itu.

“Ini tokonya?” tanya Sandy lagi setelah berhasil menyusul Jung Tae-Woo.

“Apa?” Jung Tae-Woo sibuk melihat-lihat aksesori yang dijual di sana.

“Maksudku, toko ini milik Danny?”

“Sebenarnya milik kakak perempuannya, tapi Danny sering ada di sini,” sahut Jung
Tae-Woo. Lalu ia tiba-tiba menoleh dan menatap Sandy dengan pandangan
menyelidik. “Kenapa tanya-tanya?”

Sandy membalas tatapan Jung Tae-Woo tanpa merasa bersalah. “Hanya ingin tahu.
Eh, kau kenal siapa lagi? Kenap mantan personel H.O.T? Shinhwa?”

Jung Tae-Woo mendesah keras dan berkacak pinggang. “Kalau nona besar tidak
lupa, kau di sini untuk membantuku memilih sesuatu!”

Sandy mencibir. “Oke, oke. Bagaimana kalau bros?” katanya sambil menunjuk
barisan bros cantik yang dipajang di kotak kaca.

“Aku sudah pernah memberikan bros untuk penggemarku dulu,” kata Jung Tae-
Woo.

“Aah, benar juga.” Sandy mengangguk-angguk sambil terus mengamati bros-bros
itu. “Waktu itu sudah pernah ya…”

Beberapa detik berlalu tanpa tanggapan, meski begitu Sandy merasa Jung Tae-Woo
sedang menatapnya. Sandy pun mengangkat kepala dan melihat ke arah laki-laki itu.
Ah, sepertinya ia keliru, Tae-Woo sedang memandang ke arah lain.

“Kau kenapa?” tanya Sandy.

Jung Tae-Woo menoleh dan menunjuk ke bagian topi. “Kita ke sana.”

Sandy mengikuti laki-laki itu, namun ketika ia melewati salah satu manekin,
langkahnya tiba-tiba terhenti. Mata Sandy tertuju pada syal panjang yang dipakaikan


pada manekin itu. Syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang kelihatan bagus sekali.
Sandy menjulurkan tangan dan menyentuh syal itu.

“Sedang apa kau di sini?” Tiba-tiba Jung Tae-Woo sudah berdiri di belakangnya.

Sandy menoleh ke belakang dan berkata, “Lihat syal ini. Bagus, kan?”

“Menurutmu bagus?” tanya Jung Tae-Woo.

Sandy mengelus-elus syal itu. “Tentu saja. Aku suka sekali motif dan warnanya.”

Jung Tae-Woo melepaskan syal itu dari manekin dan memakainya. Ia berjalan ke
cermin dan mematut diri. Sandy mengikuti dari belakang sambil menggerutu dalam
hati, kenapa jadi Jung Tae-Woo yang mencoba memakainya?

“Memang bagus,” Jung Tae-Woo mengakui. “Cocok untukku, bukan?”

Sandy ikut melihat bayangan Jung Tae-Woo di cermin dan harus mengakui pria itu
memang terlihat keren sekali dengan syal itu.

“Cocok. Kau bisa memakainya pada acara jumpa penggemarmu nanti,” usul Sandy
sambil mengalihkan pandangan.

“Boleh juga,” kata Jung Tae-Woo dan berputar dari cermin. “Lalu soal hadiah untuk
penggemar, kupikir sebaiknya mereka kubelikan topi saja. Bagaimana?”














































Lima









“BERUNTUNG sekali kita bisa dapat tiket ini. Tempat duduk kita di barisan paling
depan, lagi! Kau tahu tidak, tiketnya sudah habis terjual dalam setengah jam! Tapi
kurasa itu bukan berita aneh. Sudah empat tahun Jung Tae-Woo tidak mengeluarkan
album, makanya aku yakin albumnya kali ini pasti hebat,” kata Young-Mi sambil
mencium tiket masuk acara jumpa penggemar Jung Tae-Woo. “Apakah aku harus
menelepon Mister Kim dan mengucapkan terima kasih?”

“Ah, tidak usah. Aku sudah berterima kasih padanya,” sahut Sandy cepat-cepat.

Park Hyun-Shik memenuhi janjinya dan memberikan dua lembar tiket kepada
Sandy. Tentu saja Sandy langsung mengajak Kang Young-Mi dan karenanya ia harus
mengarang cerita tentang asal-usul tiket itu. Ia berkata pada Young-Mi bahwa Mister
Kim yang menghadiahkan tiket itu untuknya karena sudah menyelesaikan tugas
dengan sempurna. Yang benar saja! Kalau Mister Kim pernah sebaik itu pada orang,
namanya sudah pasti bukan Mister Kim. Tapi Young-Mi sama sekali tidak curiga
dengan cerita itu.

Mereka tiba di tempat acara jumpa penggemar diselenggarakan dan melihat ratusan
gadis remaja berkerumun di pintu masuk. Ternyata penggemar setia Jung Tae-Woo
banyak sekali. Mereka membawa spanduk-spanduk besar, balon, dan papan karton
yang bertuliskan nama Jung Tae-Woo. Sandy masih belum memahami kenapa orang-
orang itu begitu tergila-gila pada Jung Tae-Woo walaupun ia sudah menghabiskan
waktu bersama laki-laki itu seminggu terakhir ini. Ia bertanya-tanya apakah ia akan
merasa aneh melihat Jung Tae-Woo berdiri di panggung dan menyanyi.

“Kali ini mereka membatasi jumlah penonton,” celetuk Young-Mi. “Acara jumpa
penggemar yang sebelumnya jauh lebih ramai.”


Sandy mengalihkan pandangan dari kerumunan penggemar Jung Tae-Woo kepada
temannya. “Benarkah?”

Kang Young-Mi mengangguk tegas. “Tentu saja. Aku juga datang ke acara jumpa
penggemar yang dulu itu. Wah, yang datang banyak sekali. Kau tidak akan bisa
membayangkannya. Waktu itu aku sampai susah bernapas. Tidak heran kalau banyak
penggemarnya yang jatuh pingsan di acara itu, malah ada yang sampai meninggal.
Aku pernah cerita, kan? Kau ingat, Soon-Hee?”

Sandy mengangguk dan merenung. “Aku pernah dengar tentang kejadian itu, tapi
karena belum pernah menghadiri acara seperti ini, aku tidak tahu suasananya seperti
apa.”

Kang Young-Mi tersenyum dan menggandeng lengan Sandy. “Walaupun jumlah
penontonnya sudah dikurangi, aku yakin mereka tetap liar. Kau akan bisa merasakan
suasananya. Oh ya, Jung Tae-Woo masih ingat padamu, tidak ya?”

Sandy menatapnya kaget. “Maksudmu?”

Young-Mi mendecakkan lidah. “Bukankah waktu itu kau sempat ke rumahnya,
bahkan dia mengantarkanmu pulang? Hei, kauingatkan saja dia! Sewaktu acara
pembagian tanda tangan nanti, bilang kau pernah berjumpa dengannya. Setelah itu kita
pasti bisa mengobrol lebih lama. Ya? Ya? Kau harus menarik perhatiannya kepada
kita.”
“Apa? Bukannya sudah kubilang aku tidak mau orang-orang sampai tahu malam
itu aku bertemu dengannya?” sahut Sandy. “Aku tidak mau terlibat gosip semacam
itu.” Oh ya, ia tahu benar ucapannya ini bertolak belakang dengan keputusannya
membantu Jung Tae-Woo.

“Kalau begitu tidak usah terang-terangan. Kau bisa memberikan petunjuk-petunjuk
yang bisa membuatnya—“

“Hei, Kang Young-Mi! Sudahlah, kita masuk saja,” potong Sandy sambil cepat-cepat
menarik tangan temannya masuk ke gedung.





Acara dimulai dan Jung Tae-Woo muncul diiringi jeritan para penggemarnya. sandy
agak terperangah karena para penggemar jung Tae-Woo benar-benar penuh semangat
dan jeritan mereka mengagumkan. Young-Mi juga menjerit dan mengibas-ngibaskan
balon yang dipegangnya keras-keras. Melihat temannya seperti itu, Sandy jadi ikut
bersorak dan menjerit walaupun suaranya sudah jelas tidak terdengar di antara
lengkingan penggemar-penggemar lain yang lebih ahli dalam hal ini. Sandy melihat
Jung Tae-Woo berdiri di depan penonton sambil tersenyum lebar dan melambaikan


tangan. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket putih, celana panjang putih, juga syal
hitam-putih yang dibelinya bersama Sandy.

Kemudian Jung Tae-Woo mulai bernyanyi dan Sandy membiarkan dirinya
dipengaruhi para penggemar Jung Tae-Woo yang liar. Ia ikut berteriak-teriak dan
mengibas-ngibaskan balon seperti Young-Mi. Sandy mengakui suara Jung Tae-Woo
memang bagus, sehingga ia tidak sempat memikirkan apakah memang terasa aneh
melihat laki-laki itu di panggung.

Jung Tae-Woo menyanyikan lagu-lagu dari album barunya, diselingi perbincangan
singkat dengan para penonton. Para penggemarnya terus saja menjerit-jerit
kesenangan, bahkan tidak sedikit yang jatuh pingsan. Yang berikutnya adalah acara
pembagian tanda tangan. Sandy dan Young-Mi ikut antre.

Sandy melihat para penggemar satu per satu menjabat tangan Jung Tae-Woo dan
tersenyum bahagia, ada juga yang menangis saking gembiranya. Senyum ramah Jung
Tae-Woo tidak pernah lepas dari wajahnya. Kadang-kadang ia berbicara pendek dan
bercanda sebentar dengan beberapa penggemar. Sandy bertanya-tanya dalam hati
apakah laki-laki itu tidak merasa lelah.

Ketika giliran Sandy dan Young-Mi sudah hampir tiba, Sandy bisa mendengar
percakapan antara Jung Tae-Woo dan penggemarnya. Umumnya si penggemar akan
memuji penampilan dan lagunya, lalu Jung Tae-Woo akan berterima kasih dengan
sopan dan ramah sekali, setelah itu ia akan menanyakan nama si penggemar dan
membubuhkan tanda tangan di atas CD, poster, atau apa pun yang disodorkan
kepadanya.

Ketika akhirnya Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, laki-laki itu tidak terlihat
terkejut saat melihatnya. Sandy mencoba bersikap seperti kebanyakan penggemar Jung
Tae-Woo yang lain dan menyodorkan CD Jung Tae-Woo yang baru dibelinya tadi.

“Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu,” kata Sandy dengan menggebu-gebu. Ia tidak
memedulikan Young-Mi yang terus-menerus menyikutnya.

Ia mendengar Jung Tae-Woo terbatuk pelan dan membubuhkan tanda tangan di
sampul depan CD yang ia sodorkan. Kemudian dengan senyumnya yang biasa, ia
mengembalikan CD itu kepada Sandy. Sandy langsung meraih dan meremas tangan
Jung Tae-Woo yang menjulurkan CD, membuat laki-laki itu agak terperanjat.

“Terima kasih, Tae-Woo Oppa. Terima kasih. Aku cinta padamu,” serunya gembira.
Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah laki-laki itu.

Ketika berjalan kembali ke tempat duduknya, Sandy melihat Park Hyun-Shik
berdiri tidak jauh dari Jung Tae-Woo. Park Hyun-Shik juga melihatnya. Sandy
membungkukkan badan sedikit untuk memberi salam yang dibalas Park Hyun-Shik


dengan senyuman dan acungan jempol. Pasti paman yang satu itu sudah melihat
adegan kecil tadi.

Setelah acara tanda tangan selesai, pembawa acara mengumumkan Jung Tae-Woo
akan membagikan hadiah khusus kepada sepuluh penggemar.

“Wah! Dia mau membagikan hadiah! Apa ya?” Young-Mi begitu bersemangat
sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya.

“Topi,” jawab Sandy tanpa sadar.

Jung Tae-Woo yang berdiri di samping pembawa acara berkata ia akan
menghadiahkan sepuluh topi yang sudah dibelinya sendiri. Kepala Young-Mi langsung
menoleh ke arah Sandy.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.

Sandy menjadi serbasalah dan buru-buru berkata, “Cuma asal tebak. Biasanya artis
suka memberikan hadiah topi. Kalau bukan topi ya gantungan kunci atau bros.”

Young-Mi tersenyum. “Mungkin kau benar. Dulu dia pernah memberikan hadiah
bros untuk penggemarnya. Sayangnya waktu itu aku tidak kebagian.”

Topi-topi itu dibagikan kepada penggemar yang memenuhi syarat. Misalnya ketika
pembawa acaranya bertanya siapa yang membawa poster resmi Jung Tae-Woo yang
pertama, atau penggemar yang datang dari jauh, dan sebagainya. Ada juga yang dipilih
secara acak dengan melemparkan bola, dan barang siapa yang menangkap bola itu
akan mendapatkan hadiah. Semua orang bersenang-senang termasuk Sandy dan
Young-Mi.

“Nah, sekarang kami hanya punya satu topi terakhir,” kata pembawa acara yang
disambut jeritan para penggemar. Entah itu jeritan kecewa atau bahagia karena bagi
telinga Sandy jeritan penggemar Jung Tae-Woo terdengar sama saja.

“Itu punyaku!” seru Young-Mi sekeras-kerasnya, berusaha mengalahkan teriakan
penggemar lain sambil melambai-lambaikan kedua tangan ke arah si pembawa acara.

“Mungkin kalian ingat, sebelum acara dimulai kami meminta kalian menuliskan
nomor ponsel kalian pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak besar yang di
sana itu. Kalian tahu apa maksudnya?” tanya si pembawa acara.

terdengar gemuruh gumaman dari para penonton sementara mereka melihat ke
kanan-kiri dan bertanya-tanya.

“Saya akan menjelaskannya,” kata si pembawa acara lagi dan suasana pun menjadi
hening. “Begini, Jung Tae-Woo akan memilih salah satu nomor telepon di dalam kotak
itu secara acak dan dia akan menghubungi nomor telepon itu. Barang siapa yang
ponselnya nanti berbunyi, majulah ke depan, dan topi terakhir ini akan menjadi
miliknya. Sekarang kalian harus memegang ponsel kalian dan pastikan ponsel kalian
dalam keadaan aktif.”


Semangat para penonton melambung tinggi dan mereka sibuk mengeluarkan
ponsel mereka. Sandy merasa ia sudah menjadi penggemar fanatik karena ia juga
sedang memegang ponselnya penuh harap seperti Young-Mi.

“Sudah siap? Kita mulai ya?” seru Jung Tae-Woo yang disambut jeritan para
penggemar.

Ia memasukkan tangannya ke kotak besar itu dan mengaduk-aduk, lalu
mengeluarkan secarik kertas kecil. Para penggemar masih terus menjerit-jerit. Lalu Jung
Tae-Woo mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka flap-nya. Jeritan ribuan
penggemarnya semakin menjadi-jadi. Pembawa acara pun harus menenangkan para
penonton dengan berkata mereka tidak mungkin bisa mendengar dering telepon kalau
semua orang terus menjerit sepenuh hati seperti itu. Akhirnya suasana kembali hening,
kini hanya terdengar bisikan lirih di sana-sini.

Jung Tae-Woo menekan-nekan tombol ponsel sambil melihat kertas kecil di
tangannya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. Kertas kecil tadi dimasukkan
kembali ke kotak.

Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa begitu lama. Semua roang di
sana menatap ponsel mereka penuh harap. Tiba-tiba terdengar nada panggil.

“Astaga!” Sandy berteriak kaget ketika ponsel yang digenggamnya berbunyi
nyaring.

“Soon-Hee, ponselmu!” Young-Mi menjerit sambil tertawa histeris.

Para penonton mulai bersuara dan pembawa acara menyuruh Sandy berdiri dan
menjawab ponselnya.

“Nona yang memakai baju biru, coba dijawab dulu. Apakah benar yang menelepon
Jung Tae-Woo?”

Sandy sebenarnya tidak perlu menjawab karena di layar ponselnya muncul tulisan
“JTW”, nama yang disimpannya untuk nomor ponsel Jung Tae-Woo. Memang benar
Jung Tae-Woo yang meneleponnya, tapi Sandy tetap membuka flap ponsel dan
menempelkannya ke telinga. Walaupun suasana saat itu riuh sekali karena orang-orang
bersorak dan bertepuk tangan, ia masih bisa mendengar suara Jung Tae-Woo di telepon
yang berkata, “Hei, majulah ke depan.”

Young-Mi mencengkeram lengan Sandy dan mengguncang-guncang keras
tubuhnya. Sandy heran dari mana asal tenaga temannya itu. Akhirnya ia berhasil
membebaskan diri dari temannya dan maju dengan dikawal dua penjaga. Jantungnya
berdebar keras karena ini kali pertama baginya berdiri di depan orang banyak yang
terus bersorak dan menjerit. Ia bolak-balik membungkukkan badan ke arah para
penggemar juga kepada pembaca acara di panggung.


Ketika Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, ia menyadari baik Jung Tae-Woo
ataupun pembawa acara tidak memegang topi. Ia melihat si pembawa acara memberi
isyarat kepada salah seorang staf yang berdiri di pojok, tapi anggota staf itu
menggeleng.

Ada apa ini? Tidak ada topi? Sandy yakin mereka sudah membeli sepuluh buah dan
ia tadi menghitung ada sembilan topi yang sudah dihadiahkan. Pasti masih tersisa satu
topi. Jangan-jangan Jung Tae-Woo mau mempermainkannya.

Si pembawa acara terlihat bingung tapi mencoba bersikap tenang. Namun Jung Tae-
Woo tiba-tiba berkata, “Wah, sepertinya topi yang terakhir hilang. Saya benar-benar
minta maaf. Bagaimana ya?”

Para penonton terdiam dan Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan mata disipitkan.
Pandangan curiga. Kalau Jung Tae-Woo memang sedang mempermainkannya, ini
benar-benar tidak lucu. Ia sudah gugup sekali berdiri di bawah sinar lampu seperti ini
dan sekarang ia harus menerima permainan Jung Tae-Woo?

Si pembawa acara ikut menimpali, “Ya, maaf sekali. Sepertinya memang topi yang
terakhir hilang. Kami sedang mencarinya sekarang.”

Sandy merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam di depan semua orang. Ia
memutuskan sebaiknya ia kembali ke tempat duduknya. Ketika ia membalikkan tubuh,
Jung Tae-Woo menahannya.

“Tunggu dulu,” katanya sambil tersenyum meminta maaf. “Karena sudah tidak ada
topi, bagaimana kalau kuberikan ini saja?”

Jung Tae-Woo melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leher Sandy. Para
penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Sandy memandang syal bermotif kotak-
kotak hitam-putih yang sekarang melilit lehernya. Ia menyentuh syal itu dan
mendongak menatap Jung Tae-Woo dengan tercengang. Laki-laki itu sedang tertawa
dan tawa di wajah itu membuat Sandy akhirnya ikut tersenyum.





“Waah... kau beruntung sekali, Soon-Hee! Kau memang tidak mendapat topi, tapi kau
mendapat syal yang dipakainya. Aduh, aduh, jantungku... Kalau aku jadi kau, aku pasti
tidak akan bisa tidur malam ini,” kata Young-Mi antusias dalam perjalanan pulang dari
acara tadi. Mereka berdua duduk di barisan belakang bus yang tidak terlalu ramai.

“Ya, aku beruntung sekali,” kata Sandy menyetujui sambil tersenyum. Ia terus
memandangi syal yang melilit lehernya. Tadi ia sempat mengira Jung Tae-Woo sedang
mempermainkannya, tpai ternyata tidak begitu. Tadinya, kalau dugaan jelek Sandy
terbukti benar, ia berniat meninju Tae-Woo saat itu juga.


Tiba-tiba Young-Mi menegakkan punggung dan mencengkeram lengan Sandy.
“Tunggu dulu, Soon-Hee. Kau punya nomor telepon Jung Tae-Woo!”

Itu bukan pertanyaan dan Sandy hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung.

Young-Mi menepuk lengan Sandy dan berseru, “Tadi dia kan menghubungi
ponselmu dengan ponselnya, jadi artinya di ponselmu sekarang pasti masih ada nomor
ponselnya, kan?”

“Tidak!” bantah Sandy cepat-cepat. Apa yang harus dikatakannya? “Tadi... tadi
sewaktu aku kembali ke tempat duduk setelah menerima hadiah, Jung Tae-Woo sendiri
yang bilang ponsel itu milik salah satu anggota stafnya. Lagi pula, coba pikir, mana
mungkin Jung Tae-Woo bisa sembarangan membiarkan nomor ponselnya diketahui
orang tak dikenal?”

Young-Mi mengangguk-angguk. “Masuk akal juga.”

Sandy mengembuskan napas lega dan menggerutu dalam hati. Sepanjang
kesepakatan ini, Jung Tae-Woo sudah banyak membuat masalah sendiri, tapi justru
Sandy yang harus memperbaikinya. Mungkin laki-laki itu perlu ditinju.

“Hei, coba kulihat CD-mu yang ditandatangani tadi,” pinta Young-Mi sambil
mengeluarkan CD miliknya sendiri.

Sandy mengeluarkan CD-nya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada
temannya itu.

“Lihat, dia menulis „Untuk Kang Young-Mi... dari Jung Tae-Woo.,” kata Young-Mi
sambil menunjukkannya kepada Sandy. Ia memekik senang dan mengelus-elus kotak
CD-nya. Sandy hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan temannya. Kemudian
Young-Mi beralih membaca tulisan di sampul depan CD milik Sandy. “Untuk Sandy...
dari Jung Tae-Woo.” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sandy?”

Sandy langsung menoleh. “Kenapa?”

“Memangnya tadi kau memberitahunya nama Indonesia-mu, ya?” tanya Young-Mi.

“Oh, itu...” Sandy agak gelagapan. “Ya, sepertinya begitu.”

Young-Mi mengerutkan dahi dan menggeleng. “Tidak, tidak. Sepertinya kau
bahkan tidak menyebutkan namamu.”

“Masa sih?” ujar Sandy kaget. Ia mulai panik dan cepat-cepat memutar otak,
berusaha keras mengingat acara tanda tangan tadi.

Young-Mi meneruskan, “Aku berdiri tepat di belakangmu waktu itu. Kau hanya
bilang kau suka lagunya.”

Sandy ingat, tapi ia berusaha membantah, “Ah, tidak. Aku bilang „Apa kabar?
Namaku Sandy. Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu.. Aku yakin kok. Kalau tidak, dari
mana dia tahu namaku?”


Kenapa temannya yang satu ini pintar sekali sih? Untuk sesaat Sandy merasa takut
akan ketelitian Kang Young-Mi. Lama-kelamaan, kalau ia dan Jung Tae-Woo terus
melakukan kesalahan kecil seperti ini, ia akan kehabisan alasan.

Young-Mi berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Benar juga ya? Waktu itu berisik
sekali, jadi mungkin aku tidak mendengarnya. Sudahlah, tidak penting. Ngomong-
ngomong, lagu yang dinyanyikannya tadi benar-benar bagus ya?”





“Acara hari ini sukses sekali. Kuucapkan selamat untukmu,” kata Park Hyun-Shik. Ia
dan Tae-Woo sudah kembali ke kantor manajemen. Dengan lega ia menyandarkan
punggung ke kursi kerja dan menatap Tae-Woo dengan gembira.

Tae-Woo menoleh ke arah manajernya dan tersenyum. “Memang. Aku senang kita
bisa melewatinya dengan baik sekali, tidak seperti yang dulu.”

“Semuanya baik-baik saja, kau tidak usah cemas,” kata Park Hyun-Shik. Ia
mengembuskan napas dan berkata, “Aku tahu kau sengaja menelepon Sandy tadi.
Nomor yang tertera di kertas itu bukan nomor ponsel Sandy, kan?”

Tae-Woo tertawa. “Memang. Tadi aku berniat mengerjainya, tapi tidak jadi.”

Park Hyun-Shik ikut tertawa dan melonggarkan simpul dasinya. “Aku sudah
merasa aneh sewaktu kau memintaku menyimpan topi terakhir itu.”

Tae-Woo bangkit dari kursinya. “Hyong simpan di mana topi itu?”

Park Hyun-Shik mengeluarkan topi yang ditanyakan dari balik jasnya dan
melemparkannya kepada Tae-Woo.

Tae-Woo menangkap topi kain kuning itu dengan santai dan memandanginya. Ia
ingat ia dan Sandy sempat berbeda pendapat tentang topi kuning yang satu ini.
Menurut Sandy topi itu bagus, sedangkan menurutnya warna kuningnya terlalu
mencolok. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, topi kuning ini memang tidak jelek.

“Hyong aku pulang dulu,” katanya sambil melambaikan topinya.

“Ya, istirahat yang banyak. Minggu depan jadwalmu sangat padat,” Park Hyun-
Shik mengingatkan.




















Enam









PONSELNYA masih berdering. Sandy ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak.
Ia sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselnya. Dari Mister Kim. Hari ini hari
Minggu dan seharusnya Sandy tidak bekerja. Kenapa atasannya menelepon? Tapi
Sandy juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponnya
sampai laut mengering.

Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.

“Hha-lho...” Salah satu alasannya malas menjawab telepon adalah karena
tenggorokannya sedang sakit dan ia tidak bisa berbicara seperti biasa. Sekarang
suaranya nyaris seperti bisikan angin.

Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking. “Astaga, Miss Han.
Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku
harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk
Jung Tae-Woo, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali. Tidak ada yang sempat
membawakan pakaiannya. Tolong ya? Antarkan ke rumahnya. Kau tahu alamat
rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar,
ya... Mister Cha... MISTER CHA! Di mana kutaruh alamat Jung Tae-Woo? Tolong
carikan untukku. Miss Han, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim
alamat Jung Tae-Woo lewat SMS begitu kutemukan nanti. Kau bisa mengambil
pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss
Han, kau baik sekali. Bye-bye!”

Sandy mendengar telepon ditutup di ujung sana. Ia sama sekali tidak punya
kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, ia tidak akan bisa bicara banyak. Ia


menarik napas perlahan-lahan dan mengembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin
atasannya ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri.

Diktator, pikir Sandy dalam hati sambil melotot kepada ponselnya. Sebaiknya kau
menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja
untukmu.

Kata-kata ini sudah sering diucapkannya, tapi ia belum pernah benar-benar
mengajukan surat pengunduran diri. Walaupun Mister Kim orang yang aneh dan
seenaknya, Sandy merasa bisa belajar banyak darinya. Sejak kecil Sandy suka sekali
dunia fashion. Jadi, walaupun jalan tidak selalu lancar, ia senang bisa bekerja dengan
perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajarinya banyak hal.

Sandy meneguk teh panasnya lagi dan duduk meringkuk di tempat tidur. Hari
memang sudah siang, tapi ia masih segan bangun dari sana. Pagi tadi begitu ia bangun,
tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan
dan teriakannya kemarin di acara jumpa penggemar Jung Tae-Woo. Kemarin ia
memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang
diteriakkannya, ia sendiri juga sudah lupa. Ia hanya terus menjerit untuk meramaikan
suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!

Sandy baru saja akan terlelap kembali ketika ia teringat perintah Mister Kim. Sambil
mendecakkan lidah dengan kesal dan mengumpat-umpat dalam hati, ia bangun dan
berganti pakaian.





Sekitar satu setengah jam kemudian, Sandy sudah berdiri di depan pintu rumah Jung
Tae-Woo yang berada di kawasan perumahan mewah. Ia hanya bisa terkagum-kagum
dalam hati. Malam itu, ketika pertama kalinya datang ke sana, ia tidak begitu
memerhatikan sekelilingnya. Saat itu ia kan sedang frustasi. Sekarang Sandy baru bisa
melihat jelas bentuk rumah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi itu. Ia
membiarkan matanya berpesta sepuasnya.

Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas,
dan banyak jendela kaca. Sandy menyukai beranda di lantai dua. Ia mengangkat tangan
untuk menaungi mata dari sinar matahari dan mendongak memerhatikan rumah itu
dengan perasaan senang.

Lalu ia mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.

Selanjutnya terdengar suara Jung Tae-Woo dari interkom.

Sandy ragu. Ia berdeham, walaupun tindakan itu tidak membantu sama sekali,
memencet tombol interkom, dan menyebutkan namanya dengan suara serak.

“Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas,” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi.


Sandy mengulangi ucapannya sambil mengerutkan kening. Seharusnya Jung Tae-
Woo bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini
pasti dilengkapi kamera pengawas. Pasti. Kenapa laki-laki itu harus membuat
tenggorokannya bertambah sakit?

“Aku masih tidak mengerti apa yang kauucapkan. Tapi, baiklah. Masuk saja,
Sandy.”

Sandy memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Jung Tae-Woo sudah
tahu siapa yang berdiri di depan pintu.

Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, Sandy
melewati pagar besi yang terbuka secara otomatis, lalu mendorongnya sampai
menutup dengan kakinya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.

Jung Tae-Woo sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu mengenakan kaus
longgar kelabu dan celana panjang hitam. Rambutnya agak berantakan karena tidak
ditata. Sandy menyadari Tae-Woo menatapnya dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan
laki-laki itu kembali ke wajahnya. “Ada apa denganmu? Mana yang sakit?” tanya Jung
Tae-Woo tanpa basa-basi.

Sandy menunjuk lehernya.

“Sudah minum obat?” tanya Jung Tae-Woo lagi.

Sandy tersenyum dan mengangguk.

Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bertanya, “Kenapa kemari?”

Sandy mengacungkan pakaian-pakaian yang dibawanya. “Misther Kim... coba
pakhaian...”

Jung Tae-Woo mengibaskan tangan. “Astaga... Aku tidak tahan mendengar
suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk.”

Sandy berusaha berbicara, tapi lehernya terlalu menyiksa. Akhrinya ia menurut saja.
Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Jung Tae-Woo dalam keadaan seperti
ini. Tunggu saja sampai suaranya kembali seperti semula.

Di dalam rumah, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang
ditunjukkan Jung Tae-Woo.

Bagian dalam rumah itu ditata rapi sekali. semua perabot dan hiasan di dalam
rumah itu terkesan mewah. Setelah meletakkan pakaian di sofa terdekat, Sandy
mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan
wanita setengah baya. Sandy menduga mereka orangtua Jung Tae-Woo. Ada juga
beberapa foto Jung Tae-Woo sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.

Begitu asyiknya Sandy mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari
Jung Tae-Woo sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa tiba-tiba sakit tenggorokan? Kemarin bukannya biasa-biasa saja?”
tanyanya.

“Kemarinh... jhumpa pengghemar... menjerith,” Sandy berusaha menjelaskan
terpatah-patah.

Jung Tae-Woo tertawa. “Ah, jadi karena kemarin kau ikut menjerit-jerit? Anak
bodoh. Minum ini,” katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat
pekat.

Sandy menerimanya dengan bimbang.

“Tidak usah kuatir. Itu bukan obat bius. Minum saja dan sebentar lagi
tenggorokanmu akan membaik.”

Sandy menatap Jung Tae-Woo yang berjalan kembali ke dapur. Setelah dengan
ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, ia kembali melihat-lihat
sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada
di sana ketika pertama kali datang ke rumah itu. Sandy mengelus permukaan piano
tersebut dan membuka tutupnya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi ia
suka mendengarkan musik. Ia menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.

“Hei, jangan pegang-pegang sembarangan.”

Sandy mengangkat kepala dan melihat Jung Tae-Woo berjalan menghampirinya. Ia
melambai-lambaikan tangan menyuruh Jung Tae-Woo datang sambil menunjuk piano.

“Apa?” tanya Jung Tae-Woo bingung setelah berdiri di dekat piano.

“Mainhkhan,” Sandy berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti
sedang bermain piano.

“Kau mau aku main piano?”

Sandy mengangguk dan menarik Jung Tae-Woo supaya duduk di kursi piano.

Jung Tae-Woo duduk dengan enggan dan berkata, “Kau mau bayar berapa?”

“Appha?” tanya Sandy sambil menggerakkan dagu.

“Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?” Jung Tae-Woo mengulangi.

Sandy mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.

“Ya, ya. Aku mengerti,” kata Jung Tae-Woo.

Suara dentingan piano yang lembut mulai terdengar. Sandy berdiri di samping
piano, menopangkan dagu di atasnya sambil melihat jemari tangan Jung Tae-Woo
menari-nari di atas tuts piano. Ketika alunan nada yang dimainkan laki-laki itu
akhirnya berhenti, Sandy bertepuk tangan.

“Bagus sekali!” katanya, lalu memegang leher. “Eh, tenggorokanku sudah tidak
terlalu sakit lagi.”

Jung Tae-Woo tersenyum. “Sudah kubilang obatnya manjur.”

“Mainkan satu lagu lagi,” pinta Sandy.


Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel. Sandy merogoh saku celana dan
mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. Ia segera
membuka flap ponsel dan berjalan menjauh dari Jung Tae-Woo agar laki-laki itu tidak
mendengar pembicaraannya.

“Halo? Ada apa, Jeong-Su ssi?” Sandy berbicara dengan nada rendah. “Apa?
Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh...”

“Telepon dari Hyun-Shik Hyong, ya?” seru Jung Tae-Woo keras.

Sandy terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak
ada gunanya, Lee Jeong-Su sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.

“Soon-Hee, kau sedang bersama seseorang?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada
curiga.

Sandy membelalak kepada Jung Tae-Woo yang memasang tampang polos tak
berdosa, lalu berkata pelan, “Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?”

Sandy menutup ponsel dan berkacak pinggang. Jung Tae-Woo sudah gila ya? Kalau
memang Paman Park Hyun-Shik yang menelepon, Sandy kan tidak mungkin berbicara
dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!

“Jung Tae-Woo, kau ini kenapa? Kau mau orang-orang tahu tentang kita?” tanya
Sandy sambil menatap Tae-Woo yang bangkit dari piano.

Jung Tae-Woo kelihatannya tidak peduli. Ia hanya melewati Sandy dan berkata,
“Aku ke kamarku sebentar.”

Sandy memandangi sosok Jung Tae-Woo yang menaiki tangga dengan cepat, lalu
menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh! Sandy menggeleng dan kembali
melihat-lihat rumah Jung Tae-Woo. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis.
Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Ia sedang mengamati tongkat pemukul bisbol dengan perasaan heran ketika
mendengar ponselnya berbunyi lagi.

Siapa lagi? Jangan-jangan Lee Jeong-Su, katanya pada diri sendiri sambil melihat ke
kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselnya ia taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas
piano.

Ia berlari ke arah piano dan langsung membuka flap ponsel. “Halo?”

“Halo? Siapa ini?” tanya suara wanita di ujung sana.

Sandy mengerutkan dahi. Ia tidak mengenali suara wanita itu. Maka ia bertanya,
“Ini Han Soon-Hee. Anda ingin mencari siapa?”

Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, “Bukankah ini ponsel Jung Tae-
Woo?”


Sandy terkejut. Astaga! Lagi-lagi ia mengambil ponsel yang salah. Ia memutar
kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya tergeletak di meja makan.
Bagaimana ini?

“Oh... Benar, ini memang ponsel Jung Tae-Woo,” kata Sandy agak gugup. “Akan
saya panggilkan dia.”

Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. “Tunggu sebentar. Anda ini nona yang
ada di foto bersama Tae-Woo itu, ya?”

Sandy menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Jung Tae-Woo segera
muncul.

“Anu... saya...” Sandy sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak
pernah diberitahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang menanyakan
hubungannya dengan Jung Tae-Woo.

“Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah. “Aku ibu Jung Tae-Woo.”

Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuat Sandy panik.

“Ah, apa kabar, Bibi?” kata Sandy berusaha terdengar tenang meski sebenarnya ia
bergerak-gerak gelisah. Kemudian Sandy menutup ponsel dengan tangan dan berseru
memanggil Tae-Woo dengan suaranya yang masih sedikit serak. “Jung Tae-Woo ssi!”

Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sebentar lagi Jung Tae-
Woo ssi akan turun.”

Ibu Jung Tae-Woo tertawa pelan. “Senang sekali bisa mendengar suaramu
walaupun Tae-Woo belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang
namamu Han Soon-Hee, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?”

“Oh, saya tidak apa-apa.” Tepat pada saat itu ia melihat Jung Tae-Woo menuruni
tangga, ia cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.

“Jung Tae-Woo ssi sudah di sini. Silakan Anda bicara dengannya,” kata Sandy di
telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Tae-Woo.

Jung Tae-Woo menerima ponsel itu dengan bingung. “Siapa?”

“Ibumu,” bisik Sandy panik.

Tae-Woo mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon. “Halo, Ibu?” Lalu
tiba-tiba ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan Sandy bisa mendengar suara
ibu Jung Tae-Woo yang berteriak keras.

Akhirnya Jung Tae-Woo menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata,
“Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja
menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan kujelaskan kepada
Ayah nanti. Apa? … Dia?”

Sandy agak bingung ketika laki-laki itu menatapnya.

“Sebentar,” kata Jung Tae-Woo, lalu mengulurkan ponsel ke Sandy.


Sandy menatap Jung Tae-Woo dan ponsel itu bergantian.

“Ibuku mau bicara denganmu,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan ponsel ke
tangan Sandy. “Tidak apa-apa.”

Sandy menggigit bibir dan menatap Jung Tae-Woo. Kemudian ia menempelkan
ponsel itu ke telinga dan menyapa ibu Jung Tae-Woo. Ia mendengarkan perkataan
wanita yang lebih tua itu sebentar sambil mengangguk-angguk dan sesekali berkata
“baik” dan “saya mengerti”. Akhirnya ia mengucapkan “sampai jumpa” dan menutup
ponsel.

“Ibuku bilang apa?” tanya Jung Tae-Woo ketika Sandy mengembalikan ponselnya.

Sandy balas bertanya, “Apa yang kaukatakan pada ibumu tentang aku?”

“Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa,” kata Jung Tae-Woo. “Ayahku
melihat foto-foto kita di internet dan ibuku menelepon untuk menanyakan
kebenarannya.”

Sandy hanya mengangguk-angguk. “Oh, foto-foto kita ada di internet juga?”

“Lalu ibuku bilang apa padamu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.

Sandy tersenyum. “Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering
lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Katanya aku harus banyak bersabar kalau
menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan. Katanya sebenarnya kau
anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu
denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.”

Jung Tae-Woo mengerang. “Cerewet sekali. Kenapa ibuku begitu baik padamu?
Padaku tadi dia malah berteriak-teriak.”

Sandy mengangkat bahu. “Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau
tidak salah, ibumu penulis buku, ya? Aku pernah membaca salah satu bukunya dan
aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat.”

Jung Tae-Woo tidak mengacuhkan kata-kata Sandy dan bertanya, “Kenapa kau
menjawab teleponku?”

Sandy berdeham dan menjawab, “Kupikir ponselku yang berbunyi. Tadi kan
memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon
lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu.”

“Siapa yang menelepon?”

“Teman,” sahut Sandy sambil memalingkan wajah. “Oh, coba lihat. Sudah
waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?”

Jung Tae-Woo berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Kemudian ia
mengangkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja.”

“Hei, kau mau kita berdua dilihat orang? Kau mau membuat hidupku susah?”
tanya Sandy.


“Lalu bagaimana?”

“Kita pesan pizza saja,” usul Sandy cepat. “Sudah lama aku tidak makan pizza.
Oke?”

“Sakit tenggorokan malah mau makan pizza?” tanya Jung Tae-Woo. “Kau makan
bubur saja.”

“Tenggorokanku sudah sembuh,” protes Sandy.





“Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?”

Tae-Woo mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan
pizza di hadapannya itu dengan kaget. Lalu Sandy tertawa dan berkata, “Bercanda.
Tidak usah bingung begitu.”

Tae-Woo kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.

“Bulan lalu sewaktu kau ke Amerika, apakah kau pergi untuk mengunjungi
orangtuamu?” tanya Sandy sambil lalu.

“Bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke Amerika bulan lalu?” Tae-Woo balik
bertanya.

Sandy mengedikkan bahu. “Semua orang juga tahu,” katanya. “Di masa sekarang
ini, tidak ada yang bisa disembunyikan selebriti. Orang-orang punya banyak cara
untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis,
ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu
dan jam berapa kau tidur di malam hari.”

“Benarkah?” Tae-Woo tersenyum dan menambahkan, “Jadi menurutmu tidak ada
yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?”

Sandy terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, “Eh, ada,” kata Sandy tegas.

“Apa?”

Sandy tersenyum bangga dan menjawab, “Orang-orang tidak tahu kau
mengenalku.”

Ah, dia benar. Mereka berdua punya rahasia. Entah kenapa hal ini membuat Tae-
Woo senang.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Tae-Woo tiba-tiba.

Sandy menatapnya, menunggu kata-katanya.

“Aku ingin tahu siapa orang yang meneleponmu tadi,” kata Tae-Woo. Ia melihat
raut wajah Sandy berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, “Jangan katakan lagi dia
itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”

Sandy membuka mulut dan menutupnya kembali. Tae-Woo menyadari gadis itu
bimbang.


“Dia mantan pacarmu yang pernah kauceritakan?” tanya Tae-Woo hati-hati.

Sandy menarik napas panjang dan mengembuskannya. Lalu ia mengangguk.

Tae-Woo tiba-tiba merasa tidak bersemangat. Ia bertanya lagi, “Untuk apa dia
meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?”

Sandy mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak
ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu.”

Tae-Woo tidak menyadari suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa kau masih mau
menemuinya?”

Sandy sampai menatapnya heran. “Kurasa aku… aku… entahlah.”

Tae-Woo bisa melihat Sandy agak bingung menjawab pertanyaannya.

“Lagi pula… memangnya setelah berpisah harus bermusuhan?” kata Sandy
akhirnya.

“Sampai sekarang… kau masih menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja
dari mulut Tae-Woo tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang
menunggu jawaban gadis itu.

Sandy terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, “Mungkin.”

“Apa?”

Sandy menatapnya dengan agak bingung. “Mungkin,” katanya sekali lagi.
“Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah.”

Mendadak Tae-Woo merasa susah bernapas. Matanya tertuju ke meja tapi
tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong.

Lalu ia mendengar suara Sandy lagi. “Ini masalah pribadiku dan tidak ada
hubungannya denganmu dan Paman. Tidak perlu cemas. Aku berjanji tidak akan
mengatakan apa pun mengenai kalian berdua pada orang itu. Aku orang yang bisa
membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan.”

Tae-Woo tertawa masam. “Begitu?”

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Sandy tiba-tiba.

Tae-Woo menatap wajah gadis itu berubah serius, “Apa?”

Sandy tidak menatap Tae-Woo, tapi memandang pizza di tangannya. “Kejadian
empat tahun lalu… Bisa kauceritakan?”

Tae-Woo tertegun. Ia tidak menyangka Sandy akan menanyakan hal itu.

Sandy meliriknya sekilas dan menambahkan, “Aku hanya ingin mendengar
ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan.”

Entah kenapa Tae-Woo merasa agak gelisah. Sampai sekarang ia masih belum bisa
melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.

“Apa yang ingin kauketahui?”

“Semuanya.”


Tae-Woo menarik napas dalam-dalam. Pandangannya menerawang. Kata-katanya
meluncur pelan dan datar. “Saat itu acara sudah berakhir. Hujan turun. Aku sudah
berada di dalam mobil yang menunggu di pintu utama. Para penggemar masih
berkerumun di sekeliling mobilku. Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku
nyaris tidak bisa menjalankan mobil. Para petugas keamanan juga kewalahan
membuka jalan agar mobil bisa lewat. Akhirnya mereka berhasil menahan para
penggemar. Mobil pun mulai bergerak. Pelan, tidak cepat, karena aku masih
melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja.”

Tae-Woo mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu.

“Mobil direm mendadak. Ketika aku bertanya pada sopirku apa yang terjadi, dia
berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi
panik dan gadis itu cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Kami tidak diizinkan
melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat.

“Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kejadian sesungguhnya, tapi menurut
beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke
depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis
itu membentur aspal sehingga…”

Tae-Woo mendengar napas Sandy tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia
melihat gadis itu mengangguk kecil, meminta Tae-Woo melanjutkan cerita. Apa yang
ada dalam benak gadis itu? Tae-Woo ingin tahu.

Masih dengan agak enggan, Tae-Woo melanjutkan, “Kudengar gadis itu bukan dari
Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah
sakit karena ia langsung dibawa pulang entah ke mana. Kami hanya bisa
menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media.”

Sandy hanya diam.

“Bagaimana menurutmu?”

Sandy tersentak dari lamunan. “Eh, apa?”

“Bagaimana menurutmu?” ulang Tae-Woo.

“Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah.”

Tae-Woo menduga Sandy gugup karena tidak tahu apa yang harus dikatakan
setelah mendengar cerita itu. Tapi Tae-Woo merasa sikap itu lebih baik daripada
berpura-pura memahami perasaannya.














Tujuh









SUDAH hampir dua minggu berlalu sejak Sandy terakhir kali bertemu dan berbicara
dengan Jung Tae-Woo di rumah pria itu. Entah kenapa Sandy merasa serbasalah. Ia
ingin menghubungi Jung Tae-Woo, tapi tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia
ingin bertanya pada Paman Park Hyun-Shik, tapi tidak tahu apa yangakan
ditanyakannya.

Sandy berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus. Ia berjalan dari gedung ke gedung,
dari kelasnya ke perpustakaan, dari perpustakaan ke aula. Akhirnya ia berhenti di
halaman kampus, duduk di bangku panjang di bawah pohon. Ia mengeluarkan ponsel
dan menatap benda itu sambil menarik napas.

Kenapa dia tidak menelepon? Tapi memangnya kenapa dia harus menelepon?
Sandy menggeleng-geleng dan menarik napas lagi. Kenapa dia tidak menelepon?

Sandy tersentak karena mendengar suara Kang Young-Mi yang ternyata sudah
berdiri di belakangnya. “Apa?” tanyanya pada Young-Mi.

Young-Mi duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat ceria seperti biasa. “Tadi kau
bertanya kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang yang kaumaksud?”

Ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya. Ini berarti bahaya. Ia kenapa
sih?

“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa,” sahut Sandy sambil memaksakan tawa.

“Aku harap bukan Lee Jeong-Su,” kata Young-Mi sinis.

Sandy langsung mengibaskan tangan. “Bukan! Bukan dia.”

“Baguslah kalau bukan,” kata Young-Mi. Ia mengangkat tangan dan menarik napas
dalam-dalam. “Haaah… cuaca hari ini indah sekali!”

Sandy memandang langit, lalu melirik temannya dengan hati-hati. “Young-Mi,”
panggilnya.


Young-Mi menoleh. “Hm?”

“Album baru Jung Tae-Woo sudah diluncurkan, kan?”

Young-Mi mengangguk. “Benar, beberapa hari yang lalu. Memangnya kenapa?
Bukankah kau sudah punya? Kita kan sudah mendapatkannya sewaktu acara jumpa
penggemar itu.”

Sandy menggeleng. “Ah, tidak ada apa-apa.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
“Berarti Jung Tae-Woo akhir-akhir ini pasti sibuk sekali, ya?”

Temannya mengangguk sekali lagi dan berkata, “Tentu saja. Kudengar beberapa
waktu yang lalu dia sibuk syuting video klip. Belum lagi kenyataan dia harus tampil
dalam banyak acara untuk mempromosikan albumnya.” Young-Mi bertepuk tangan
gembira. “Kita akan sering melihatnya di televisi.”

“Begitu?”

Ternyata memang sedang sangat sibuk…

“Majalah-majalah juga banyak memuat artikel tentang dia,” Young-Mi
menambahkan penuh semangat. “Mereka membahas albumnya, lagu-lagunya, dan
mereka juga mulai mengungkit-ungkit soal kekasihnya.”

Sandy menatap temannya. “Apa yang mereka katakan?”

Young-Mi mengerutkan dahi. “Banyak, mereka bertanya-tanya oal keberadaan
wanita itu, identitasnya. Aku sendiri juga penasaran. Intinya, mereka tiba-tiba
meragukan apakah wanita itu benar-benar kekasih Jung Tae-Woo.”

“Kenapa mereka meragukannya?”

“Karena wanita itu tidak terlihat di media lagi sejak fotonya muncul. Bahkan
sekadar kabarnya tidak terdengar,” Young-Mi menjelaskan. “Mereka mulai berpikir
mungkin hubungan Jung Tae-Woo dan wanita itu sudah berakhir. Terus terang saja,
aku juga berharap itu benar. Oh ya, mereka juga mengungkit kejadian empat tahun
lalu.”

“Masalah yang…?”

“Benar. Yang kuceritakan waktu itu. Soal empat tahun lalu ketika ada penggemar
Jung Tae-Woo yang meninggal pada saat acara jumpa penggemarnya. Kau ingat?
Untung saja acara tahun ini lancar-lancar saja dan tidak ada kejadian buruk.”

Sandy menengadah memandang langit biru dan sibuk dengan pikirannya sendiri
sementara temannya terus bercerita. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sandy buru-buru
menjawab dan raut wajahnya berubah. “Oh, Jeong-Su ssi.”





Park Hyun-Shik duduk merenung di kantornya. Di meja terdapat beberapa majalah
yang terbuka pada halaman yang memuat artikel Jung Tae-Woo. Ia sudah menduga


akan ada kejadian seperti ini. Begitu album baru Tae-Woo keluar, orang-orang akan
sibuk membicarakan artis asuhannya itu. Bukan hanya lagu-lagunya, tapi segala gosip
yang berhubungan dengan Jung Tae-Woo, termasuk gosip tentang pacar misteriusnya.
Mereka bahkan kembali menyinggung-nyinggung kecelakaan empat tahun lalu, tapi
untungnya hanya sekilas, jadi seharusnya tidak apa-apa.

Park Hyun-Ship mengusap-usap dagu dan berpikir mungkin sudah tiba saatnya
mereka membutuhkan bantuan Sandy lagi. Kali ini, mau tidak mau gadis itu harus
bersedia menampakkan diri. Ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja dan
menekan beberapa tombol.

“Halo, Sandy. Apa kabar? Ini Park Hyun-Shik… Kau punya waktu sekarang? …
Bagus. Bisa datang ke kantorku? … Baik, sampai jumpa.”





“Seperti yang sudah kukatakan, sepertinya kami tidak cocok.”

Sandy memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di hadapannya itu dengan
perasaan lelah. Lee Jeong-Su tampak menyedihkan. Ia baru mengakui kepada Sandy
bahwa ia dan kekasihnya sedang bermasalah.

“Kami tidak cocok,” Lee Jeong-Su mengulangi kata-katanya dan menatap Sandy,
menunggu reaksinya.

Sandy tertawa pahit. “Dan kau baru tahu setelah hampir setahun bersamanya?”

“Kau masih marah?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada bersalah.

Sandy menarik napas. “Tidak juga,” katanya. “Marah juga tidak ada gunanya.”

“Tidak, kau berhak marah padaku,” Lee Jeong-Su bergumam pelan. “Aku memang
salah. Sekarang aku sadar.”

Sandy mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Sepertinya hubungan kami tidak bisa diteruskan lagi,” kata Lee Jeong-Su tegas.

Alis Sandy terangkat. Sesaat ia bingung, lalu ia mendengar ponselnya berbunyi.
Merasa lega karena tidak harus menanggapi apa yang baru saja dikatakan Lee Jeong-
Su, Sandy cepat-cepat membuka flap ponselnya.

“Halo?”

Ia kaget ketika mendengar suara Park Hyun-Shik di seberang sana. “Oh, apa kabar,
Paman? … Sekarang? Ya, aku sedang tidak sibuk… Aku akan ke sana sekarang…
Sampai jumpa.”

Sandy menutup ponsel dan memandang Lee Jeong-Su yang menatapnya dengan
pandangan menyelidik.

“Kau mau pergi sekarang?” tanyanya ketika melihat Sandy buru-buru
menghabiskan minumannya.


“Maaf, Jeong-Su ssi. Ada urusan mendadak. Aku harus pergi. Lain kali saja baru
dilanjutkan,” kata Sandy cepat-cepat, lalu bangkit dan keluar dari kafe itu.





“Kita akan pergi menemui Tae-Woo,” kata Pakr Hyun-Shik kepada gadis yang duduk
di hadapannya.

Sandy mengangguk. “Kami harus difoto lagi?”

“Benar,” Park Hyun-Shik mengiyakan. “Karena itu kita harus mengubah
penampilanmu. Kau tidak ingin sampai dikenali, kan?” Lalu Park Hyun-Shik bangkit
dari kursi dan meraih jas.

“Jadi kapan kita mulai bekerja?” tanya Sandy.

Pakr Hyun-Shik memandang Sandy dan berkata, “Sekarang juga.”

Sandy agak terkejut. “Oh, sekarang?” Ia belum merasa siap.

“Ya, ada masalah?” tanya pria itu sambil mengenakan jas dan memperbaiki posisi
dasi.

Sandy menggeleng. “Tidak.” Sepertinya mau tak mau ia harus mempersiapkan
dirinya saat ini juga.

“Ayo, kita pergi,” kata Park Hyun-Shik, mulai berjalan ke pintu. “Saat ini Tae-Woo
sedang diwawancara. Kita akan pergi ke lokasi wawancaranya, tapi sebelum itu kita
harus memberimu penampilan baru.”

Park Hyun-Shik merasa tidak enak karena harus menyembunyikan sesuatu dari
Sandy, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau Sandy tahu, kemungkinan besar ia tidak akan
bersedia diajak menemui Tae-Woo dan saat ini Park Hyun-Shik tidak punya cukup
waktu untuk meyakinkannya.

Ia membawa Sandy ke toko pakaian yang juga merangkap salon dan menyuruh
gadis itu mencoba beberapa pakaian. Ia tidak ingin Sandy terlihat cantik atau bergaya.
Ia ingin Sandy tampil sesederhana mungkin supaya tidak menonjol dan tidak ada
orang yang dapat mengenalinya. Ia juga menyuruh Sandy mencoba beberapa rambut
palsu, tapi tidak ada yang cocok di matanya. Akhirnya Park Hyun-Shik meminta
pegawai toko itu menyanggul rambut Sandy.

Dengan rambut yang disanggul, kemeja krem polos tanpa lengan dan rok polos
berwarna sama, Sandy terlihat seperti wanita yang lebih tua daripada usianya yang
sebenarnya. Persis seperti yang dibayangkan Park Hyun-Shik. Sebagai sentuhan
terakhir, ia mengulurkan kacamata berlensa kecokelatan yang bisa menyamarkan
wajah Sandy.

“Baiklah,” Park Hyun-Shik berkata puas. “Kita berangkat sekarang. Seharusnya
wawancara Tae-Woo akan selesai sebentar lagi.”


* * *



Jung Tae-Woo bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan
para kamerawan dan reporter yang mewawancarainya. Ia sedikit lelah, tapi ia tahu ini
sudah menjadi risiko pekerjaannya. Para wartawan tadi juga sempat bertanya tentang
hubungannya dengan kekasih misteriusnya, namun Tae-Woo hanya memberikan
jawaban samar. Ada juga yang mengungkit kejadian empat tahun lalu. Tae-Woo
berhasil menanggapinya dengan tenang, walau ia harus mengakui dalam hati
perasaannya masih agak resah bila diingatkan kembali tentang kejadian itu.

Tae-Woo dan beberapa anggota stafnya keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama
gedung tempat diadakannya wawancara tadi. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika
pandangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang wanita turun dari
mobil sedan putih. Tae-Woo tertegun sejenak, lalu ia mempercepat langkahnya,
mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri wanita itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.

Wanita itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Tae-Woo sekali lagi. Ia tidak menyangka bisa
bertemu Sandy di sini. Ia menatap Sandy tajam dan melihat pipi gadis itu agak
memerah.

“Itu… Paman yang menyuruhku ke sini,” Sandy mencoba menjelaskan dengan agak
bingung. “Kau tidak tahu? Katanya kita akan difoto.”

Tae-Woo menoleh ke belakang dan melihat kerumunan wartawan mulai
menghampiri mereka dengan cepat.

“Tidak,” jawabnya. “Ikut aku.”

Ia merangkul pundak Sandy dan berjalan menjauh ketika kilatan-kilatan lampu blitz
kamera mulai beraksi dan para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan.

“Jung Tae-Woo, siapa wanita ini?”

“Apakah dia wanita misterius di foto waktu itu?”

“Nona! Siapa nama Anda?”

“Apa hubungan kalian berdua?”

“Apakah Anda bisa memberikan sedikit komentar?”

Tae-Woo hanya mengangkat sebelah tangan dan menuntun Sandy ke mobilnya
yang diparkir tidak jauh dari sana. Ia membuka pintu mobil untuk Sandy sambil
berusaha menghalangi para wartawan mengambil gambar jelas gadis itu. Ia
memerhatikan Sandy terus menunduk dan menutupi wajah dengan sebelah tangan.
Tae-Woo cepat-cepat menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobilnya ke bagian


tempat duduk pengemudi. Sebelum masuk ke mobil, ia tersenyum dan melambaikan
tangan sekali lagi ke arah para wartawan.

Setelah mereka sudah agak jauh dari tempat itu, Tae-Woo melirik Sandydan
bertanya, “Kau baik-baik saja?”

Sandy melepaskan kacamata dan mengembuskan napas kesal. “Paman bilang kita
akan difoto. Difoto apanya? Ternyata begini… Ah, tapi benar juga. Kita memang difoto.
Oleh wartawan.”

“Jangan menyalahkan Hyong,” kata Tae-Woo. “Setidaknya Hyong sudah mengubah
penampilanmu sebelum menjebak kita.”

“Menurutmu mereka berhasil memotretku?” tanya Sandy ingin tahu.

“Sudah tentu,” sahut Tae-Woo sambil tersenyum. “Tapi kau tidak usah cemas.
Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kau adalah kau.”

Gadis itu menunduk memerhatikan penampilannya sendiri. Tiba-tiba ia bertanya,
“Tapi tadi kau langsung mengenaliku. Bagaimana bisa?”

Tae-Woo tidak tahu harus menjawab apa. TAdi ketika melihat seorang wanita turun
dari mobil Park Hyun-Shik, ia langsung tahu wanita itu Sandy. Kalau dipikir-pikir, ia
sendiri juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu yakin. Penampilan Sandy berbeda
sekali dengan biasanya, tapi tadi ia bahkan tidak memerhatikan penampilan gadis itu.
Ia hanya tahu wanita yang berdiri di sana Sandy.

“Terus terang saja, aku juga tidak tahu,” sahut Tae-Woo.

Sandy tersenyum, lalu bertanya, “Sekarang bagaimana? Kau mau ke mana?”

Tae-Woo melirik jam tangannya dan berkata, “Sekarang aku harus menghadiri
konser amal…”

Ponselnya berbunyi. “Sebentar.” Ia memasang earphone untuk menjawab. “Hyong,
ada apa? … Aku sedang di jalan… Begitu? Hyong yakin? … Baiklah.”

Ia melepaskan earphone dan menoleh ke samping. Sandy ternyata juga sedang
berbicara di telepon.

“Oh, Young-Mi, ada apa?” kata gadis itu dengan ponsel yang ditempelkan ke
telinga. “Aku? Aku sedang di jalan… Apa? Bukan, bukan bersama Jeong-Su ssi.” Tae-
Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas. “Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah…
Mm, nanti telepon aku lagi.”

“Sepertinya kau belum bisa pulang sekarang,” kata Tae-Woo setelah melihat Sandy
memasukkan ponsel ke tas tangannya.

“Kenapa?”

“Hyong menyuruhmu ikut denganku ke konser amal itu.”

“Kenapa?! Tidak mau.”


Tae-Woo melihat gadis itu agak cemas. “Tidak apa-apa,” katanya menenangkan.
“Kau hanya perlu hadir di sana. Selebihnya serahkan padaku. Hyong juga ada di sana.
Tidak akan lama.”

Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Sudah kubilang aku hanya akan berfoto
denganmu. Tidak lebih.”

Tae-Woo menarik napas. “Kau juga tahu tadi kita dikejar-kejar wartawan. Saat ini
mereka pasti sedang mengikuti kita. Apalagi mereka juga tahu aku akan pergi ke
konser amal itu. Kalau kau kuturunkan di tengah jalan atau di mana pun, mereka pasti
akan mengerumunimu. Kau mau begitu?”

Sandy tidak menjawab. Tae-Woo meliriknya dan melihat gadis itu menggigit bibir
dengan kening berkerut.

“Aku minta maaf atas semua kejadian hari ini,” kata Tae-Woo lagi. “Aku berjanji
akan mengantarmu pulang secepatnya.”

“Apa yang sudah kulakukan?”

Sandy mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, tapi Tae-Woo bisa mendengarnya.
Karena tidak tahu harus berkomentar apa, ia diam saja. Gadis yang duduk di
sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa lagi.





Kang Young-Mi baru saja selesai membantu ibunya mencuci piring. Jam makan siang
sudah lewat sejak tadi dan sekarang rumah makan milik keluarganya ini tidak begitu
ramai.

“Ibu, aku naik ya?” Young-Mi berseru kepada ibunya yang duduk di meja kasir,
lalu berlari menaiki tangga ke lantai atas tanpa menunggu jawaban.

Young-Mi segera menyalakan televisi karena sebentar lagi siaran langsung konser
musik amal akan ditayangkan. Ia membuka sebungkus keripik kentang dan berbaring
telungkup di lantai sambil bertopang dagu.

“Ah, ternyata sudah dimulai,” gerutunya ketika gambar muncul di layar televisi.
“Wah, yang datang banyak sekali.”

Di layar televisi terliaht artis-artis berjalan memasuki aula konser dan para reporter
sibuk mewawancarai artis-artis yang lewat. Lalu di layar televisi muncul wajah Jung
Tae-Woo.

“Oh, ternyata Jung TaeWoo juga datang ke konser itu!” seru Young-Mi pada dirinya
sendiri. “Dia ikut menyanyi juga ya?”

Kang Young-Mi memerhatikan idolanya dengan hati berbunga-bunga. Jung Tae-
Woo yang mengenakan turtleneck hitam dan jas cokelat muda itu terlihat tampan
seperti biasa dan ia terus tersenyum ramah ketika diwawancarai reporter.


“Jadi, Jung Tae-Woo, siapakah wanita yang tadi datang bersama Anda? Wanita
yang berdiri di sana itu? Kekasih Anda?” tanya si reporter sambil menyodorkan
mikrofon kepada Jung Tae-Woo.

Young-Mi melihat wanita berkacamata gelap yang berdiri agak jauh di belakang
Jung Tae-Woo. Wajahnya tidak terlihat jelas sehingga Young-Mi pun merangkak
mendekati pesawat televisi sambil memasukkan beberapa potong keripik ke mulut.

Jung Tae-Woo tertawa dan menoleh ke arah si wanita dan berpaling kembali kepada
si reporter.

Bagi Young-Mi, reaksi Jung Tae-Woo sudah menunjukkan jawabannya, dan
ternyata si reporter juga berpendapat sama. Tanpa menunggu jawaban Jung Tae-Woo,
si reporter bertanya lagi dengan nada menggoda, “Kenapa Anda tidak
memperkenalkan Nona itu kepada kami semua? Ayolah, kenapa harus malu?”

“Benar! Kenapa harus disembunyikan?” seru Young-Mi kepada gambar Jung Tae-
Woo di televisi.

Jung Tae-Woo masih tersenyum ketika menjawab, “Memang benar, tapi sebenarnya
dia agak pemalu. Dia bersedia datang hari ini juga karena saya yang memintanya.
Kalau tidak, dia sama sekali tidak akan datang.”

“Wah, gadis yang sombong. Soon-Hee harus melihat ini,” kata Young-Mi sambil
duduk bersila. Ia meraih telepon dan menghubungi nomor ponsel Sandy. Matanya
tetap mengawasi Jung Tae-Woo yang sudah beranjak pergi dari si reporter dan
menghampiri kekasihnya. Kamera memang sudah tidak difokuskan pada Jung Tae-
Woo karena sekarang ada artis lain yang sedang diwawancarai. Tapi Jung Tae-Woo dan
kekasihnya masih terlihat di bagian latar, walaupun tidak terlalu jelas.

“Han Soon-Hee, cepat angkat teleponmu sebelum Jung Tae-Woo dan kekasihnya
masuk,” kata Young-Mi gemas. Ia terus menatap Jung Tae-Woo dan kekasihnya di
televisi, seakan-akan kedua orang itu bakal lenyap kalau ia mengalihkan pandangan
sedetik saja.

Young-Mi melihat wanita itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya
sementara Jung Tae-Woo berdiri di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari
tasnya, lalu melakukan gerakan membuka dan menutup. Tepat pada saat itu nada
sambung di telepon Young-Mi terputus.

“Ah, anak aneh ini kenapa tidak menjawab teleponku? Tidak mau melihat pacar
Jung Tae-Woo?” gerutu Young-Mi sambil menekan nomor ponsel Sandy sekali lagi.
“Jangan-jangan dia masih di jalan ya?”

Young-Mi menatap layar televisi dan merasa lega karena Jung Tae-Woo dan
kekasihnya masih terlihat di sudut. Sambil menunggu Sandy menjawab telepon,


Young-Mi menyipitkan mata supaya bisa melihat lebih jelas Jung Tae-Woo dan
pacarnya. Kali ini wanita itu kembali merogoh tas.

“Ada apa dengannya? Kelihatannya sibuk sekali,” Young-Mi bertanya sendiri.

Wanita itu mengeluarkan sesuatu lagi dan menatap benda yang dipegangnya itu.

“Ponsel?” gumam Young-Mi tidak yakin sambil menyipitkan mata.

Wanita itu menatap tangannya, lalu menatap Jung Tae-Woo. Jung Tae-Woo terlihat
menggeleng-geleng, memberi isyarat supaya wanita itu melihat ke sekeliling, sambil
mengucapkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan karena akhirnya wanita itu terlihat
mengutak-atik benda yang dipegangnya.

Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Young-Mi terputus sekali lagi. Young-
Mi tertegun. Ia menatap layar televisi dengan mata terbelalak. Bungkusan keripik yang
sejak tadi dipeluknya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya terpaku pada layar televisi.
Ia melihat kekasih Jung Tae-Woo sedang menundukkan kepala dan mengutak-atik
sesuatu yang menurut Young-Mi ponsel, lalu memasukkannya kembali ke tas tangan.
Kemudian mereka berdua bergerak dan menghilang dari layar televisi Young-Mi.

Young-Mi menatap layar televisi dan telepon yang dipegangnya bergantian.
Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Sandy sekali lagi dan kali ini
ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon yang dituju sedang
tidak aktif. Young-Mi menutup telepon dan mengerutkan dahi.

“Apa yang kulihat tadi? Apa artinya ini? Hanya kebetulan? Kebetulan yang
aneh…,” gumam Young-Mi pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi bersemangat menonton
konser amal itu. Ia sibuk memutar otak, memikirkan apa yang baru saja ia lihat dan
alami. Ia tidak percaya dengan kemungkinan yang muncul di benaknya. “Ini tidak
mungkin. Tapi memang kalau dipikir-pikir…”





Seperti yang dikatakan Jung Tae-Woo sebelumnya, Sandy tidak perlu mengikuti acara
konser amal itu sampai selesai karena Tae-Woo punya jadwal lain yang sangat padat.
Begitu Sandy sudah menyelesaikan tugasnya, Park Hyun-Shik mengantarnya pulang
sementara Jung Tae-Woo menghadiri acara selanjutnya.

Ketika berjalan di sepanjang koridor menuju apartemennya, Sandy agak heran
melihat Kang Young-Mi berdiri di depan pintu gedung itu.

“Young-Mi, sedang apa kau di sini?” tanya Sandy sambil mempercepat langkah
untuk menghampiri temannya.

Young-Mi mengangkat wajah dan Sandy melihat mata temannya terbelalak kaget
ketika melihatnya. Lalu Young-Mi tersenyum aneh. “Ternyata tidak salah,” gumamnya.


“Mm? Kau bilang apa?” Sandy mengeluarkan kunci pintu dan memandang
temannya.

Young-Mi tersenyum dan menggeleng. “Tidak, aku sedang bicara sendiri. Ayo, kita
masuk dulu. Aku sudah capek berdiri sejak tadi.”

Sandy segera membuka pintu dan mengajak Young-Mi masuk. “Kenapa menunggu
di sini? Kau kan bisa menelepon dulu.”

Young-Mi melangkah masuk dan menjawab, “Ponselmu tidak aktif.”

Sandy menepuk dahi. “Oh, memang kumatikan tadi. Maaf.”

Kang Young-Mi berdiri di tengah-tengah ruang duduk dan mengamati Sandy dari
ujung kepala sampai ujung kaki.

Sandy merasa aneh diamati begitu. “Kenapa memandangiku seperti itu?”

“Pakaianmu,” gumam Young-Mi dengan pandangan penuh arti.

Sandy tersentak. Ia baru menyadari ia masih mengenakan pakaian yang diberikan
Park Hyun-Shik. Gaya rambutnya juga masih seperti tadi. Young-Mi pasti heran
dengan penampilannya yang seperti ini.

“Ah, ini?” Sandy berbalik memunggungi temannya dan pura-pura mencari sesuatu
di dalam emari es. Otaknya berputar cepat, mencari alasan yang masuk akal. “Biasa lah,
Mister Kim sedang melakukan percobaan baru. Katanya penampilan ini cocok
untukku. Tapi kurasa tidak begitu. Aku benar, kan? Eh, kau mau minum apa?”

Sandy memutar tubuh, kembali menghadap temannya. Young-Mi sudah duduk di
sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan temannya itu seakan bisa
menembus ke dalam hatinya. Sandy mulai gugup.

“Kau tahu,” Young-Mi membuka mulut, “tadi aku menonton acara konser amal di
televisi.”

Sandy merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya. Tidak
mungkin Young-Mi melihatnya. Ia sudah sangat hati-hati agar tidak disorot kamera.
“Aku melihat Jung Tae-Woo bersama kekasihnya,” Young-Mi melanjutkan dengan
nada tenang. Ia tersenyum kecil. “Anehnya, kekasihnya itu memakai pakaian yang
sama dengan yang kaupakai sekarang. Gaya rambut kalian juga sama persis.”

Baiklah, Sandy harus melakukan sesuatu. Ia tertawa dan berkata, “Lalu kau mengira
aku wanita itu? Young-Mi, kau ada-ada saja.”

Young-Mi mengangkat alis. “Benarkah, begitu? Sebenarnya aku juga tidak akan
berpikir wanita itu kau, Soon-Hee, kalau saja aku tidak meneleponmu saat itu. Aku
melihatmu di televisi. Memang tidak jelas, tapi aku melihat kejadiannya.”

Sandy ingat Young-Mi memang menghubungi ponselnya ketika ia berada di acara
konser amal. Ia tidak menjawab karena suasana di sana berisik sekali, semua orang
berbicara dan irama musik terdengar di mana-mana. Kalau ia menjawab, Young-Mi


akan mendengar bunyi berisik di latar belakang dan merasa curiga. Tae-Woo juga
berkata sebaiknya ia tidak menjawab telepon. Itulah sebabnya Sandy mematikan
ponselnya. Ternyata saat itu Young-Mi melihatnya di televisi.

“Ketika aku meneleponmu, kekasih Jung Tae-Woo secara kebetulan juga menerima
telepon. Ketika dia memutuskan hubungan, tepat pada saat itu nada sambung di
teleponku juga terputus,” Young-Mi melanjutkan. “Aku mencoba lagi dan melihat
wanita itu akhirnya mematikan ponselnya.”

Sandy tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia
gunakan. Ia sudah mengenal Kang Young-Mi selama bertahun-tahun dan tahu benar
temannya itu pintar dan berotak tajam. Mungkin saja saat ini Young-Mi sudah bisa
menduga sendiri. Sandy tidak bisa lagi menyembunyikan masalah ini darinya.

“Han Soon-Hee, kurasa sekarang waktunya kau memberitahuku apa yang
sebenarnya terjadi,” kata Young-Mi. “Aku sudah berpikir lama dan ingin tahu apakah
kenyataannya seperti yang kupikirkan.”





Suasana di salah satu toko buku terbesar di Seoul itu terlihat ramai sekali. Di depan
toko terpasang spanduk yang bertuliskan “Peluncuran Buku Salju di Musim Panas dan
Pembagian Tanda Tangan Choi Min-Ah”. Mungkin ini sebabnya kenapa buku yang
paling banyak dipajang di etalase toko itu adalah Saljut di Musim Panas karya Choi Min-
Ah. Para pengunjung toko masing-masing memegang buku tersebut sambil berdiri
berdesak-desakan sementara anggota-anggota staf toko bersusah payah mengendalikan
keadaan. Selain para pengunjung toko, beberapa wartawan juga tampak hadir di sana.

“Choi Min-Ah sudah datang?” seru seorang wanita berkacamata kepada salah satu
anggota stafnya yang sedang berbicara di telepon.

Anggota staf tersebut menutup telepon dan menjawab, “Katanya dia akan tiba
dalam dua puluh menit.”

Wanita berkacamata itu memegang kening dan mengembuskan napas. “Aku tidak
tahu apakah kita bakal mampu bertahan dua puluh menit lagi. Hei, semuanya sudah
siap di belakang sana? Aku ingin semuanya sempurna sebelum Choi Min-Ah
menginjakkan kaki di toko ini. Mengerti?”

Dua puluh dua menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam dan berjalan masuk ke toko buku sambil
tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun.

“Itu Choi Min-Ah! Cantik sekali! Lebih cantik daripada fotonya.”

“Katanya dia baru pulang dari Amerika.”

“Dia pulung khusus untuk menghadiri acara ini.”


“Dia kelihatan masih muda ya.”

“Kaulihat pakaiannya? Bagus sekali!”

“Aku sudah membaca semua buku yang ditulisnya.”

Choi Min-Ah menyalami wanita berkacamata yang adalah manajer toko itu,
kemudian berdiri di balik meja panjang yang sudah tersedia. Senyumnya yang tulus
dan menyenangkan masih tersungging di bibir.

“Apa kabar, semuanya?” Choi Min-Ah menyapa para pengunjung dengan suaranya
yang indah dan ramah. Para pengunjung pun membalas sapaannya meski dengan agak
kacau-balau. Choi Min-Ah tertawa kecil dan melanjutkan, “Saya baru saja turun dari
pesawat dan sepanjang perjalanan dari bandara saya merasa lelah sekali. Tapi begitu
tiba di sini dan mendapat sambutan sehangat ini, tiba-tiba saya merasa segar kembali.
Terima kasih banyak.”

Para pengunjung pun tertawa dan bertepuk tangan.

Setelah acara penandatanganan buku itu selesai, Choi Min-Ah mengizinkan para
wartawan mewawancarainya. Mula-mula para wartawan menanyainya tentang buku
barunya, tentang proses penulisan bukunya, tentang ide-idenya dan hal-hal teknis lain.
Sering berlalunya berbagai pertanyaan, para wartawan pun semakin berani karena
meliaht sikap Choi Min-Ah yang ramah dan terbuka.

“Nyonya Choi Min-Ah, bagaimana kabar suami Anda?”

“Dia baik-baik saja, masih terus membenamkan diri dalam not-not balok seperti
biasa,” jawab Choi Min-Ah ceria. “Kadang-kadang dia malah melupakan istrinya yang
cantik ini.”

“Lalu bagaimana kabar putra Anda?”

“Tae-Woo? Seharusnya dia baik-baik saja. Saya belum sempat meneleponnya. Dia
bahkan belum tahu saya ada di Seoul. Mungkin saya akan meneleponnya nanti,” sahut
Choi Min-Ah. “Tapi saya rasa Anda sekalian tentu sudah tahu dengan sangat jelas
keadaannya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan album barunya.”

“Kabarnya dia sudah punya kekasih. Apakah Anda tahu itu, Nyonya?”

Wajah Choi Min-Ah berseri-seri. “Ah, benar. Tentu saja saya tahu. Saya pernah
berbicara dengannya. Han Soon-Hee ssi itu gadis yang baik. Aku berharap hubungan
mereka akan berhasil.”
















Delapan









BEBERAPA hari sudah berlalu sejak Kang Young-Mi tahu tentang Sandy dan Jung
Tae-Woo. Sebenarnya Sandy ingin segera memberitahukan hal ini kepada Park Hyun-
Shik dan Jung Tae-Woo, tapi belum punya kesempatan untuk itu. Kedua laki-laki itu
begitu sibuk dan susah dihubungi. Kalaupun bisa dihubungi seperti sekarang, Jung
Tae-Woo sedang sibuk dan Sandy tidak bisa bicara banyak.

“Jung Tae-Woo ssi, sekarang kau sedang sibuk?” tanya Sandy di telepon.

“Aku? Sebentar lagi aku harus tampil. Ada apa?”

“Mm, setelah ini kau ada acara lagi?”

Jung Tae-Woo terdiam sejenak lalu berkata, “Sebenarnya tidak ada, tapi sesudah
acara ini selesai, aku harus pergi menemui ibuku. Oh ya, ibuku datang ke Seoul hari ini.
Baru tiba siang tadi. Aku sudah janji makan malam dengannya. Kenapa? Ada
masalah?”

Sandy cepat-cepat berkata, “Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja ada yang ingin
kubicarakan denganmu. Bukan masalah penting. Lain kali saja kita bicarakan.”

“Atau kau mau ikut makan malam bersama kami?” Jung Tae-Woo menawarkan.

“Kau gila?” Sandy berseru. “Sudahlah, tidak apa-apa. Kau makan saja dengan
ibumu.”

Jung Tae-Woo tertawa. “Baiklah, nanti kutelepon.”

Sandy menutup flap ponsel dan meletakkannya di meja ruang duduk. Ia
mengembuskan napas, meraih remote control, lalu menyalakan televisi.



* * *


“Jadi temanmu sudah tahu tentang kita?” tanya Park Hyun-Shik sambil mengusap-
usap dagu.

Sandy duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk. Jung Tae-Woo yang duduk
di sebelahnya hanya bisa duduk bertopang dagu. Mereka bertiga berkumpul di kantor
Park Hyun-Shik. Sandy baru saja selesai bercerita kepada kedua laki-laki itu tentang
Kang Young-Mi yang sudah tahu kesepakatan mereka.

“Jadi alasan kau meneleponku kemarin adalah karena ingin memberitahukan
masalah ini?” tanya Jung Tae-Woo.

“Ya. Maafkan aku,” gumam Sandy dengan kepala tertunduk.

“Bukan salahmu,” kata Jung Tae-Woo sambil mengibaskan tangan. “Siapa yang bisa
menduga temanmu bisa menelepon tepat ketika kau muncul di televisi?”

Park Hyun-Shik mendesah. “Tidak perlu merasa bersalah… Lalu apa yang
dikatakan temanmu?”

Sandy mengangkat wajah dan menatap Jung Tae-Woo serta Park Hyun-Shik
bergantian. “Yah, dia memang agak terkejut… Tapi dia teman baikku dan aku percaya
padanya. Dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa-apa.”

“Baiklah,” kata Park Hyun-Shik pada akhirnya. “Sepertinya kita tidak punya pilihan
lain selain percaya padanya.”

Mereka bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat
berlalu, kemudian kesunyian itu dipecahkan dering telepon di meja Park Hyun-Shik.
Park Hyun-Shik mengangkatnya.

“Apa? Siapa katamu?” katanya di telepon sambil menegakkan punggung dengan
satu gerakan cepat. “Baiklah.”

Ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Sandy memandangnya
dengan tatapan bertanya-tanya.

“Ada apa, Hyong?” tanya Jung Tae-Woo.

Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan berkata, “Ibumu ada di sini.”

Tepat pada saat itu pintu kantor Park Hyun-Shik terbuka. Sekretaris Park Hyun-
Shik muncul diikuti wanita cantik berpostur tinggi semampai.

Sandy terkesiap dan duduk mematung di tempatnya. Wanita itu Choi Min-Ah,
penulis buku terkenal. Ibu Jung Tae-Woo. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

“Ibu?” Jung Tae-Woo melompat dari kursi dan menghampiri ibunya dengan
ekspresi kaget. “Sedang apa Ibu di sini?”

“Oh, halo, Tae-Woo,” sapa ibunya riang. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik dan
menyalaminya. “Hyun-Shik, apa kabar? Senang sekali melihatmu lagi.”

Park Hyun-Shik tersenyum hangat dan berkata, “Saya juga senang bertemu Bibi
lagi. Maafkan saya karena kemarin saya tidak bisa makan malam bersama Bibi.”


“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kau memang sangat sibuk. Orangtuamu baik-
baik saja?” tanya Choi Min-Ah. “Sudah lama tidak bertemu mereka. Mereka masih di
Kanada?”

“Iya, mereka masih di sana. Ibu saya juga sering bertanya kapan bisa bertemu Bibi
lagi.”

Choi Min-Ah mengangguk. “Benar, kita harus berkumpul lagi. Aku ingin tahu
bagaimana kabarnya.”

“Ibu, kenapa Ibu datang ke sini?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil
menggandeng lengan ibunya.

Choi Min-Ah menoleh memandang anak laki-lakinya. “Oh, pesawatku baru akan
berangkat sore nanti, jadi aku ingin mengajak kalian makan siang bersamaku. Hyun-
Shik, kau tidak boleh menolak.”

Saat itu pandangan Sandy bertemu dengan tatapan penuh tanya Choi Min-Ah.
Wanita itu tersenyum dan Sandy membalas senyumnya dengan kaku.

“Nah, sebentar. Apakah ini Han Soon-Hee ssi?” tanya ibu Jung Tae-Woo.

Dengan kikuk Sandy menatap Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik bergantian, lalu
bangkit dari kursinya. “Apa kabar?” katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

“Tae-Woo, kau ini bagaimana? Kenapa tidak memperkenalkan kami?” kata Choi
Min-Ah sambil memukul pelan lengan anaknya.

Jung Tae-Woo tersadar dan menghampiri Sandy. “Ibu, ini Han Soon-Hee. Sandy, ini
ibuku.”

Choi Min-Ah mengerutkan kening dan mendecakkan lidah. “Perkenalan macam
apa itu?” Lalu ia memandang Sandy sambil tersenyum. “Senang sekali akhirnya bisa
bertemu denganmu, Soon-Hee. Kau tidak keberatan kalau kupanggil Soon-Hee saja,
bukan?”

“Tentu, tentu saja tidak,” kata Sandy cepat-cepat.

“Begini saja, bagaimana kalau kita berempat pergi makan siang? Kita bisa
mengobrol sambil makan. Soon-Hee, kau ada waktu, kan? Kau mau, kan?” bujuk ibu
Jung Tae-Woo ramah.

Sandy membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tidak tahu harus menjawab
apa. Apakah ia boleh makan siang bersama ibu Jung Tae-Woo? Atau sebaiknya ia
segera pamit dan pergi dari sana saja? Ia memandang kedua laki-laki yang sedang
berdiri tanpa suara itu, menunggu isyarat.

Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik berpandangan. Akhirnya Park Hyun-Shik
berkata, “Baiklah, Bibi. Saya juga sedang tidak punya jadwal kerja siang ini.”

Choi Min-ah bertepuk tangan. “Bagus sekali. Ayo, cepat. Kita mau makan di mana
ya?”


“Kau kenal ibunya?” tanya Park Hyun-Shik kepada Sandy dengan nada rendah
ketika ibu Jung Tae-Woo keluar duluan dari kantornya, meninggalkan mereka bertiga
di dalam.

Sandy merasa kesulitan, susah menjelaskannya. “Itu… waktu itu aku tidak
sengaja—“

Jung Tae-Woo menyela, “Hyong, nanti saja kujelaskan.Sebaiknya sekarang kita
segera menyusul ibuku.”





Awalnya Tae-Woo agak mencemaskan sikap ibunya terhadap Sandy, tapi sepertinya
kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena kedua wanita itu cepat sekali akrab.
Tampak jelas ibunya menyukai Sandy dan begitu juga sebaliknya. acara makan siang
itu berjalan ringan dan menyenangkan. Bahkan ketika ibunya menanyakan bagaimana
pertemuan pertama mereka, Sandy menjawab dengan lancar, “Jadi kalau Paman tidak
salah mengambil ponsel saya waktu itu, saya rasa saya tidak akan pernah bertemu
Paman maupun Jung Tae-Woo ssi,” kata Sandy.

“Wah, rupanya cinta pada pandangan pertama,” kata ibu Jung Tae-Woo penuh
minat.

Sandy tersedak dan Tae-Woo otomatis menyodorkan segelas air kepada gadis yang
duduk di sebelahnya itu. Park Hyun-Shik yang duduk berhadapan dengan Tae-Woo
hanya bisa menahan senyum.

“Oh ya, Soon-Hee, Hyun-Shik kan belum setua itu. Kenapa kau memanggilnya
„paman.?” tanya ibu Tae-Woo lagi sambil menepuk tangan Park Hyun-Shik yang
duduk di sebelahnya. “Hyun-Shik, kau hanya dua tahun lebih tua daripada Tae-Woo,
kan?”

Park Hyun-Shik membenarkan.

“Sepertinya saya sudah terbiasa memanggilnya begitu. Saya sendiri juga tidak tahu
kenapa, tapi mungkin karena penampilan dan sikapnya yang dewasa sekali,” jawab
Sandy.

Tae-Woo menyadari ibunya mengamati dirinya, lalu Park Hyun-Shik. “Benar juga,”
kata ibunya. “Hyun-Shik memang kelihatan lebih dewasa kalau dibandingkan Tae-
Woo. Tapi, Hyun-Shik, kenapa sampai sekarang kau masih sendiri? Bagaimana kalau
kusuruh Soon-Hee mencarikan gadis untukmu?”

Sementara ibunya mendesak Park Hyun-Shik, Tae-Woo mendengar dering ponsel.
Ia meraba saku jasnya, tapi lalu berpaling kepada Sandy. “Punyamu.”

Sandy merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar ponsel sekilas.
Sambil berdeham pelan, ia membuka dan langsung menutup flap ponselnya. Beberapa


detik kemudian ponselnya berbunyi lagi. Tae-Woo menoleh ke arah Sandy dan
mendapati gadis itu sedang mencopot baterai ponselnya.

“Dia lagi?” tanya Tae-Woo setelah Sandy memasukkan ponsel dan baterai ke dalam
tas.

Sandy tidak menjawab, hanya memandangnya sambil tersenyum samar.

“Kenapa tidak dijawab?”

“Kemungkinan besar dia akan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Seperti
biasa.”





Lee Jeong-Su menutup ponselnya dengan kesal dan berdiri di tepi jalan dengan
perasaan tidak menentu. Rupanya Sandy tidak mau menjawab teleponnya. Ia
mengangkat tangan kirinya yang sedang memegang tabloid hiburan yang memuat foto
Jung Tae-Woo bersama wanita dengan kacamata hitam dan rambut disanggul. Di
bawah foto itu ada foto lain yang juga memperlihatkan Jung Tae-Woo berdiri dekat
sekali dengan si wanita misterius, tapi kali ini wanita itu bertopi merah dengan rambut
dikepang. Di bawah foto itu ada tulisan besar-besar “IDENTITAS KEKASIH JUNG
TAE-WOO”.

Artikel kecil itu sudah dibacanya berkali-kali dengan perasaan tidak percaya, tapi
Lee Jeong-Su ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia pun membaca kembali artikel itu
dengan hati-hati. Matanya terhenti pada kalimat yang menyatakan wanita misterius
yang menjadi kekasih Jung Tae-Woo akhirnya diketahui bernama Han Soon-Hee.

Han Soon-Hee.

Mata Lee Jeong-Su kembali menatap foto-foto itu. Tidak salah lagi. Semakin
diperhatikan, wanita di foto itu memang mirip sekali dengan Soon-Hee. Benarkah itu?
Inilah yang ingin ia tanyakan pada Soon-Hee, tapi gadis itu tidak mau menjawab
teleponnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Lee Jeong-Su tidak mengerti kenapa
hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa kesal dan gelisah. Ia harus terus berusaha
menghubungi Soon-Hee sampai berhasil mendapatkan penjelasan dari gadis itu. Kalau
perlu, ia akan pergi ke rumah Soon-Hee dan menunggunya di sana.





Kang Young-Mi mendecakkan lidah dengan geram. Sejak tadi ia mencoba
menghubungi ponsel Soon-Hee, tapi anak itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ke mana
dia?

Young-Mi menatap majalah di tangannya. Ia mengerutkan dahi. Apakah Soon-Hee
sudah tahu tentang ini? Sepertinya belum. Kalau sudah tahu, Soon-Hee pasti akan


meneleponnya. Apakah anak itu sedang bersama Jung Tae-Woo? Kalau begitu
seharusnya dia sudah tahu.

“Young-Mi, di mana majalan yang baru Ibu beli tadi?” tanya ibunya tiba-tiba.

Young-Mi tersentak kaget dan berusaha menyembunyikan majalah itu. “Oh?
Majalah yang mana?”

Ibunya berkacak pinggang. “Yang sedang kausembunyikan di balik punggungmu
itu. Sini.”

Young-Mi tidak bisa berbuat apa-apa sementara ibunya mulai membuka-buka
majalah itu. Jantungnya berdebar keras. Ia sangat berharap bakal ada tamu yang datang
ke restoran mereka, karena dengan begitu ibunya akan sibuk untuk sesaat, memberinya
kesempatan menyembunyikan majalah itu. Tapi harapannya tidak terkabul. Tidak ada
tamu yang datang dan ibunya terus asyik membaca gosip artis.

“Astaga!”

Ini dia yang sudah ia takutkan sejak tadi.

“Hei, Young-Mi, lihat ini!” Ibunya mendorong majalah itu ke arahnya.

“Ada apa?” Young-Mi berpura-pura tidak tahu.

“Lihat ini! Ini Soon-Hee, bukan? Soon-Hee temanmu itu?”

Young-Mi melihat majalah itu sekilas dan mendorongnya kembali kepada ibunya.
“Ah, Ibu. Mana mungkin itu Soon-Hee. Masa Soon-Hee pacaran dengan artis terkenal?”

Ibunya tetap ngotot. “Tapi di sini ditulis namanya Han Soon-Hee.”

Young-Mi berkata dengan tidak sabar, “Bisa saja namanya sama. Banyak orang
yang bernama Han Soon-Hee.”

Ibunya terdiam sejenak. Young-Mi melirik ibunya untuk melihat bagaimana
reaksinya. Ibunya mengamati foto-foto di majalah itu dengan kening berkerut. Ini
gawat, ibunya terlalu cerdik untuk dibohongi.

“Tidak, ini memang Han Soon-Hee temanmu,” kata ibunya pasti. “Memang
wajahnya tidak jelas, tapi lihat tulang pipinya dan senyumnya. Ibu yakin seyakin-
yakinnya ini Han Soon-Hee yang kita kenal. Kau mau bertaruh dengan Ibu?”

Young-Mi tidak menjawab. Sepertinya ibunya juga tidak menginginkan jawaban
karena ibunya tidak memandangnya.

“Ternyata dia pacaran dengan Jung Tae-Woo si penyanyi itu, ya…?” gumam ibunya
sambil terus memerhatikan foto-foto dalam majalah. “Bagaimana bisa? Kau sudah tahu
tentang ini, Young-Mi?”

Mata Young-Mi bertemu pandang dengan ibunya, ia lalu cepat-cepat berkata,
“Mana aku tahu? Tidak, aku tidak tahu apa-apa.”



* * *


Jung Tae-Woo merasa senang siang itu. Perasaannya ringan sekali selama makan siang
tadi. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka berempat selesai makan
siang dan keluar dari restoran, tiba-tiba saja begitu banyak orang mencegat mereka.
Para wartawan mulai berebut mengajukan pertanyaan dan kamera-kamera diarahkan
kepada mereka.

“Jung Tae-Woo, benarkah ini Han Soon-Hee, kekasih Anda?”

“Anda berempat sedang apa di sini, Jung Tae-Woo?”

“Nyonya Choi, apakah Anda baru bertemu Han Soon-Hee ssi?”

“Ada komentar, Han Soon-Hee ssi?”

Tae-Woo tidak bisa mendengar kata-kata lain karena semua orang berteriak
bersamaan. Ia merasakan Sandy membeku di sampingnya. Ia memahami perasaan
gadis itu, ia sendiri juga sangat terkejut karena mendadak harus berhadapan dengan
kerumunan wartawan seperti ini. Dan dari mana mereka tahu nama Sandy?

Suasana menjadi kacau. Park Hyun-Shik berusaha menenangkan para wartawan
yang tidka henti-hentinya memotret. Ibu Tae-Woo ikut kebingungan, tapi tetap bisa
bersikap tenang. Sandy hanya bisa menunduk. Secara otomatis, Tae-Woo menarik
Sandy ke belakang punggungnya. Ia menyadari tubuh gadis itu tegang.

Tepat pada saat itu mobil mereka sudah diantarkan ke depan restoran. Tae-Woo
segera merangkul pundak Sandy dan menuntunnya menerobos kerumunan wartwan.
Sandy dan ibunya berhasil masuk ke mobil. Lalu ketika Tae-Woo ikut masuk dan
duduk di samping kemudi, Park Hyun-Shik sudah menyalakan mesin mobil.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Park Hyun-Shik ketika mereka melaju di jalan
raya.

Tae-Woo tidak menjawab. Ia memutar tubuhnya dan memandang Sandy yang
duduk di belakang bersama ibunya. “Kau tidak apa-apa?”

Sandy tidak kelihatan sehat. Wajahnya agak pucat, tapi ia memaksakan seulas
senyum. “Ya.”

“Bagaimana mereka bisa tahu nama Sandy?” Tae-Woo bertanya kepada
manajernya.

Park Hyun-Shik menatapnya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan
raya. “Entahlah.”

“Kalian belum memberi keterangan lengkap tentang Soon-Hee pada wartawan,
ya?”

Tae-Woo memandang ibunya yang tampak sangat gelisah. “Belum. Memangnya
kenapa, Bu?”

Ibu Tae-Woo agak salah tingkah ketika menjawab, “Sepertinya Ibu yang telah
membocorkannya kepada wartawan.”


Tae-Woo hanya bisa mendengarkan dalam diam sementara ibunya menjelaskan apa
yang terjadi saat wawancara di toko buku. Park Hyun-Shik tidak berkomentar. Sandy
juga hanya duduk di sana tanpa suara.

“Maafkan Bibi, Soon-Hee. Bibi tidak sengaja. Bibi tidak tahu kalian tidak ingin
orang-orang tahu.”

Sandy tersenyum lebar menenangkan wanita cantik itu. “Tidak apa-apa, Bibi. Bukan
masalah besar. Lagi pula cepat atau lambat mereka akan tahu juga.”

Tae-Woo menduga Sandy sebenarnya risau, hanya saja ia tidak mau
menunjukkannya karena takut ibunya merasa bersalah.

“Benar, ini bukan masalah besar,” kata Park Hyun-Shik memecah kesunyian.
“Sekarang yang penting kita antar Sandy pulang dulu, lalu kita ke bandara untuk
mengantar Bibi.” Ia memandang ibu Tae-Woo melalui kaca spion. “Bibi tidak usah
khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”





Ketika mereka tiba di gedung apartemen Sandy, Tae-Woo mengantarnya sampai ke
depan pintu apartemennya.

“Oke, aku sudah sampai,” kata Sandy di depan pintu apartemen. “Pergilah. Kau
masih harus mengantar ibumu ke bandara.”

Tae-Woo menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu. Walaupun Sandy
tersenyum, Tae-Woo bisa melihat senyum itu bukan senyum ceria yang biasa.

“Apa yang kaupikirkan sekarang?” tanya Tae-Woo.

Mata Sandy tampak menerawang. Ia menarik napas dalam-dalam dan
mengembuskannya pelan. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Banyak sekali yang kupikirkan
sampai-sampai aku sendiri bingung.”

Tae-Woo tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu karena sepertinya gadis itu
masih ingin berkata-kata.

“Semua orang sudah tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Sandy,
lebih kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba matanya melebar dan ia menatap cemas Tae-
Woo. “Orangtuaku. Mereka pasti juga akan tahu. Apa yang harus kukatakan pada
mereka?”

Tae-Woo tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tiba-tiba, saat
itu juga, ia sangat yakin akan satu hal. Ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya
itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri
karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.

Perlahan ia maju selangkah dan memeluk gadis itu. Sandy tidak menghindar. Entha
kenapa Tae-Woo merasa segalanya tepat seperti seharusnya ketika gadis itu dalam


pelukannya. Seluruh rasa lelah seolah mengalir keluar dari tubuhnya. Ia ingin sekali
terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Sandy selamanya.

“Tidak usah dipikirkan,” kata Tae-Woo pelan. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah
padaku.”

Aku akan pastikan kau tidak mendapat masalah….

Ia melepaskan pelukannya dan menatap Sandy. Sandy menarik napas dan
tersenyum kecil.

“Aku tahu,” kata Sandy sambil mengangguk tegas. “Aku bisa mengatasinya. Kau
pergilah.”

Tae-Woo menunggu sampai Sandy masuk ke apartemen sebelum berbalik pergi. Ia
berjalan menuju lift tanpa menyadari ada pria berpostur tinggi besar sedang
memerhatikan kepergiannya tidak jauh dari sana.





Sandy menutup pintu apartemen dan menarik napas panjang. Ia melemparkan tasnya
ke kursi lalu duduk di lantai.

Kenapa bisa begini? Acara makan siang yang menyenangkan berubah menjadi
kekacauan. Sandy tidak bisa menggambarkan perasaannya ketika ia keluar dari
restoran dan tiba-tiba berhadapan dengan segerombolan wartawan yang tidak henti-
hentinya menjepretkan kamera, meneriakkan namanya, dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan. Seakan kejadian yang dialaminya tadi tidak nyata, seperti mimpi.

Apa yang harus ia lakukan? Apa yang sudah ia lakukan?

Mungkin sejak awal seharusnya ia tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo. Namanya
kini sudah tersebar dan mungkin besok wajahnya akan terpampang jelas di tabloid-
tabloid. Sebenarnya hanya satu hal yang mencemaskannya, yaitu reaksi orangtuanya.
Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada orangtuanya?

Sandy meraih tas dan mengeluarkan ponsel. Baterai ponsel itu masih belum
dipasang. Ia menatap ponselnya. Apakah ia harus menelepon orangtuanya? Kalau
orangtuanya tahu, mereka pasti tidak akan tinggal diam, apalagi ibunya. Meski ia
menjelaskan bahwa semua itu tidak benar dan sesungguhnya ia sama sekali tidak
punya hubungan apa pun dengan Jung Tae-Woo, ia yakin keadaannya tidak akan
berbeda.

Jung Tae-Woo. Pikiran Sandy kembali melayang ke saat ia berada dalam pelukan
laki-laki itu. Ketika Jung Tae-Woo memeluknya, waktu seakan berhenti berputar.
Ketika Jung Tae-Woo mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia benar-benar
percaya. Ketika Jung Tae-Woo melepaskan pelukannya, keyakinan diri itu hilang lagi.
Kenapa begini?


Jung Tae-Woo. Sandy tidak sepenunya jujur pada laki-laki itu. Apakah ini adil
baignya? Sandy bangkit dan menghampiri lemari kecil di samping televisi. Ia membuka
lemari itu dan mengeluarkan kantong ungu kecil yang terbuat dari kain beludru. Ia
membuka ikatan kantong itu, merogohnya dan mengeluarkan bros berbentuk hati
berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan. Sandy menatap bros di telapak
tangannya itu sambil berpikir. Sejak awal ia seharusnya tidak boleh terlibat dengan
Jung Tae-Woo. Andai saja ia menolak…

Tapi saat itu ia benar-benar ingin tahu.

Apakah sekarang ia sudah mendapatkan jawaban?

Bel pintu berbunyi, menarik pikiran Sandy kembali ke alam sadar. Sandy berjalan
tanpa suara ke pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ia melihat wajah Lee
Jeong-Su. Lagi-lagi dia. Sandy tidak ingin bicara dengannya, terlebih lagi saat ini.

Lee Jeong-Su mengetuk pintu dan berkata, “Soon-Hee, buka pintunya. Aku tahu
kau ada di dalam.”

Sandy mengerutkan kening. Ia tetap tidak bergerak dari balik pintu.

“Kita harus bicara, Soon-Hee,” kata Lee Jeong-Su lagi. “Aku akan terus menunggu
di sini sampai kau mau membuka pintu.”

Sandy mendengus pelan. Terserah saja, katanya dalam hati. Kau mau menunggu
sampai besok? Silakan. Ia membalikkan tubuh dan berjalan ke tempat tidur.








































Sembilan









JAM dinding menunjukkan pukul 00:52 ketika Tae-Woo tiba di rumah. Ia
melemparkan kunci mobil ke meja dan mengempaskan tubuh ke sofa. Ia mengusap
wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah mengantar
Sandy pulang siang tadi, ia dan Park Hyun-Shik langsung mengantar ibunya ke
bandara. Setelah itu Tae-Woo kembali disibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat.
Tentu saja sepanjang hari itu ia terus dikejar-kejar wartawan yang tidak henti-hentinya
bertanya tentang Sandy, tapi Park Hyun-Shik menyuruhnya tidak berkomentar dulu.
Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Sandy.

Sejak sore tadi Tae-Woo ingin menelepon Sandy. Ia ingin tahu apakah gadis itu
baik-baik saja, tapi ia tidak punya waktu. Sekarang ia mengeluarkan ponsel dari saku
dan membuka flap-nya. Apakah sekarang sudah terlalu malam untuk menelepon?

Sepertinya tidak ada salahnya mencoba.

Tae-Woo menekan angka sembilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Keningnya
agak berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahunya telepon
yang dihubungi sedang tidak aktif. Tae-Woo menutup kembali ponselnya dan
menimbang-nimbang.

Baiklah, hair ini tidak perlu diperpanjang lagi. Besok ia akan langsung pergi
menemui gadis itu.

Setelah mandi dan kembali berpakaian—kaus longgar jingga dan celana panjang
putih, Tae-Woo merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia
berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang
terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari.


“Tidak ada makanan. Kenapa Ibu cuma beli mi instan?” gerutunya sambil
mengeluarkan sebungkus mi instan. Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu
membungkuk untuk membuka pintu lemari bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya
terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak
menatap layar televisi.

Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita di lokasi
kejadian. Di latar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam
kebakaran berlalu-lalang dan para polisi berusaha menertibkan orang-orang yang
berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya hiruk pikuk, terdengar teriakan
dan tangisan orang-orang.

Tae-Woo menyambar remote control dan mengeraskan volume televisinya untuk
mendengar kata-kata si reporter.

“…sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami
belum mendapat konfirmasi apakah gedung apartemen itu sudah kosong atau belum.
Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar…”

Mata Tae-Woo terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya
berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sandy. Siang
tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakan ini tidak benar. Namun si reporter kini
menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Tae-Woo langsung
terasa membeku.

Tanpa berpikir lagi, Tae-Woo melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci
mobil, dan keluar dari rumah.

Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi
erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau… gelisah… takut.
Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia
mencoba menghubungi ponsel Sandy tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak
aktif. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga Sandy tidak apa-apa. Semoga Sandy
sudah keluar dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Sandy?
Bagaimana kalau…

Astaga, ia bisa gila!

Ketika ia hampir sampai di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak
ada mobil yang bisa lewat. Tae-Woo langsung melompat keluar dari mobil dan berlari
menerobos kerumunan orang. Suasana yng kacau dan udara yang begitu panas karena
asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Tae-Woo berlari ke sana kemari dan
melihat ke sekeliling, mencari sosok Sandy. Ia berjalan cepat di antara orang-orang
sambil berteriak-teriak memanggil nama Sandy. Di mana gadis itu?


Tae-Woo bolak-balik memutar kepala dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku
pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan
piama, berdiri menatap gedung yang dilalap api dengan pandangan kosong.

“Sandy!” Tae-Woo berseru namun gadis itu tetap bergeming.

Rasa lega membanjiri dirinya ketika ia berlari menghampiri gadis itu.

“Sandy…” Kini Tae-Woo sudah berdiri di samping Sandy dan menyentuh
lengannya.

Gadis itu menoleh dengan linglung dan Tae-Woo melihat wajahnya kotor karena
asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya. Ketika Tae-Woo memegang lengan Sandy,
ia baru menyadari tubuh gadis itu gemetaran.

“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Tae-Woo dengan nada khawatir sambil
mengamati Sandy dari atas ke bawah. Gadis itu hanya mengenakan piama tanpa alas
kaki. Rambutnya tergerai kusut di bahu dan kedua tangannya meremas syal basah
bermotif kotak-kotak hitam dan putih. Syal yang diberikan Tae-Woo kepadanya
sewaktu acara jumpa penggemar dulu.

Sandy mengangguk masih dengan raut wajah linglung. “Ya, aku tidak apa-apa,”
sahutnya pelan. Tae-Woo mendengar suaranya juga bergetar.

Tae-Woo mengembuskan napas lega dan langsung memeluk gadis itu. “Syukurlah
kau tidak apa-apa.”

“Aku tidak sempat membawa apa-apa,” gumam Sandy.

Tae-Woo merenggangkan pelukannya dan menatap Sandy yang sepertinya masih
terguncang. “Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku.”

Sandy menurut dan membiarkan Tae-Woo menuntunnya ke tempat mobilnya
ditinggalkan. Mata Sandy terus terpaku pada api yang berkobar dan asap yang
bergulung-gulung.

Sepanjang perjalanan Sandy tidak berbicara dan Tae-Woo juga tidak mengajaknya
bicara. Ketika akhirnya mereka tiba di rumahnya, Tae-Woo baru menyadari rumahnya
terang benderang, pintu rumahnya lupa dikunci, dan televisinya lupa dimatikan karena
ia begitu terburu-buru keluar rumah tadi.

“Kau duduk dulu di sini,” katanya sambil mendudukkan Sandy di sofa. “Aku akan
mengambil minuman untukmu.”

Ketika kembali membawa secangkir teh hangat, ia melihat Sandy menangis.
Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sepenuhnya dan akibat guncangan tadi
mulai terasa olehnya.

Tae-Woo meletakkan cangkir di meja, duduk berhadapan dengan Sandy, lalu
memandang khawatir gadis itu. “Ada yang sakit?”


Sandy menggeleng-geleng sambil menghapus air mata dengan punggung
tangannya. Lalu ia berbicara sambil terisak-isak. Dengan agak susah payah, Tae-Woo
mendengarkan kata-kata yang tidak terlalu jelas karena diucapkan sambil menangis,
tapi ia bisa menarik kesimpulan dari kalimat Sandy yang kacau-balau.

Sandy bercerita api itu berasal dari apartemen sebelah. Saat itu ia sedang menonton
televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan susah bernapas. Kemudian segalanya menjadi
kacau. Alarm tanda kebakaran berbunyi nyaring dan orang-orang berteriak. Ia panik
dan hanya sempat berpikir harus mengambil sesuatu untuk menutupi hidung dan
mulutnya. Ia pun menyambar syal pemberian Tae-Woo yang tergeletak di samping
tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemen.

Tae-Woo menyodorkan sekotak tisu kepada Sandy dan gadis itu menerimanya.
“Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa.”

Sandy terlihat lebih tenang. Ia mengeringkan air mata dan membersihkan hidung.
Lalu ia memandang Tae-Woo dengan cemas. “Sekarang bagaimana?”

“Di sini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal di sini dulu.” Tae-
Woo menunjuk cangkir teh di meja. “Minumlah. Masalah lainnya kita pikirkan besok
saja.”

Sandy mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Walaupun Sandy masih
agak tegang, Tae-Woo melihat tangan gadis itu sudah tidak gemetar lagi. Sandy
meminum tehnya pelan-pelan, lalu memandang piamanya yang kotor.

Tae-Woo berdeham. “Ibuku tidak meninggalkan pakaiannya di sini, tapi kalau kau
tidak keberatan, aku bisa meminjamkan bajuku.”

Sementara Sandy membersihkan diri dan berganti pakaian, Tae-Woo menelepon
manajernya dan menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah, aku akan ke sana besok pagi,” kata Park Hyun-Shik sebelum menutup
telepon. “Syukurlah dia tidak apa-apa.”

Sandy kembali ke ruang duduk ketika Tae-Woo menutup telepon. Tae-Woo
tersenyum kecil ketika melihat penampilan gadis itu. Sandy mengenakan kaus lengan
panjang yang kebesaran untuknya, dan celana panjang yang ujungnya harus dilipat
berkali-kali. Wajahnya sudah dibersihkan dan rambutnya basah karena baru keramas.

“Boleh aku pinjam teleponmu?” tanya Sandy. “Aku ingin menelepon temanku,
Young-Mi. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun
sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja.”

“Tentu saja,” sahut Tae-Woo sambil menyodorkan telepon kepada Sandy. Ia
berjalan ke dapur untuk memberikan sedikit privasi, walaupun tentu saja dari sana ia
masih bisa mendengar ucapan gadis itu.


“Young-Mi. Ini aku,” kata Sandy. “Oh, kau sudah tahu? … Tidak, tidak, aku baik-
baik saja. Kau tidak usah cemas… Sekarang?”

Tae-Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas.

“Emm… aku di rumah teman,” gumam Sandy, lalu cepat-cepat menambahkan,
“begini, Young-Mi, aku mau minta tolong. Aku boleh pinjam pakaianmu? Aku tidak
sempat membawa apa-apa. Bahkan ponselku tidak sempat kuselamatkan… Besok pagi?
Terima kasih banyak… Oh, alamatnya?”

Sandy menyebutkan alamat rumah Tae-Woo dan setelah itu menutup telepon.

“Apa kata temanmu?” tanya Tae-Woo.

“Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha menghubungiku sejak
tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku. Tadi dia menawarkan diri
untuk mengantarkan pakaiannya ke sini. Kuharap kau tidak keberatan karena aku
sudah memberikan alamat rumahmu kepadanya.”

Tae-Woo hanya mengangkat bahu. “Dia temanmu yang kauceritakan itu, kan? Yang
sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah.”

Sandy mengangguk dan mengangsurkan pesawat telepon yang dipegangnya
kepada Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”

Tae-Woo menerima teleponnya dan menunjuk ke arah televisi. “Dari televisi.”

Sandy menatap Tae-Woo sambil tersenyum. “Kenapa rambutmu begitu?”

Tangan Tae-Woo langsung menyentuh kepalanya. Ia baru menyadari rambutnya
acak-acakan. Ia baru ingat ia tadi sedang mengeringkan rambut ketika melihat berita
kebakaran itu di televisi. Saking paniknya, ia langsung melesat keluar tanpa
memikirkan penampilan.

Tae-Woo berdeham dan menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. “Tadi baru
keramas,” gumamnya tidak jelas, lalu kembali menyodorkan pesawat telepon yang
dipegangnya kepada Sandy. “Masih ada yang ingin kautelepon? Orangtuamu?”

Sandy berpikir sejenak. “Orangtuaku ada di Jakarta. Kurasa mereka tidak akan tahu
tentang gedung apartemen yang terbakar di Korea. Aku juga tidak ingin membuat
mereka khawatir. Lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru kuceritakan
kepada mereka.”

“Baiklah, terserah kamu,” kata Tae-Woo. “Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ayo,
kuantar kau ke kamarmu.”

Ia membawa Sandy ke kamar tamu di lantai dua. “Silakan,” kata Tae-Woo setelah
membuka pintu kamar itu.

Sandy mengangguk dan melangkah masuk. Ketika berbalik, Tae-Woo mendengar
Sandy memanggilnya. Ia pun menoleh.


Sandy berdiri di sana dengan tangan memegang pintu kamar yang terbuka. “Terima
kasih,” katanya sambil tersenyum kecil. “Untuk semuanya.”

Tae-Woo membalas senyumnya. “Selamat malam.”





Ketika membuka mata keesokan harinya, Sandy tertegun sejenak sebelum menyadari ia
sedang berada di rumah Jung Tae-Woo. Ia bangun dan duduk bersila di tempat tidur.
Otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia tidak bisa melukiskan perasaannya
ketika kebakaran itu terjadi. Sepertinya saat itu ia dalam keadaan setengah sadar
karena entah bagaimana ia sudah keluar dari gedung dan berdiri di tepi jalan.
Semuanya terjadi begitu cepat dan samar. Dalam sekejap ia sudah tidak punya apa-apa
lagi.

Sejak menyadari gedungnya terbakar, hati Sandy diserang rasa panik, namun ia
tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Namun ketika ia berdiri kebingungan di tepi jalan sambil memandang apartemennya
yang terbakar, Jung Tae-Woo datang. Sandy merasa begitu lega melihat pria itu. Tiba-
tiba ia tahu ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia
bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.

Apa yang sedang kupikirkan? Sandy menggeleng-geleng. Sudah jam berapa
sekarang? Ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ternyata sudah pukul 09.25

Sandy turun dari tempat tidur dan memandang ke sekelilingnya. Kira-kira pintu
apa di situ? Kamar mandi?

Ketika Sandy memutar kenopnya, ternyata memang benar itu pintu kamar mandi.
Kamar mandinya cukup besar, ada bak mandi dan pancuran. Di sana juga sudah
tersedia keperluan dasar seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk. Ternyata
mereka sudah mempersiapkan semuanya bagi tamu yang mungkin datang menginap.
Kemarin Sandy tidak memakai kamar mandi yang ini, tapi kamar mandi lain di lantai
bawah, jadi ia cukup terkesan.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia turun ke lantai bawah. Ia menuruni
tangga dengan perlahan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

“Sudah bangun?”

Sandy terlompat kaget mendengar suara Jung Tae-Woo. Ternyata laki-laki itu
sedang duduk di meja makan sambil tersenyum kepadanya. Ia tidak sendirian. Park
Hyun-Shik juga duduk di sana sambil memegang surat kabar pagi.

“Oh, Paman sudah datang?” Sandy menghampiri mereka berdua. “Maaf, aku
terlambat bangun.”


Ia agak risi karena Park Hyun-Shik terus menatapnya dengan pandangan penuh
arti. Meski bisa menduga paman yang satu itu sedang memandangi pakaiannya, ia
bertanya juga, “Paman, kenapa melihatku seperti itu?”

Park Hyun-Shik tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku lega kau tidak
terluka. Ayo duduk. Mau sarapan? Ini ada roti.”

“Terima kasih.”

Park Hyun-Shik melipat koran dan meletakkannya di meja. “Tadi pagi aku mampir
ke gedung apartemenmu. Kelihatannya buruk. Kurasa tidak ada yang tersisa. Aku
dengar dari Tae-Woo apinya berasal dari apartemen di sebelah apartemenmu?”

Sandy mengangguk.

“Kalau begitu, kurasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.”

Sandy mendesah dan mengerutkan kening dengan cemas.

“Apa rencanamu selanjutnya?” Park Hyun-Shik bertanya.

Sandy memandangnya. “Belum tahu. Mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku
masih punya uang di bank, tapi…”

“Kau akan tinggal di mana? Bisa tinggal bersama teman?”

Sandy berpikir-pikir. “Temanku hanya Kang Young-Mi dan dia pasti akan
mengizinkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak
besar dan selain dia dan orangtuanya, masih ada dua adik laki-laki. Kalau aku tinggal
di sana, kurasa aku hanya akan merepotkan mereka.”

Park Hyun-Shik menatap Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap Sandy. “Bagaimana
kalau kau tinggal di sini saja dulu untuk sementara?”

Sandy tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Jung Tae-Woo dan buru-buru
menjawab, “Oh, itu tidak perlu. Itu—“

“Kenapa tidak di rumah Hyong saja?” sela Jung Tae-Woo.

Park Hyun-Shik tertawa kecil. “Kau tahu sendiri di apartemenku hanya ada satu
kamar tidur. Kau mau dia tidur sekamar denganku? Di rumahmu ini ada banyak
kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah.”

Sandy merasa wajahnya panas. Apa yang sedang mereka bicarakan? “Tidak, itu
tidak perlu,” katanya. “Aku akan segera mencari tempat tinggal baru.”

Jung Tae-Woo mengerutkan dahi dan memandangnya. “Kaukira kau bisa
mendapatkan tempat tinggal yang cocok dalam satu hari?”

“Soal itu…” Sandy tidak tahu harus berkata apa.

Jung Tae-Woo akhirnya mengangguk dan mendesah. “Kurasa yang dikatakan
Hyong benar.”

Park Hyun-Shik menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di depan
dada. “Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Sandy akan tinggal di sini


sambil mencari tempat tinggal baru. Tentu saja aku juga akan membantumu mencari.
Katakan saja padaku tempat seperti apa yang kauinginkan.”

“Ini…,” Sandy memandang Jung Tae-Woo. “Tapi aku… Apakah tidak apa-apa?”

Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau
kau mau pulang ke Indonesia?”

“Aku masih harus kuliah.”

“Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan,” kata Jung Tae-Woo.

“Tapi…”

Jung Tae-Woo menatapnya. “Kenapa? Kau takut padaku?”

Sandy membelalakkan mata. “Ah, tidak. Bukan begitu.”

Park Hyun-Shik tertawa dan berkata pada Sandy, “Kau boleh tenang, Sandy. Kau
pastinya juga sudah tahu Tae-Woo digosipkan sebagai gay, bukan playboy.”

Sontak wajah Tae-Woo menampilkan ekspresi kesal. Sandy ikut tertawa melihat
raut wajahnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan
ke pintu. Lalu, “Oi, Sandy,” panggilnya.

“Ada apa?” Sandy berdiri dan menyusulnya ke pintu.

Jung Tae-Woo menunjuk ke monitor kecil di samping pintu. Ternyata monitor itu
menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu rumah. Sandy melihat wajah
gadis bermata sipit dengan rambut dikucir dan tangan memeluk kantong kertas.

“Itu temanmu?” tanya Jung Tae-Woo memastikan.

“Ya. Itu Young-Mi,” kata Sandy.

Sandy bisa melihat temannya nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati
Jung Tae-Woo yang membukakan pintu untuknya. Mata Young-Mi yang sipit melebar
dan salah satu tangannya langsung naik ke dada seakan untuk menahan jantungnya
supaya tidak jatuh.

“Young-Mi, kau tidak apa-apa?” tegur Sandy sambil menyentuh lengan Young-Mi
yang tiba-tiba kaku.

Dengan agak tergagap-gagap, Young-Mi mengucapkan selamat pagi kepada Jung
Tae-Woo sambil membungkukkan badan. Jung Tae-Woo membalas salamnya dan
mempersilakannya masuk.

“Astaga, aku tidak percaya ini,” bisik Young-Mi ketika ia duduk di sofa panjang
ruang duduk dan melihat ke sekeliling. Saat itu Jung Tae-Woo sudah berjalan kembali
ke ruang makan, meninggalkan mereka berdua di ruang duduk.

“Kenapa kau ini?” goda Sandy sambil menyikut lengan temannya.

Young-Mi menatap Sandy dengan mata berbinar-binar. “Aku tidak percaya aku
baru saja bertemu Jung Tae-Woo dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk


di sofanya. Aku menginjak lantai rumahnya. Astaga! Hei, kenapa kemarin kau tidak
bilang kau berada di rumah Jung Tae-Woo?”

Sandymeringis melihat tingkah temannya. “Hei, temanmu ini baru mengalami
bencana.”

Young-Mi berpaling dengan cepat ke arah Sandy. “Oh, ya, maaf. Aku lega kau tidak
apa-apa. Ini kubawakan beberapa pakaian. Pakaian dalam juga. Pakaian dalamnya baru
kubeli tadi pagi. Baju-baju itu punyaku. Ukurannya pasti cocok untukmu.”

Sandy menerima kantong kertas yang disodorkan Young-Mi. “Terima kasih banyak.
Aku pasti akan mengembalikannya nanti.”

Young-Mi mengibaskan tangan. “Tidak usah dipikirkan. Lalu selanjutnya
bagaimana?”

Alis Sandy terangkat. “Mm?”

“Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali.”

Sandy tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih banyak. Tapi kurasa tidak perlu. Aku
pasti hanya akan merepotkan kalian.”

Mata Young-Mi melebar. “Merepotkan bagaimana? Kau boleh tidur denganku
Young-Joon dan Young-Ho bisa pindah tidur di ruang tengah—“

“Mana mungkin aku membiarkan adik-adikmu tidur di ruang tengah?” sela Sandy.
“Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa
tidak enak kalau begitu.”

Young-Mi terdiam sesaat, lalu berkata, “Kalau begitu kau akan tinggal di mana?”

Sandy berdeham. “Aku akan mencari tempat tinggal baru.”

“Hei, kaukira kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru dalam satu hari? Selama
kau mencari kau akan tinggal di mana?”

Nah, kenapa kata-kata temannya ini persis seperti kata-kata Jung Tae-Woo? Sandy
memiringkan kepala dan berkata ragu, “Kurasa aku akan tinggal di… sini…”

Sandy melihat Young-Mi menahan napas dan menatapnya kaget. Lalu Young-Mi
mengerjapkan mata. “Di sini? Di rumah Jung Tae-Woo?”

“Di sini banyak kamar kosong,”Sandy mengulangi kata-kata Paman Park Hyun-
Shik tadi. “Jadi kurasa… Ah, lagi pula Jung Tae-Woo ssi yang menawarkan.”

Tidak, sebenarnya tidak persis begitu, tapi kira-kira seperti itulah.

“Kau yakin?” tanya Young-Mi ragu.

“Aku tidak punya pilihan lain.” Kali ini giliran kata-kata Jung Tae-Woo yang Sandy
pinjam.

Tepat pada saat itu Park Hyun-Shik masuk ke ruang duduk bersama Jung Tae-Woo.
Young-Mi yang melihat kedatang mereka langsung melompat berdiri seperti disengah
lebah. Park Hyun-Shik pun menyunggingkan senyumnya yang menawan.


“Kau teman Sandy?” tanyanya ramah. “Apa kabar? Namaku Park Hyun-Shik.”

Sandy agak geli melihat temannya yang biasanya begitu cerdas tiba-tiba berubah
menjadi agar-agar di depan dua pria tampan.

“Ehm… Apa kabar? … N-nama saya Kang Young-Mi.”

“Tidak usah bersikap resmi seperti itu,” kata Park Hyun-Shik. “Kau teman Sandy,
itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Sandy sudah mengatakan padamu dia
akan tinggal di sini untuk sementara?”

Young-Mi melirik Sandy dan menjawab, “Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku
tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”

“Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya.”

Jung Tae-Woo juga ikut tersenyum kepada Young-Mi dan Sandy merasa temannya
sudah hampir ambruk ke lantai. “Maaf, tidak bisa mengobrol denganmu. Kami harus
pergi sekarang, tapi kau bisa menemani Sandy di sini. Pasti kalian ingin mengobrol
banyak. Anggap saja rumah sendiri.”

“Ooh… tentu saja. Terima kasih,” bisik Young-Mi sambil tersenyum lebar.

Jung Tae-Woo berpaling kepada Sandy. “Apa yang akan kaulakukan hari ini?”

“Nanti aku akan keluar sebentar. Ada yang harus kubeli,” kata Sandy. “Aku juga
ingin mampir dan melihat kondisi apartemenku.”

“Sendiri?”

“Oh, Young-Mi akan menemaniku. Ya, kan?”

Young-Mi cepat-cepat mengangguk dan memasang senyum termanisnya ketika
Jung Tae-Woo berpaling memandangnya.

Jung Tae-Woo mengangguk dan kembali menatap Sandy. “Baiklah, kunci cadangan
ada di laci sebelah sana. Jangan lupa mengunci pintu kalau kau keluar. Aku akan
meneleponmu nanti. Aku pergi dulu.”

Keempat orang itu saling bertukar kalimat “selamat jalan dan sampai nanti”. Lalu
setelah kedua laki-laki itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti air bah, Young-
Mi menumpahkan semua kata yang dipendamnya sejak tadi, “Wah, mereka berdua
tampan sekali. Yang satu lagi itu siapa? Artis juga?”

Sandy tertawa. “Bukan, paman itu manajer Jung Tae-Woo.”

Young-Min mengangguk-angguk. “Manajernya? Namanya Park Hyun-Shik, ya?
Tapi kenapa kau memanggilnya „paman.? Dia masih muda begitu.”

Sandy hanya menggeleng dan tersenyum.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sandy ketika melihat Young-Mi menatapnya
dengan mata disipitkan.

“Aku ingin tanya, kau yakin tidak ada hubungan istimewa antara kau dan Jung Tae-
Woo? Kau hanya menjadi pacarnya dalam foto? Hanya itu?”


“Begitulah. Kenapa?”

“Kau yakin? Lalu kenapa aku merasa kalian terlihat seperti suami-istri. Dan—
astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian laki-laki. Pakaiannya?”

Sandy menunduk memandang baju Tae-Woo yang kebesaran untuknya. Bingung
harus berkata apa. Untungnya sandy tidak perlu menjawab karena Young-Mi tiba-tiba
berkata, “Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Lee Jeong-Su meneleponku kemarin
malam.”

Sandy mengangkat wajahnya. “Oh?”

Young-Mi melanjutkan, “Karena tidak bisa menghubungimu, dia meneleponku
untuk menanyakan kabarmu. Kukatakan padanya kau tidak apa-apa, tapi kemudian
dia ingin tahu kau berada di mana.”

“Kau bilang apa?”

“Tidak bilang apa-apa. Kemarin malam kupikir kau bermalam di rumah salah
seorang temanmu atau semacamnya. Itu yang kukatakan pada Lee Jeong-Su. Hari ini
aku baru tahu kau ada di rumah Jung Tae-Woo.”

“Kau tidak akan memberitahunya, kan?”

“Memangnya aku bodoh? Tentu saja tidak,” sahut Young-Mi tegas. “Sudahlah,
jangan bicarakan Lee Jeong-Su lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi
kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir di sini. Ada
lagi, apa yang harus kukatakan pada ibuku? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di
rumah kami.”




































Sepuluh









ENTAH sudah yang keberapa kalinya Park Hyun-Shik melihat Tae-Woo sedang
menelepon. Jadwal kerja Tae-Woo hari ini cukup padat, tapi ia selalu telrihat
menelepon setiap kali ada waktu luang. Tanpa perlu bertanya, Park Hyun-Shik tahu
siapa yang sedang dihubunginya.

“Tae-Woo, kau mau terus menelepon sampai kapan? Kau harus tampil sebentar
lagi,” tegur Park Hyun-Shik sambil menepuk punggung temannya.

Tae-Woo yang sedang duduk di kursi putar dengan kaki terjulur tersentak dan
menutup ponselnya. “Oh, Hyong.”

“Ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?”

“Tidak ada di rumah.” Tae-Woo seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Park Hyun-Shik pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Tae-Woo. “Siapa?”

Tae-Woo mendesah. “Sudah. Lupakan, tidak ada apa-apa.”

“Sebaiknya kau bersiap-siap,” ia mengingatkan Tae-Woo sekali lagi.

Kali ini Tae-Woo menoleh ke arahnya dan bertanya, “Hyong, setelah ini aku tidak
punya jadwal kerja lagi, kan?”





Sandy baru saja masuk ke rumah ketika ia mendengar telepon rumah berdering. Ia
menutup pintu dan meletakkan kunci di meja. Harus diangkat atau tidak?
Bagaimanapun ini rumah Jung Tae-Woo dan ia tidak bisa sembarangan menjawab
teleponnya. Akhirnya ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerima.

“Kalau kau ada di rumah, angkat teleponnya.”


Sandy kaget mendengar suara Jung Tae-Woo di mesin. Ia cepat-cepat mengangkat
telepon. “Halo?”

“Akhirnya kau menjawab juga. Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi.”
Suara Jung Tae-Woo terdengar agak jengkel.

Sandy melirik jam tangannya. “Oh, aku tidak sadar sudah sore. Ada apa mencariku?
Ada yang harus kulakukan?”

“Tidak juga.”

“Lalu kenapa?”

“Hanya ingin tahu keadaanmu.”

Sandy tersenyum sendiri. “Aku baik-baik saja. Sekarang kau di mana?”

“Di jalan. Aku akan pulang sebentar lagi.”

“Mmm, kau mau kubuatkan makan malam?” tanya Sandy sambil menimbang-
nimbang. “Aku memang tidak bisa memasak, tapi aku bisa membuat bibimbab* atau…”

Ia mendengar Jung Tae-Woo tertawa di ujung sana. “Aku belum seberani itu untuk
mencoba masakan orang yang mengaku tidak bisa memasak.”

“Aku hanya ingin berterima kasih padamu,” protes Sandy.

“Sudahlah, tidak usah. Hari ini kita makan di luar saja. Aku yang traktir.”

“Makan di luar? Kau ini bagaimana? Kau ingin orang-orang melihat kita?”

“Kalau dilihat pun kenapa? Bukankah kemarin wartawan sudah terlanjur tahu siapa
dirimu?”

Sandy tepekur. Benarkah hal itu baru terjadi kemarin? Kenapa sepertinya sudah
lama sekali?

“Sebentar lagi wajahmu akan terpampang jelas di tabloid. Apa lagi yang bisa
disembunyikan? Seluruh Korea akan tahu kau kekasihku. Apakah aku tidak boleh
makan malam dengan kekasihku sendiri?”

Sandy merasa jantungnya seakan berhenti berdegap dan napasnya tertahan. Apa
yang terjadi pada dirinya?

“Halo? Sandy, kau masih di sana?”

Sandy tersentak. “Ya… ya.”

“Ya sudah, aku tutup dulu.”

Perlahan Sandy meletakkan telepon. Ada apa dengannya? Ketika tadi Jung Tae-Woo
berkata…

Sandy menepuk pipi dengan kedua tangannya. “Sandy, sadarlah,” katanya pada
dirinya sendiri. “Banyak hal yang lebih penting yang harus kaupikirkan.”



* * *



*Nasi campur khas Korea dengan berbagai macam sayuran dan bumbu lada merah kental.


“Jung Tae-Woo ssi, kau serius mau makan di sini?” Sandy tahu suaranya terdengar
khawatir.

Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai
teratas gedung hotel itu. Setelah tahu Jung Tae-Woo akan mengajaknya makan malam
di restoran hotel mewah, ia tidak bisa menekan rasa cemas di hatinya.

“Memangnya kenapa?” tanya Jung Tae-Woo tanpa menatap Sandy.

Sandy merentangkan tangan. “Lihat pakaianku. Aku tidak bisa masuk ke restoran
itu. Bisa-bisa aku diusir.” Ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana
panjang jins milik Young-Mi.

“Siapa yang berani mengusirmu?” tukas Jung Tae-Woo. “Tidak ada yang salah
dengan pakaianmu. Ayo, masuk.”

Pintu lift terbuka dan tanpa menunggu komentar Sandy lebih lanjut, Jung Tae-Woo
berjalan sambil menarik tangan gadis itu. Mereka masuk ke restoran dan segera
disambut salah satu pelayan yang langsung mengantarkan mereka ke meja untuk
berdua di dekat jendela kaca besar. Restoran itu cukup sepi, lampu-lampunya menyala
redup menciptakan suasana remang-remang. Selain suara percakapan yang sepertinya
dilakukan dengan berisik, terdengar alunan lembut musik jazz. Tidak banyak tamu
yang terlihat dan itu bukan hal yang mengherankan. Tentunya hanya orang-orang dari
kalangan kelas ataslah yang bisa makan di tempat seperti ini.

“Wah, bagus sekali,” Sandy bergumam senang ketika melihat ke luar jendela.
Pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian memang menakjubkan. “Kita ada di
lantai berapa ya? Tinggi sekali.”

“Ah, aku lupa,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba.

Sandy menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Kau tunggu di sini sebentar. Aku harus mengambil sesuatu,” kata Jung Tae-Woo
sambil bangkit dari kursi.

“Oke. Jangan lama-lama,” sahut Sandy. Lalu ia kembali mengagumi kerlap-kerlip
cahaya lampu kota Seoul di bawah sana.

Beberapa menit berlalu dan Jung Tae-Woo belum kembali. Sandy mendesah dan
memandang ke sekeliling ruangan. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke toilet. Ketika
Sandy keluar dari toilet dan sedang berjalan kembali ke mejanya, ia mendengar
seseorang memanggil namanya. Sandy berbalik mengikuti sumber suara dan melihat
wanita cantik bertubuh langsing dan tinggi sedang melambai ke arahnya sambil
tersenyum lebar. Perasaan Sandy langsung tidak enak begitu melihat wanita itu.
Perasaannya pun bertambah berat seiring langkah yang diambil wanita itu untuk
mendekati dirinya.


“Wah, Han Soon-Hee. Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa berjumpa denganmu
di sini,” sapa wanita itu dengan ramah, tapi bagi telinga Sandy keramahan itu
terdengar dibuat-buat, sama seperti senyumnya.

Sandy hanya tersenyum samar. “Apa kabar, son-bae*? Lama tidak bertemu.”

Jin Da-Rae mengibaskan rambut panjangnya dan berkata, “Jeong-Su ssi akan ke sini
sebentar lagi. Kau sendirian?” Namun tanpa menunggu jawaban Sandy, Jin Da-Rae
meneruskan, “Kebetulan aku bertemu denganmu, ada yang ingin kubicarakan.”

Sandy diam saja, berdiri bergeming, dan menunggu kata-kata selanjutnya.

Jin Da-Rae menatap Sandy dalam-dalam. “Aku sudah mendengar tentang
apartemenmu yang terbakar dari Jeong-Su ssi. Aku senang kau selamat. Tapi aku agak
mengkhawatirkan Jeong-Su ssi.”

Alis Sandy terangkat kaget. Apa yang sedang dia bicarakan?

“Aku tidak suka berputar-putar, jadi aku akan bicara langsung saja. Aku melihat
Jeong-Su ssi ikut cemas karena kejadian yang kaualami. Padahal seharusnya ia tidak
perlu repot-repot seperti itu karena kau baik-baik saja. Ya, kan? Bagaimanapun juga
hubungan kalian sudah lama berakhir. Masalahmu sudah bukan masalahnya lagi.”

Sandy tersenyum pahit. “Son-bae—“

“Oh, Soon-Hee.”

Sandy menoleh dan melihat Lee Jeong-Su menghampiri mereka. Ia mendesah dan
berpikir kenapa kedua orang itu bisa datang ke tempat ini pada saat yang sama dengan
dirinya.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Lee Jeong-Su sambil menatap Sandy dari ujung
kepala sampai ke ujung kaki. Sandy merasa risi diamati seperti itu, apalagi Jin Da-Rae
juga sedang menatapnya tajam.

“Kau lihat sendiri, dia tidak apa-apa,” sela Jin Da-Rae sambil menyelipkan
lengannya ke lengan Lee Jeong-Su. “Benar, bukan, Soon-Hee?”

Sandy meringis. “Ya, seperti yang bisa kalian lihat.”

“Kau sekarang tinggal di mana?” tanya Lee Jeong-Su lagi dan Sandy melihat air
muka Jin Da-Rae langsung berubah.

“Di rumah teman,” jawab Sandy pendek.

“Oh ya, kau sendirian? Bagaimana kalau bergabung dengan kami?” tanya Jeong-Su
mengalihkan pembicaraan.

Astaga. Apakah kedua orang itu sungguh-sungguh berpikir ia sudah begitu putus
asanya sampai memutuskan untuk datang ke restoran semewah ini sendirian?







* kakak kelas.


Jin Da-Rae menarik lengan Lee Jeong-Su dan cepat-cepat menyela, “Tadi Soon-Hee
bilang dia sedang menunggu temannya. Nanti temannya malah merasa tidak enak
kalau diajak bergabung karena tidak kenal dengan kita.”

Sandy ingin sekali tertawa keras-keras melihat sikap kakak kelasnya yang seperti
anak berumur lima tahun yang tidak mau melepaskan boneka beruang kesukaannya.
Kapan ia pernah memberitahu Jin Da-Rae ia sedang menunggu seseorang? Tapi
herannya tebakan wanita itu benar. Ia memang sedang menunggu Jung Tae-Woo.

“Maaf, sudah menunggu lama?”

Sandy dan dua orang yang berdiri di hadapannya itu serentak menoleh ke arah
sumber suara. Jung Tae-Woo menghampiri Sandy sambil tersenyum lebar dan dengan
kedua tangan di belakang punggung. Sandy mendengar sentakan napas Jin Da-Rae.
Ada sedikit rasa puas di hati Sandy ketika melihat Jung Tae-Woo muncul, apalagi
didukung kenyataan bahwa Jung Tae-Woo artis terkenal.

“Sudah menunggu lama?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil menatap lurus ke
arah Sandy, mengabaikan dua orang yang ada di dekatnya.

“Oh, tidak. Tidak lama,” sahut Sandy agak linglung.

“Tadi aku pergi membeli ini,” kata Jung Tae-Woo.

Sandy tercengang melihat seikat besar mawar merah yang disodorkan Jung Tae-
Woo ke arahnya.

Setelah Sandy menerima bunga yang disodorkan Jung Tae-Woo, laki-laki itu seakan
baru menyadari kehadiran dua orang lain yang melongo memerhatikan mereka. “Oh,
maafkan saya. Saya tidak melihat Anda tadi. Apa kabar? Anda teman-teman Sandy, ah,
maksudku Soon-Hee?”

Sandy melihat mata Jin Da-Rae berkilat-kilat, tatapannya tertuju lekat pada Jung
Tae-Woo. “Anda Jung Tae-Woo ssi, bukan?” tanyanya bersemangat.

“Benar,” kata Jung Tae-Woo ramah. “Dan hari ini saya berencana menikmati makan
malam yang romantis.” Ia mengangkat sebelah tangannya dan merangkul bahu Sandy.

Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan pandangan terkejut, kemudian matanya
ganti memandang dua orang di hadapannya yang juga sedang menatapnya bingung.

“Sepertinya Anda berdua juga ingin menikmati makan malam yang romantis,” Jung
Tae-Woo melanjutkan dengan nada ramah seperti tadi. “Kami tidak akan mengganggu
acara Anda lebih lama lagi. Senang berjumpa Anda berdua.”

Selesai berkata begitu, dengan masih merangkul bahu Sandy, Jung Tae-Woo
menuntunnya kembali ke meja mereka.

“Terima kasih atas mawarnya,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali. Ia
memandang bunga pemberian Jung Tae-Woo dengan gembira.

“Kau suka?”


“Mm, suka sekali.” Sandy menatap Jung Tae-Woo sambil tersenyum. “Kau sering
memberikan bunga untuk wanita?”

Laki-laki itu hanya meringis. “Menurutmu begitu?”

“Ngomong-ngomong, memangnya hari ini hari apa?”

“Kenapa?”

“Kita makan di restoran mewah. Lalu mawar ini.” Sandy menatap Jung Tae-Woo
sambil berusaha mengingat. “Hari ini hari ulang tahunmu?”

Jung Tae-Woo tertawa. “Kalau aku yang berulang tahun, kenapa aku yang
memberimu bunga? Bukankah seharusnya aku yang menerima hadiah?”

Sandy berpikir-pikir lagi. “Kau baru tanda tangan kontrak baru atau semacamnya?”

“Tidak juga.”

“Lalu kenapa?”

Jung Tae-Woo tersenyum lebar. “Nanti kau akan tahu sendiri.”

Sandy memiringkan kepala, lalu mengangkat bahu.

“Laki-laki yang tadi itu mantan pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo dengan hati-hati.

Sandy mendesah. “Mm, dan wanita yang bersamanya itu kakak kelasku yang
sekarang menjadi pacarnya.”

Jung Tae-Woo menatapnya. “Kau ingin kita pergi ke tempat lain?”

Sandy tertawa. “Untuk apa?”

Jung Tae-Woo masih terlihat kurang yakin.

“Tidak apa-apa,” kata Sandy menenangkan. “Bukankah ada kau yang menemaniku
di sini?”

Jung Tae-Woo tersenyum. “Benar, ada aku di sini. Nah, sekarang kau mau makan
apa?”





Lee Jeong-Su tidak menikmati makan malamnya. Ia terus-menerus melirik ke arah meja
Soon-Hee dan Jung Tae-Woo. Ia berharap gadis itu menoleh ke arahnya, tapi
kenyataannya Soon-Hee tidak meliriknya sama sekali. Gadis itu mengobrol dan tertawa
gembira dengan Jung Tae-Woo. Tentu saja Jeong-Su sudah pernah membaca tentang
hubungan Jung Tae-Woo dengan Soon-Hee, tapi waktu itu ia masih tidak ingin
percaya. Hari ini Jeong-Su benar-benar melihat mereka berdua dengan mata kepalanya
sendiri dan ternyata memang seperti yang ditulis di tabloid. Ia harus mengakui ia sama
sekali tidak ingin melihat mereka berdua bersama.

“Jeong-Su ssi, aku sedang bicara padamu.”


Jeong-Su tersentak dan menatap wanita yang duduk di hadapannya. Jin Da-Rae
memang wanita yang cantik dan menawan. Wanita itulah alasannya meninggalkan
Soon-Hee dulu. Tapi sekarang sepertinya ada sedikit penyesalan dalam hatinya.

“Aku tidak menyangka Soon-Hee punya teman yang terkenal seperti Jung Tae-Woo.
Bagaimana bisa?” kata Jin Da-Rae sambil mengerutkan kening. “Aku memang pernah
membaca di majalah tentang hubungan Jung Tae-Woo dengan wanita yang bernama
Han Soon-Hee, tapi aku tidak menyangka berita itu benar dan wanita yang dimaksud
adalah Han Soon-Hee yang ini.”

Jeong-Su hanya bergumam tidak jelas menanggapi perkataannya.

“Nah, kau sudah tidak perlu mengkhawatirkannya karena sekarang dia sudah
punya pacar yang terkenal,” Jin Da-Rae melanjutkan tanpa memandang Jeong-Su.

Jeong-Su bergumam sekali lagi dan melirik ke arah Soon-Hee. Gadis itu tertawa
sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, sedangkan Jung Tae-Woo menatapnya
sambil tertawa kecil. Apa yang mereka tertawakan? Apa yang mereka bicarakan?
Kapan terakhir kalinya ia melihat Soon-Hee tertawa seperti itu? Ia sudah lupa. Tiba-tiba
saja ia merasa rindu pada tawa gadis itu.

“Lee Jeong-Su ssi!”

Jeong-Su tersentak sekali lagi mendengar namanya disebut dengan nada tinggi.

Jin Da-Rae sedang menatapnya kesal. “Kau sama sekali tidak mendengarkan apa
yang baru saja kukatakan, kan?”

“Tentu saja aku mendengarkan,” Jeong-Su mencoba membantah.

“Bagaimana kau bisa mendengarku kalau kau terus memerhatikan Han Soon-Hee?”

“Aku tidak memerhatikannya.”

Jin Da-Rae mengangkat kedua tangan. “Sudah cukup. Sekarang juga aku ingin pergi
dari sini. Kita pergi ke tempat lain saja.”

Jeong-Su mengerutkan kening. “Da-Rae, kau sendiri yang bilang kau ingin makan
malam di sini. Kenapa sekarang kau ingin pergi?”

Jin Da-Rae melipat tangan di depan dada dan mendengus kesal. “Aku berubah
pikiran. Aku ingin pergi ke tempat lain. Ayo, kita pergi.”

Tanpa menunggu lagi, Jin Da-Rae meraih tas tangannya dan bangkit dari kursi.
Jeong-Su berusaha menahannya, tapi tidak berhasil. Ia mendesah dan menoleh ke arah
Soon-Hee sekali lagi. Tentu saja gadis itu tidak sedang melihat ke arahnya. Jeong-Su
menarik napas, membayar makanan, dan menyusul Jin Da-Rae.





Sandy menyadari kepergian Jin Da-Rae dan Lee Jeong-Su dari restoran itu. Jung Tae-
Woo juga.


“Mereka pergi,” kata Tae-Woo sambil melihat ke arah pintu restoran.

Sandy hanya berdeham dan menatap piringnya yang sudah hampir kosong. Ia
kesal. Kenapa perasaannya masih tidak enak ketika melihat Lee Jeong-Su dan Jin Da-
Rae bersama? Kenapa ia masih belum bisa melupakan masalah delapan bulan yang
lalu? Tidak mungkin ia masih mengharapkan Lee Jeong-Su, kan?

“Lagi-lagi ekspresi itu.”

Sandy mengangkat wajahnya dan memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu sedang
mengamati wajahnya. “Apa?” tanya Sandy.

Jung Tae-Woo menyandarkan punggung ke kursi dan tersenyum kecil. “Setiap kali
menyebut nama mantan pacarmu dan setiap kali kau menerima telepon darinya,
ekspresi wajahmu pasti jadi seperti itu. Ekspresi wajah yang tertekan, seakan-akan kau
harus menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia.”

Sandy menunduk. “Maaf.”

Jung Tae-Woo memandang ke luar jendela. “Nah, apa yang bisa kita lakukan agar
kau tidak memasang wajah seperti itu lagi? Mmm… Ah, aku tahu!”

Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan penuh rasa ingin tahu.

Jung Tae-Woo berpaling kembali ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Tunggu
sebentar.”

Sandy bertambah bingung ketika Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan
keluar dari restoran. Apa yang akan dilakukannya?

Tidak lama kemudian Jung Tae-Woo kembali dan berkata kepada Sandy, “Setelah
makan, aku akan membawamu ke suatu tempat.”

Ketika mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka, Jung Tae-Woo
membawa Sandy turun ke lantai dasar gedung hotel itu.

“Jung Tae-Woo ssi, kita mau ke mana?” tanya Sandy ketika mereka menyeberangi
lobi utama hotel.

“Kau akan tahu,” Jung Tae-Woo menjawab pendek.

Ternyata Jung Tae-Woo membawanya ke taman belakang hotel. Taman itu luas
sekali dengan kolam renang besar di tengah-tengahnya. Lampu-lampu taman
dinyalakan sehingga walaupun hari sudah malam, taman itu tidak terlihat gelap.
Lampu-lampu di dalam kolam renang juga dinyalakan sehingga mereka bisa melihat
dasar kolam renang dengan jelas.

“Ah, menyenangkan sekali berada di udara terbuka,” kata Jung Tae-Woo sambil
duduk di salah satu kursi kayu di pinggir kolam renang.

Sandy melihat ke kiri dan kanan dengan bingung. Kenapa Jung Tae-Woo
membawanya ke sini? Tidak ada orang lain di taman itu. Meski sepi sekali, Sandy
menikmati kesunyian itu.


“Jung Tae-Woo, kenapa kita ke tempat ini?” tanyanya sambil duduk di kursi di
samping laki-laki itu.

“Kalau tidak salah, beberapa hal yang bisa membuatmu bahagia adalah
mendengarkan musik, makan keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan
bintang. Aku benar, kan?”

Sandy agak kaget mendengar kata-kata Jung Tae-Woo. Ia sendiri tidak ingat kapan
ia memberitahu Tae-Woo tentang hal itu.

Jung Tae-Woo melanjutkan, “Sekarang aku tidak punya keripik kentang, aku tidak
tahu kau suka musik apa. Bunga, kau sudah memegangnya.”

Sandy menatap mawar yang sedang dipeluknya. Ia masih tidak mengerti apa yang
ingin dikatakan Jung Tae-Woo.

Jung Tae-Woo mendongak menatap langit yang gelap dan berkata, “Tidak ada
bintang malam ini dan sayang sekali aku tidak bisa memanggil hujan.” Ia menoleh ke
arah Sandy. “Kalau begitu, hanya tinggal satu yang bisa dilakukan.”

Alis Sandy terangkat ketika Jung Tae-Woo mengeluarkan ponsel dari saku
celananya.

“Halo? Ya, Anda bisa memulainya sekarang,” katanya kepada seseorang di ponsel.
Setelah itu ia menutup ponsel dan tersenyum kepada Sandy. Ia mengangkat sebelah
tangan dan menunjuk ke langit. “Coba lihat di sana.”

Sandy memandang ke langit yang gelap dengan dahi berkerut. Ia sama sekali tidak
mengerti apa yang sedang dipikirkan Jung Tae-Woo. Ia baru saja akan membuka mulut
untuk bertanya lagi ketika ia mendengar bunyi desingan lalu letupan. Saat itu juga
matanya melihat cahaya warna-warni di langit. Bunyi desingan dan letupan itu
terdengar lagi, sambung-menyambung. Langit malam pun tampak semakin semarak
dengan cahaya indah warna-warni.

Kembang api! Banyak sekali kembang api!

Tanpa sadar Sandy berdiri dari kursinya. Sebelah tangannya terangkat ke mulut.
Matanya terpaku pada berkas-berkas sinar yang meluncur ke langit dan meledak
menjadi bunga-bunga api. Ini pertama kalinya ia melihat kembang api sebanyak itu
secara langsung dan merasa begitu takjub sampai-sampai dadanya terasa sesak.

“Bagaimana?”

Sandy menoleh dan melihat Jung Tae-Woo berdiri di sampingnya. Ia kembali
menatap langit. “Ini pertama kalinya aku melihat kembang api sungguhan, dan bukan
dari televisi.”

“Perasaanmu sudah baikan?”

Sandy menoleh kembali ke arah Jung Tae-Woo. Ia tidak menyangka ternyata laki-
laki itu sedang berusaha menghiburnya. Sandy tersenyum dan berkata, “Jauh lebih


baik. Kau tahu kau tidak perlu melakukan semua ini. Tapi, bagaimanapun, terima
kasih.”

Jung Tae-Woo balas tersenyum. “Aku tahu akhir-akhir ini kau merasa tertekan. Kau
sudah membantuku. Jadi kalau aku bisa membantu meringankan sedikit bebanmu,
kenapa tidak? Aku hanya ingin melihatmu gembira seperti sekarang, itu saja.”





“Haah… malam ini indah sekali,” kata Sandy ketika ia dan Jung Tae-Woo tiba di
rumah. Sandy menciumi mawar yang ada dalam pelukannya dan tersenyum-senyum
sendiri.

Sementara itu Jung Tae-Woo sudah berjalan ke arah dapur, membuka lemari es,
mengeluarkan sebotol air dingin, dan meminumnya langsung dari botolnya.

“Kau punya vas bunga?” tanya Sandy.

“Entahlah, tapi kalau tidak salah ada di dalam lemari yang itu.” Ia menunjuk lemari
dapur lalu berjalan ke pianonya.

Sandy membuka-buka lemari sambil bersenandung pelan. “Ini dia.” Ia
mengeluarkan vas bunga berwarna biru, mengisinya dengan air, dan memasukkan
bunga mawarnya ke sana. Ia mendengar Jung Tae-Woo memainkan beberapa nada
lagu di pianonya.

Sandy menoleh ke arah Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, nyanyikan satu lagu,”
pintanya. Lalu ia menghampiri laki-laki itu sambil membawa vas bunganya.

“Bukankah aku pernah bilang kau harus membayar kalau mau mendengarkanku
menyanyi?”

Sandy meletakkan vas bunga di atas piano dan meringis. “Bukankah kau bilang kau
mau membuatku gembira?”

Alis Jung Tae-Woo terangkat. “Aku pernah bilang begitu?”

Sandy mengangguk. “Kau juga pernah bilang kau akan memberikan apa pun yang
kuinginkan kalau aku bersedia berfoto denganmu. Sudah lupa?”

“Aku pernah bilang begitu?” Jung Tae-Woo menengadah dan berusaha mengingat-
ingat.

Sandy mengangguk dan bersandar pada piano, menunggu Jung Tae-Woo memulai
lagunya.

Jung Tae-Woo mendesah. “Baiklah, kau ingin mendengar lagu apa?”

Sandy berpikir sejenak, lalu berkata, “Lagunya Jo Sung-Mo. Piano. Aku suka sekali
lagu itu. Amat sangat romantis.”

Jung Tae-Woo menggaruk-garuk kepalanya. “Piano? Kenapa kau meminta lagu
yang sedih? Tidak ada lagu lain yang lebih menyenangkan?”


“Tapi lagu itu bagus. Tidak suka? Kalau begitu, terserah kau saja mau menyanyikan
lagu apa,” kata Sandy cepat-cepat.

Jung Tae-Woo berpikir sebentar, lalu meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano dan
mulai memainkannya sambil bernyanyi dalam bahasa Inggris.



I see trees of green, red roses too

I see them bloom for me and you

And I think to myself, what a wonderful world



Sandy bertepuk tangan dengan gembira ketika mengenali lagu What A Wonderful
World yang sedang dinyanyikan Jung Tae-Woo itu.



I see skies of blue, and clouds of white

The bright blessed day, the dark sacred night

And I think to myself, what a wonderful world



The colors of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands saying, “How do you do?”

They.re really saying, “I love you”



I hear babies crying, I watch them grow

They.ll learn much more than I.ll ever know

And I think to myself, “What a wonderful world”

And I think to myself, “What a wonderful world”



Walaupun bahasa Inggris aktif Sandy tidak terlalu lancar, ia bisa mengerti bila
mendengar orang lain berbicara dalam bahasa itu. Lagu yang dinyanyikan Jung Tae-
Woo membuat dirinya seolah terbang ke angkasa, begitu damai, ringan, walaupun ia
kembali menginjak bumi setelah lagu itu berakhir.

“Bagus sekali, bagus sekali,” puji Sandy sambil bertepuk tangan. “Tidak sia-sia kau
tinggal lama di Amerika. Bahasa Inggris-mu sangat bagus.”

Jung Tae-Woo hanya tertawa kecil. “Sudah paus?”

“Mmm, puas dan senang,” ujar Sandy.

Jung Tae-Woo merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan kotak berbentuk
persegi hijau berhiaskan pita kuning. Ia meletakkan kotak itu di atas piano dan
mendorongnya ke arah Sandy.

Sandy mengangkat alisnya begitu melihat kotak itu. “Apa ini?”


“Buka saja.”

Sandy membuka kotak itu dan tercengang ketika melihat di dalamnya ada ponsel
yang sama persis seperti ponselnya yang hilang dalam kebakaran.

“Selamat ulang tahun.”

Sandy mengangkat wajahnya dan menatap Jung Tae-Woo dengan pandangan
bingung dan kaget.

Tanpa menunggu kata-kata Sandy, Jung Tae-Woo melanjutkan, “Susah sekali
menghubungimu kalau kau tidak punya ponsel. Sebenarnya aku ingin membeli ponsel
yang lain sehingga kau tidak akan salah mengambil ponselku lagi, tapi aku berubah
pikiran. Bagaimana? Aku juga sudah meminta nomor yang sama, jadi ponsel itu masih
menggunakan nomor yang sama seperti ponselmu yang dulu. Bisa langsung
digunakan.”

“Ooh… Terima kasih.” Sandy masih agak bingung. Ia mengamati ponsel pemberian
Jung Tae-Woo, lalu berkata lagi, “Tapi ulang tahun? Jung Tae-Woo ssi, ulang tahunku
besok, bukan hari ini.”

Jung Tae-Woo tersenyum lebar dan menunjuk ke arah jam dinding di belakang
Sandy. Sandy berbalik dan melihat jam dinding.

“Sudah lewat tengah malam. Jadi hari ini hari ulang tahunmu,” kata Jung Tae-Woo.
“Kau bahkan tidak sadar ya? Berarti kejutan yang sudah kusiapkan bisa dikatakan
berhasil?”

Sandy tertegun, lalu tertawa. “Astaga, jadi makan malam tadi, bunga, kembang api,
dan ponsel ini, smeua itu untuk merayakan ulang tahunku?”

Jung Tae-Woo mengangguk. “Jangan lupa, aku juga baru menyanyikan lagu
untukmu. Itu juga harus dihitung.”

“Bagaimana kau bisa tahu hari ulang tahunku?”

Jung Tae-Woo hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Sandy masih bingung. “Tapi kenapa harus dirayakan malam sebelumnya? Kita bisa
merayakannya beramai-ramai besok, maksudku hari ini, eh, besok. Ah, pokoknya bisa
dirayakan pada harinya.”

“Sebenarnya pagi-pagi nanti aku harus berangkat ke Jepng, jadi aku tidak bisa ikut
merayakan ulang tahunmu pada harinya,” Jung Tae-Woo menjelaskan.

“Ke Jepang?” tanya Sandy. “Untuk apa?”

“Kerja,” sahut Jung Tae-Woo. “Kaukira untuk berlibur?”

“Berapa lama kau akan di sana?”

Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Belum tentu, tapi mungkin sekitar tiga hari.”

Sandy merenung.

“Oh ya, bagaimana ini? Tidak ada kue ulang tahun,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba.


“Tidak perlu kue segala,” sela Sandy. “Sudah banyak yang kaulakukan malam ini.
Bagiku itu sudah lebih dari cukup dan aku sangat gembira.”

“Terharu juga?”

“Terharu juga. Aku belum pernah merayakan ulang tahunku di tengah malam.”
Sandy tertawa.

Jung Tae-Woo bangkit dari kursi piano dan berkata, “Baiklah, sudah malam, kau—“

“Tunggu dulu.” Sandy menahannya. “Nyanyikan satu lagu lagi ya?”

“Lagi?”

“Ayolah,s ekali lagi saja,” katanya sambil duduk di samping Jung Tae-Woo. “Aku
suka melihatmu memainkan piano.”

Jung Tae-Woo menyerah dan duduk kembali. “Baiklah, lagu apa?”

“Terserah kau saja.”

Jung Tae-Woo menatap tuts-tuts pianonya sambil berpikir, lalu ia mengangkat
wajahnya dan menoleh menatap Sandy. “Ini salah satu lagu favoritku. Judulnya Fly Me
to the Moon.”

Kemudian Sandy memerhatikan jari-jari panjang Jung Tae-Woo menari-nari di atas
tuts-tuts piano sementara bunyi dentingan piano yang lembut dan suara Jung Tae-Woo
yang indah menghiasi kesunyian malam.



Poets often use many words to say a simple thing

It takes thought and time and rhyme to make a poem sing

With music and words I.ve been playing

For you I have written a song

To be sure that you know what I.m saying

I.ll translate as I go along



Sambil bernyanyi, Jung Tae-Woo sesekali melihat ke arahnya dan mereka berdua
tersenyum. Sandy tidak pernah merasa begitu… begitu… istimewa. Ya, istimewa.
Makan malam, mawar, kembang api, hadiah yang diberikan Jung Tae-Woo untuknya,
dan sekarang ia sedang duduk di sebelah Jung Tae-Woo sambil mendengarkan laki-laki
itu menyanyi khusus untuknya. Ia merasa bahagia. Entah sejak kapan ia menyadari
jantungnya berdebar dua kali lebih cepat setiap kali ia bertemu pandang dengan Jung
Tae-Woo atau bila laki-laki itu tersenyum kepadanya. Entah sejak kapan juga ia mulai
suka mendengar Jung Tae-Woo bernyanyi. Matanya kini tidak bisa lepas dari sosok
Jung Tae-Woo yang bernyanyi sambil memainkan piano.








Fly me to the moon and let me play among the stars

Let me see whatSpring is like on Jupiter and Mars

In other words, hold my hand

In other words, darling, kiss me



Fill my heart with song and let me sing forever more

You are all I long for, all I worship and adore

In other words, please be true

In other words, I love you



(Hiro, album: Coco d.Or)
































































Sebelas







SEBELUM berangkat ke kampus, Sandy memutuskan untuk menelepon orangtuanya.
Meski tidak yakin apakah orangtuanya sudah tahu tentang kebakaran itu atau belum,
ia tetap berpikir sebaiknya mereka diberitahu. Siapa tahu mereka malah sudah
mendapat kabar dan tidak bisa menghubunginya karena ia sendiri baru mengaktifkan
ponsel hadiah dari Jung Tae-Woo tadi pagi. Orangtuanya tentu akan khawatir setengah
mati.

Beberapa saat yang lalu Bibi Chon sudah datang untuk membereskan rumah.
Sebelum berangkat ke bandara tadi pagi, Jung Tae-Woo memberitahu Sandy, bibi itu
biasa datang membereskan rumah tiga kali seminggu. Jung Tae-Woo juga
menambahkan Bibi Chon sudah bekerja untuk keluarganya sejak lama dan bahwa dia
bisa dipercaya seratus persen, sehingga Sandy lebih tenang. Bagaimanapun keadaan
tidak terlalu aman saat ini. Kalau kenyataan ia tinggal di rumah Jung Tae-Woo tercium
wartawan, entah kehebohan apa lagi yang akan terjadi.

Setelah memperkenalkan diri kepada Bibi Chon dan membiarkan wanita setengah
baya bertubuh gemuk itu menjalankan tugasnya, Sandy mengambil telepon rumah dan
masuk ke kamar untuk menelepon orangtuanya. Seperti dugaan pertamanya, ternyata
orangtuanya tidak tahu-menahu tentang kebakaran itu dan sekarang Sandy malah
harus berusaha keras menenangkan mereka.

Pertama-tama ia berbicara dengan ibunya, jadi ia berbicara dalam bahasa Indonesia.

“Ya, Sandy nggak apa-apa, Ma. Nggak ada yang luka. Apinya memang besar dan
Sandy nggak sempat mengambil barang-barang… Apa? … Oh, setahu Sandy sih nggak
ada yang meninggal. Semuanya selamat… Tapi pemadam kebakarannya agak
terlambat, jadi apartemen Sandy sudah hangus semua.”


Tiba-tiba Sandy mendengar suara ayahnya di ujung sana dan ia ganti berbicara
dalam bahasa Korea. “Ayah, Ayah tidak usah khawatir begitu. Aku tidak apa-apa.
Sungguh. Tidak terluka sedikit pun. Mama kenapa?”

Sepertinya ibunya sedang berusaha merebut telepon dari tangan ayahnya. Sandy
tersenyum sendiri mendengar ibunya yang tidak sabaran. Akhirnya ibunya kembali
menguasai telepon sehingga Sandy kembali berbicara dalam bahasa Indonesia.

“Sandy, bagaimana kalau kamu pulang dulu ke sini untuk sementara?” ibunya
menawarkan.

Sandy tertawa kecil. “Sandy kan masih harus kuliah. Mama ini bagaimana?”

“Jadi, sekarang kamu tinggal di rumah siapa?” tanya ibunya langsung.

Sandy bingung harus menjawab apa. “Sekarang? … Ng, sementara ini Sandy tinggal
di rumah teman. Dia tinggal sendiri jadi nggak keberatan kalau Sandy numpang
sebentar. Lagi pula di rumahnya ada kamar kosong. Hari ini rencananya Sandy mau
cari tempat tinggal baru.”

“Kamu bukan tinggal di rumah Young-Mi?” tanya ibunya lagi.

“Bukan. Mama kan tahu sendiri rumah Young-Mi hanya cukup untuk mereka
sekeluarga. Kalau tinggal di sana, Sandy hanya bakal menambah beban Paman dan
Bibi, kan? Young-Mi sudah meminjamkan pakaiannya untuk Sandy, jadi Sandy nggak
mau lebih merepotkan lagi.”

“Oh, begitu? Terus, siapa nama teman kamu itu? Berapa nomor teleponnya?
Alamatnya di mana?”

Sekarang Sandy agak enggan menjawab, “Teman Sandy?”

“Iya, teman kamu yang mengizinkan kamu tinggal di rumahnya itu. Siapa
namanya? Mama kenal dia?”

“Oh… oh… itu…” Dilema. Apakah ia harus berterus terang?

“Jangan-jangan kamu sekarang ada di rumah artis itu.”

Kata-kata ibunya seperti petir di siang bolong. Jadi ibunya sudah tahu? Bagaimana
bisa?

“Mama ini ngomong apa sih?” Sandy masih berusaha mengelak.

“Ada teman Mama yang cerita.” Suara ibunya berubah datar. “Jadi?”

Sandy tidak bersuara. Ia duduk bersila di tempat tidur sambil menatap jari-jari
kakinya.

“Coba bilang terus terang sama Mama, apa kamu memang punya hubungan
dengan artis itu?”

Sandy menelan ludah dan menarik napas pelan. “Memang kenal,” sahutnya agak
takut-takut.


“Kenal? Seperti apa?” desak ibunya. “Terus, bagaimana ceritanya sampai kamu
sekarang ada di rumahnya?”

Sandy menggigit bibir dan akhirnya memilih berterus terang. “Ma, kami sama sekali
nggak ada hubungan apa-apa. Sandy hanya bermaksud membantu Jung Tae-Woo ssi,
nggak lebih dari itu. Mama harus percaya sama Sandy. Memang benar, Sandy sekarang
tinggal di rumahnya, tapi ini juga hanya untuk sementara.”

Sandy mendengar ibunya mendesah lirih. “Mama nggak tahu, Sandy. Memangnya
kamu nggak punya teman lain yang bisa membantu? Kenapa harus di rumahnya?”

Sandy memejamkan mata, salah satu tangannya terangkat ke kening.

Ibunya melanjutkan lagi, “Entahlah, Sandy, Mama benar-benar nggak tahu harus
ngomong apa. Terus terang saja, Mama merasa… Kenapa artis itu lagi?”

Sandy juga pernah berpikir seperti itu. Sejak ia mengatakan setuju membantu Jung
Tae-Woo, setiap hari ia selalu teringat pada hal-hal yang tidak seharusnya diingat-ingat
lagi. “Tapi, Ma, Jung Tae-Woo ssi orang yang baik,” katanya.

“Kamu sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang
nggak. Terserah keputusanmu saja,” kata ibunya. “Mama akan mengirimkan pakaian
untukmu. Kamu perlu apa lagi?”

Setelah ibunya menutup telepon, Sandy duduk merenung. Dadanya terasa sesak. Ia
menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Cara itu biasa
dilakukannya untuk menenangkan diri.

”Nona.”

Sandy menoleh ke arah pintu kamar ketika mendengar suara Bibi Chon
memanggilnya dari luar. Sandy segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu. Ia
membuka pintu dan melihat wajah Bibi Chon yang berseri-seri.

Sebelum Sandy sempat membuka mulut, Bibi Chon sudah lebih dulu mengulurkan
tangan dan berkata, “Saya menemukan ini di lantai. Apakah ini milik Anda?”

Sandy menatap benda yang ada di telapak tangan Bibi Chon. Benda itu bros
berbentuk hati dan berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan.
Tenggorokannya tercekat. Ia baru ingat, di malam kebakaran itu ia sedang
memandangi bros tersebut. Ternyata waktu itu tanpa sadar ia lalu memasukkannya ke
saku piama. Sandy bahakn sudah hampir melupakannya sampai benda itu muncul lagi
di hadapannya sekarang.

“Apakah ini milik Anda?” Bibi Chon mengulangi pertanyaannya.

Sandy tersentak. “Ya, benar. Terima kasih sudah menemukannya.”

Sandy menerima bros itu dan Bibi Chon kembali mengerjakan tugasnya. Sandy
menutup pintu kamar. Ia kembali duduk di tempat tidur sambil menatap bros itu. Ia
mendongak memandang langit-langit kamar, menarik napas panjang sekali lagi, lalu


mengembuskannya perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali, dan tiba-tiba saja air matanya
bergulir turun. Ia menghapusnya dengan telapak tangan, lalu menarik napas panjang
dan mengembuskannya lagi.





Kang Young-Mi merapikan rambutnya yang tertiup angin dengan jari-jari tangan. Ia
dan Sandy sedang duduk-duduk di kafe langganan mereka. Karena cuaca sore hari ini
bagus sekali, mereka memilih meja di luar yang dinaungi payung besar bergaris-garis
biru dan putih. Young-Mi mengamati temannya yang duduk di hadapannya dengan
dahi berkerut. Sandy sedang mengaduk-aduk cappuccino-nya dengan gerakan lambat.
Young-Mi merasa sikap temannya agak lain. Akhir-akhir ini Sandy sering melamun,
sepertinya banyak sekali yang dipikirkannya. Young-Mi pernah berusaha mencari tahu
apa yang ada dalam benak Sandy, tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan.

“Soon-Hee, hari ini Jung Tae-Woo pulang, ya?” tanya Young-Mi sambil lalu.

Sandy tidak menjawab, bahkan mengangkat wajah pun tidak. Ia masih terus
mengaduk cappuccino-nya.

Kang Young-Mi menarik napas dalam-dalam. “Hei, Han Soon-Hee!”

Kali ini Sandy tersentak dan menatapnya dengan pandangan bertanya. “Apa?
Kenapa?”

“Aku tanya, Jung Tae-Woo kembali hari ini, bukan?”

“Oh, tidak. Tadi siang dia menelepon dan bilang tidak jadi pulang hari ini,” jawab
Sandy sambil mengangkat bahu. “Katanya ada urusan mendadak atau semacamnya.
Mungkin besok baru pulang.”

“Begitu?” Young-Mi mengangguk-angguk dan terdiam. Setelah berpikir sebentar, ia
bertanya lagi, “Wah, jangan-jangan dia selingkuh dengan artis Jepang?”

Sandy tertawa ringan. “Kalau dia memang bisa selingkuh atau setidaknya punya
hubungan dengan wanita, bukankah sejak awal aku tidak dibutuhkan?”

Young-Mi ikut tertawa. “Benar juga,” katanya. “Jadi kau akan pindah setelah dia
pulang nanti?”

Sandy mengangkat wajah dan memiringkan kepala. “Mmm, begitulah. Rasanya
tidak enak kalau aku pindah begitu saja tanpa bilang dulu padanya, kan?”

Young-Mi mencondongkan tubuhnya ke depan. “Maksudku, kenapa kau tidak
tetap tinggal di rumah Jung Tae-Woo saja? Aku rasa dia tidak akan keberatan.”

Mata Sandy melebar. “Kau gila? Kalau ketahuan, itu bisa jadi skandal besar! Para
wartawan tabloid gosip bakal jungkir balik saking senangnya,” katanya. “Lagi pula
ibuku juga marah-marah. Akan jauh lebih baik kalau aku punya tempat tinggal sendiri.


Masa aku bisa berdiam diri membiarkan Jung Tae-Woo menanggungku? Masa dia mau
menanggungku? Yang benar saja.”

Young-Mi berdeham, menatap kesepuluh kuku jari tangannya yang dipotong rapi
dan berkata, “Bukankah dia suka padamu?”

Walaupun Sandy tidak menunjukkan ekspresi apa pun, sudah tentu Young-Mi bisa
menduga hubungan Soon-Hee dan Jung Tae-Woo tidak sesederhana yang mereka
katakan. Ia yakin Jung Tae-Woo tertarik pada Sandy. Kenapa ia bisa yakin? Karena
Jung Tae-Woo mengizinkan gadis itu tinggal di rumahnya, membelikan ponsel
untuknya, dan merayakan ulang tahunnya. Lalu selama berada di Jepang, laki-laki itu
sering menelepon Sandy, kalau tidak menelepon, ia akan mengirim pesan singkat
melalui ponsel. Young-Mi nyaris yakin sebenarnya Sandy juga tertarik pada Jung Tae-
Woo, tapi ia tidak punya alasan kuat yang mendukung keyakinannya itu. Sandy snediri
tidak pernah secara blakblakan mengatakan ataupun menunjukkan perasaan tentang
masalah yang satu ini.

“Bagaimana?” tanya Young-Mi. “Kau sendiri juga bisa merasakannya, kan?”

Sandy menatapnya sambil tersenyum samar. “Merasakan apa? Kau ini ada-ada saja.
Oh ya, aku belum berterima kasih padamu karena sudah seharian ini kau menemaniku
mencari apartemen baru. Kau mau membantuku memilih perabot, kan? Harus
kukatakan dulu bahwa aku hanya sanggup membeli beberapa perabot dasar. Kalau
pindah nanti, aku pasti akan membutuhkan bantuanmu lagi.”

Young-Mi tidak berkomentar apa-apa. Ia mengembuskan napas perlahan dan
bersandar kembali ke kursi plastiknya. “Tentu saja,” katanya setelah terdiam beberapa
saat. “Aku akan membantumu.”





Tae-Woo melepaskan kacamata hitam setelah mobil yang ditumpanginya melaju di
jalan dan meninggalkan bandara. Ia menyandarkan kepala ke kursi dan menoleh ke
arah Park Hyun-Shik yang duduk di sampingnya.

“Hyong, sekarang kita ke mana?” tanyanya.

Park Hyun-Shik menjawab, “Bukankah tadi kita bilang mau minum-minum
bersama yang lain? Para anggota staf juga sudah bekerja keras di Jepang. Sudah
sepantasnya mereka bersenang-senang sedikit. Kau juga.”

Tae-Woo berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponsel dari balik jasnya. Ia menekan
tombol sembilan dan menempelkan ponselnya ke telinga.

Park Hyun-Shik tersenyum. “Menelepon dia?”

Tae-Woo memandang manajernya dan mengedipkan mata.


“Irinya,” kata Park Hyun-Shik sambil mendesah. “Mungkin aku juga harus mencari
pacar.”

Tae-Woo tidak menanggapi kata-kata manajernya karena suara Sandy sudah
terdengar di ujung sana.

“Oh, ini aku,” kata Tae-Woo. Ia merasa semangatnya naik begitu mendengar suara
gadis itu.

“Kau sudah sampai?”

“Mmm, kau di mana?”

“Di rumahmu. Eh, kau masih ada kerjaan?”

“Tidak. Kenapa?”

“Pulang makan?”

Tae-Woo tertawa pelan. “Memangnya di rumah ada yang bisa dimakan?”

“Tentu saja ada. Pulang makan ya? Aku tunggu.”

“Oke,” kata Tae-Woo. “Aku pulang sekarang.”

“Hei, kau tidak jadi minum-minum dengan kami?” tanya Park Hyun-Shik begitu
Tae-Woo menutup ponsel.

Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali saja, aku yang traktir.”
Kemudian ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.





“Wah, sebenarnya kita sedang merayakan apa? Kenapa makanannya banyak sekali?”
tanya Tae-Woo begitu ia masuk ke dapur.

Sandy yang mengenakan celemek dan sarung tangan tahan panas sedang
meletakkan sepanci kimchi jjigae* panas di meja. Ia mengangkat kepala ketika Tae-Woo
muncul. Senyumnya mengembang. “Sudah pulang? Bagaimana perjalananmu?”

Melihat makanan yang ada di meja juga Sandy yang mengenakan celemek, lalu
mendengar gadis itu menanyakan bagaimana perjalanannya, Tae-Woo jadi merasa
agak kikuk.

“Jung Tae-Woo ssi, kau kenapa?”

Tae-Woo tersentak dan memandang gadis di hadapannya. “Apa? Oh, perjalananku
baik-baik saja.”

Sandy memeriksa kesiapan hidangan di meja, lalu beralih memandang Tae-Woo.
“Ayo, kita makan.” Ia melepaskan celemek dan sarung tangannya.

Tae-Woo duduk dan bertanya, “Kau yang masak semua ini?”





* Sup kimchi. Kimchi adalah acar khas Korea, terbuat dari sawi putih yang dipedaskan.


Sandy duduk di hadapannya. “Aku ingin menjawab „Benar, akulah yang
memasaknya., tapi kenyataannya bukan.” Ia tertawa kecil. “Tadi pagi aku meminta Bibi
Chon memasaknya. Aku hanya tinggal memanaskan.”

Tae-Woo tersenyum dan mulai makan.

Sandy mencondongkan tubuh ke depan. “Bagaimana? Enak?”

Tae-Woo mengangguk. “Mmm, tentu saja. Ngomong-ngomong, apakah ada yang
sedang dirayakan?”

Sandy memiringkan kepala dan berpikir-pikir. “Mmm, tentu saja ada. Banyak.”

“Banyak? Seperti apa?”

“Kita merayakan kepulanganmu dari Jepang,” kata Sandy. “Apakah kau tahu hari
ini tepat satu bulan sejak pertama kali kita bertemu? Itu bisa dirayakan. Kau juga boleh
menganggap ini sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah banyak membantuku.”

Tae-Woo tersenyum dan mengangguk-angguk. “Ada lagi?”

“Kita juga bisa merayakan apartemen baruku.”

Tae-Woo mengangkat wajah dan menatap Sandy. “Kau sudah mendapatkan
apartemen?”

Sandy mengangguk tegas. “Ya, besok aku akan pindah.”

“Kenapa?” tanyanya tanpa berpikir.

Sandy tertawa kecil. “Jung Tae-Woo ssi, kau tidak mungkin berpikir aku akan
tinggal di sini dan menjadi bebanmu selamanya, bukan?”

“Beban apa?” kata Tae-Woo.

Sandy tidak mengacuhkan pertanyaan itu dan terus berbicara, “Lagi pula, kalau
wartawan tahu kita tinggal bersama, mereka pasti berpikir kita sudah bertunangan dan
akan segera menikah. Memangnya kau mau membuat skandal baru lagi?”

Ah, perjanjian untuk menghapus gosip gay. Akhir-akhir ini Tae-Woo sering
melupakan hal yang satu itu.

“Menurut persetujuan yang dulu, aku hanya akan menjadi pacarmu dalam foto.
Jadi aku tidak bisa menikah denganmu,” kata Sandy dan tertawa.

Tae-Woo tahu Sandy hanya bergurau, tapi ia sedang tidak ingin ikut tertawa. Ia
hanya menunduk dan meneruskan makannya.

Sandy berdeham. “Jung Tae-Woo ssi, sebenarnya perjanjian kita sampai kapan? Aku
sudah melakukan semua yang disebutkan dalam kesepakatan, bukan? Kita sudah
berfoto, aku bahkan sampai dikejar-kejar wartawan. Gosip gay sudah tidak terdengar
lagi, kurasa sudah cukup.”

Tae-Woo mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu?”

“Apa maksudku? Jung Tae-Woo ssi, aku kan tidak bisa membantumu selamanya.
Aku juga punya kesibukan sendiri, punya kehidupan sendiri. Sejak orang-orang


mengenalku sebagai „kekasih Jung Tae-Woo., hidupku tidak sama lagi. Aku bukan artis
dan aku tidak terbiasa dengan hal-hal semacam itu.”

“Begitu? Kupikir banyak orang ingin punya kekasih orang terkenal.”

Sandy tersenyum. “Kau benar. Aku juga pernah berandai-andai seperti itu.
Alangkah senangnya kalau kekasihku artis. Teman-temanku pasti iri setengah mati.” Ia
memandang Tae-Woo dengan sorot mata geli. “Tapi kenyataan tidak persis seperti itu.
Walaupun aku hanya kekasih gadungan Jung Tae-Woo, itu saja sudah cukup sulit
bagiku.”

“Jadi kau tidak mau punya kekasih artis?” tanya Tae-Woo hati-hati.

Sandy memiringkan kepala sambil merenung, lalu menjawab, “Tidak. Sebaiknya
tidak.”

Tae-Woo meletakkan sendoknya. “Kalau begitu, apakah aku harus berhenti?”

Ia mengangkat wajah dan melihat Sandy sedang menatapnya dengan pandangan
bertanya. “Kau bilang apa?” tanya gadis itu.

“Apakah harus berhenti menjadi penyanyi?” Tae-Woo mengulangi kata-katanya.

“Memangnya kenapa harus berhenti?”

Tae-Woo menatap mata Sandy dan berkata, “Karena sepertinya aku menyukaimu.”





“Karena sepertinya aku menyukaimu.”

Apakah ia salah dengar? Tidak, Jung Tae-Woo memang mengatakannya. Sandy
kaget mendengar pengakuan itu keluar dari mulut Jung Tae-Woo. Apakah dia sedang
bercanda? Tidak, sepertinya tidak. Raut wajahnya serius. Lalu? Bagaimana?

“Jadi bagaimana? Apakah aku harus mulai mencari pekerjaan lain?” tanya Jung
Tae-Woo lagi, lebih pada dirinya sendiri.

Sandy mengerjapkan mata dan menyadari Jung Tae-Woo sedang memerhatikannya
lekat, menanti jawaban.

“Aku tidak sedang bercanda,” kata Jung Tae-Woo, seakan bisa membaca isi pikiran
Sandy.

“Aku tahu,” sahut Sandy. Itulah yang ditakutkannya, bahwa Jung Tae-Woo tidak
bercanda. Lalu ia tersenyum, “Tapi sebaiknya kau tetap jadi penyanyi saja.”

“Menurutmu begitu?”

Sandy mengalihkan pandangan dari Jung Tae-Woo dan berkata, “Tentu saja. Karena
kau memang cocok menjadi penyanyi.” Ia bangkit dari kursinya. “Kalau kau sudah
selesai makan, biar kubereskan. Kau baru pulang. Istirahat saja.”


Jung Tae-Woo tepekur sejenak, lalu ia mengangguk dan bangkit. “Baiklah. Maaf
merepotkanmu. Besok… mungkin aku tidak bisa membantumu pindah rumah. aku
harus pergi pagi-pagi sekali.”

Sandy tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Young-Mi akan membantuku.”

Jung Tae-Woo mengangguk lagi, kemudian ia berbalik dan berjalan ke arah tangga.

Sandy memandangi punggung laki-laki itu. Ketika Jung Tae-Woo menginjak anak
tangga kedua, ia memanggilnya, “Jung Tae-Woo ssi.”

Jung Tae-Woo menoleh. “Ada apa?”

“Terima kasih.”

“Terima kasih? Untuk apa?”

Karena menyukaiku.

“Untuk segalanya. Terima kasih.”






















































Dua Belas









“KAu sedang membaca atau tidak?”

Sandy tersadar dari lamunan dan mengangkat wajah. Kang Young-Mi yang duduk
di hadapannya sedang memerhatikannya dengan alis terangkat.

“Mm?”

Young-Mi menutup buku yang dibacanya dan melipat tangan di meja. “Kita masuk
ke perpustakaan ini satu jam lalu. Tapi selama setengah jam terakhir kau hanya
memelototi halaman yang itu-itu terus. Kau memegang bolpoin, tapi tidak menulis.
Kau melihat buku, tapi tidak membaca. Han Soon-Hee, apa yang sedang kaupikirkan?”

Sandy tertawa kecil dan membalikkan halaman bukunya. “Tidak ada. Hanya
sempat bosan dan melamun sebentar.”

Young-Mi mengetuk-ngetukkan jari di meja. “Jung Tae-Woo tidak menghubungi-
mu?”

“Mm,” gumam Sandy tanpa memandang temannya. “Sudah hampir satu bulan aku
tidak berhubungan dengannya. Lagi pula untuk apa? Masalah di antara kami sudah
selesai. Aku sudah membantunya seperti yang dia minta. Tidak ada lagi yang bisa
kulakukan.”

“Untunglah wartawan berhenti mengejar-ngejarmu,” kata Young-Mi. “Akhirnya,
meski sudah tahu namamu, mereka belum pernah mendapatkan foto-fotomu yang
jelas. Kau tidak mungkin hidup setenang ini kalau wajah aslimu terpampang di media
cetak.”

Saat itu ponsel Sandy yang tergeletak di meja bergetar pelan. Ia meraihnya dan
membaca tulisan yang muncul di layar. Lee Jeong-Su.

“Halo?”

“Soon-Hee, punya waktu sekarang?” suara laki-laki itu terdengar lesu.


Sandy ragu sejenak. “Ada apa?”

“Keluarlah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Sandy menutup ponsel dan memandang Young-Mi.

“Kenapa? Lee Jeong-Su mau bertemu lagi?” tebak Young-Mi.

Sandy tersenyum samar dan membereskan buku-bukunya. “Aku pergi dulu ya?”





Langit sudah nyaris gelap ketika Sandy tiba di depan kafe yang disebutkan Jeong-Su.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat laki-laki itu sudah menunggunya di dalam. Lee
Jeong-Su sedang duduk bersandar di sana dengan segelas air putih di meja. Sesekali ia
melirik jam tangan dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.

Sandy masih ingat betapa dulu ia sangat memercayai laki-laki itu. Betapa dulu ia
sangat menyukainya.

Sandy membuka pintu kafe dan terdengar bunyi dentingan halus. Pelayan
menghampirinya dan Sandy segera berkata padanya bahwa temannya sudah
menunggu. Dengan langkah ringan, Sandy menghampiri Lee Jeong-Su. Laki-laki itu
duduk membelakangi pintu, sehingga tidak menyadari kehadiran Sandy.

“Sudah menunggu lama?” tanya Sandy sambil menarik kursi di hadapan Jeong-Su
lalu duduk.

Jeong-Su tersentak dan senyumnya mengembang. “Oh, tidak. Aku juga baru
datang.”

“Jus jeruk,” kata Sandy kepada pelayan yang menanyakan pesanannya.

Setelah pelayan itu pergi, Sandy memandang Lee Jeong-Su. “Ada apa memanggilku
ke sini?”

“Bagaimana kabarmu?”

Sandy tersenyum. “Baik-baik saja. Seperti yang kaulihat. Kau sendiri?”

Lee Jeong-Su meneguk airnya, lalu terdiam sejenak. Akhirnya ia berkata, “Aku
sudah berpisah dengannya.”

“Oh? Memangnya kenapa?”

Jeong-Su menatap mata Sandy dan menjawab dengan nada yakin, “Karena
kukatakan padanya aku masih belum bisa melupakanmu.”

Alis Sandy terangkat karena terkejut. “Apa?”

“Itu benar,” kata Jeong-Su menegaskan.

Saat itu pelayan mengantarkan jus jeruk yang dipesan Sandy. Sandy mengucapkan
terima kasih dengan kikuk, lalu kembali memandang Lee Jeong-Su. Laki-laki itu begitu
tampan, dan selama mereka bersama ia selalu bersikap baik kepada Sandy. Tentunya
sampai laki-laki itu meninggalkannya. Namun dari dulu, salah satu kelemahan Lee


Jeong-Su adalah tidak bisa memantapkan keputusan. Ia tidak bisa bertahan lama pada
satu pendirian.

“Soon-Hee, bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi?” tanyanya. Raut
wajahnya begitu bersungguh-sungguh. Sandy bisa merasakan laki-laki itu memang
serius.

Perlahan Sandy mengaduk jus jeruknya. “Aku akan jujur padamu. Ketika kita
berpisah dulu, selama beberapa waktu perasaanku kacau sekali. Aku tidak mengerti
kenapa kau meninggalkanku. Aku selalu berpikir, apa yang sudah kulakukan... apa
yang belum kulakukan... sampai kau bisa membuat keputusan seperti itu.”

Lee Jeong-Su bergerak-gerak gelisah di kursinya.

“Selama beberapa waktu, aku sering memikirkanmu dan segala hal yang
berhubungan denganmu,” Sandy melanjutkan. “Tapi kemudian segalanya berubah.
Perlahan-lahan, entah sejak kapan dan entah bagaimana, ada sesuatu yang lain yang
menggantikan dirimu dalam pikiranku.”

Lee Jeong-Su menatap gelasnya. “Maksudmu?”

Sandy tidak menjawab. Ia hanya meminum jus jeruknya dengan pelan.

Lee Jeong-Su mengangkat wajahnya dan menatap Sandy. “Kau sungguh-sungguh
tidak bisa—setidaknya mau mencoba—kembali padaku?”

Sandy menarik napas, lalu berkata, “Aku bisa melupakan semuanya, tapi aku tidak
akan kembali pada orang yang sudah meninggalkanku.”

Lee Jeong-Su tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Sandy dengan
pandangan menerawang.





“Sudah lihat?”

Tae-Woo tidak menjawab. Ia terus memandangi tabloid yang tadi disodorkan
manajernya. Ada artikel yang menyebutkan hubungan Jung Tae-Woo dan kekasihnya
mulai retak karena kekasihnya itu menemui pria lain. Pria lain? Apakah mantan pacar
Sandy?

“Kau sudah menghubungi Sandy?”

Tae-Woo mendengar pertanyaan itu, tapi tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab.
Ia sedang berpikir.

“Tae-Woo.”

Sepertinya Park Hyun-Shik mulai kehilangan kesabaran. Tae-Woo mengangkat
wajah dan meletakkan tabloid itu di meja kerja manajernya.

“Belum, aku belum menghubunginya,” jawabnya tenang.

“Kenapa kau bisa setenang itu? Kau sudah punya rencana?” desak Park Hyun-Shik.


Tae-Woo menggeleng dan tersenyum. “Tidak juga. Hyong mau aku melakukan apa?
Bukankah sudah pernah kukatakan bantuan Sandy kepada kita sudah selesai. Dia
bukan kekasih Jung Tae-Woo lagi, baik di dalam maupun di luar foto.”

Park Hyun-Shik jelas terlihat bingung mendengarnya. “Jadi maksudmu, kau akan
membiarkan masalah ini? Bagaimana kau akan menghadapi wartawan kalau mereka
bertanya?”

“Aku bisa menghadapinya. Hyong tenang saja.”

“Aku heran, sudah satu bulan terakhir ini kau tidak menghubungi Sandy,” kata
Park Hyun-Shik setelah terdiam beberapa saat. “Kau benar-benar tidak mau bertemu
dengannya lagi?”

Tae-Woo hanya tersenyum.

Park Hyun-Shik mengerutkan kening. “Biasanya aku tidak pernah salah tentang
hal-hal seperti ini.”

“Hal-hal seperti apa?”

“Kukira kau menyukainya. Apakah aku salah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku sudah ditolaknya.”

“Ah, begitu? Lalu kau menyerah begitu saja?”

“Tidak.”

“Aku tidak mengerti. Sekarang kau sama sekali tidak menghubunginya. Apa
maksudmu dengan tidak menyerah?”

Senyum Tae-Woo bertambah lebar. Ia mengedipkan mata ke arah manajernya, tapi
tidak berkata apa-apa.





“Soon-Hee! Soon-Hee!”

Sandy sedang duduk melamun di bangku panjang di taman kampus ketika ia
mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat Kang Young-Mi berlari ke
arahnya. Benar-benar berlari. Ia tak pernah melihat temannya itu berlari sebelumnya.

“Astaga, capek sekali,” kata Young-Mi dengan napas terengah-engah begitu ia tiba
di samping Sandy.

“Sini, duduk dulu,” kata Sandy sambil bergeser memberi tempat untuk temannya.

Tanpa berkata apa-apa, Young-Mi menyodorkan tabloid yang sedang dipegangnya
kepada Sandy. Perhatian Sandy langsung tertuju pada artikel yang terpampang di
hadapannya.

“Apa ini?” tanyanya dengan kening berkerut.


Young-Mi masih sibuk mengatur napas sehingga tidak bisa menjawab.

Sandy membaca artikel itu tanpa bersuara. Setelah selesai, ia melipat kembali
tabloid tersebut dan menarik napas.

“Bagaimana?” tanya Young-Mi.

Sandy mengangkat bahu. “Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menulis berita
seperti ini.”

Young-Mi mengibaskan tangan dengan tidak sabar. “Bukan itu. Maksudku, apakah
menurutmu Jung Tae-woo yang mengatakan pada wartawan? Bukankah kau memang
tidak membantunya lagi? Jadi bagaimanapun Jung Tae-Woo memang harus „putus.
dengan „pacarnya..”

Sandy tertegun, lalu memiringkan kepala. “Entahlah,” katanya.

“Kau tidak mau bertanya kepadanya?”

Sandy berpaling ke arah temannya dengan kaget. “Tanya apa?”

Young-Mi mendengus jengkel. “Astaga, kau...”

Bagaimana ia bisa bertanya pada Jung Tae-Woo? Sudah satu bulan mereka tidak
bertemu dan berbicara. Lagi pula, Jung Tae-Woo memang tidak mungkin memperta-
hankan cerita tentang kekasihnya, sementara orang yang membantunya menjadi
“pacar” sudah tidak mau membantu lagi.





Young-Mi menatap temannya yang duduk di sampingnya dengan kesal. Ia tidak bisa
percaya Sandy tidak mau melakukan apa-apa tentang artikel yang ditunjukkannya itu.
Menurutnya, setidaknya Sandy bisa menelepon Jung Tae-Woo dan bertanya atau
menjelaskan situasi yang sebenarnya. Atau apa pun. Tapi anak bodoh itu hanya duduk
melamun. Walaupun orang-orang masih tidak mengenali Han Soon-Hee yang sedang
duduk melamun seperti orang bodoh ini sebagai Han Soon-Hee pacarnya Jung Tae-
Woo, Young-Mi merasa temannya ini harus tetap menjaga nama baiknya. Kenapa anak
itu tidak keberatan disebut-sebut sebagai tukang selingkuh?

Young-Mi mengibaskan rambut ke belakang dengan perasaan jengkel. Bisa jadi
malah Jung Tae-Woo yang mengatakan semua cerita itu pada wartawan untuk
menyelamatkan reputasinya sendiri. Ya, itu mungkin saja.

“Hei, Soon-Hee. Bagaimana kalau Jung Tae-Woo yang melakukan semua itu?”
desaknya sekali lagi.

Alis Soon-Hee terangkat. “Menurutmu begitu?”

Young-Mi mengangkat bahu. “Mungkin saja, bukan? Makanya, kenapa kau tidak
bertanya langsung kepadanya?”


Sebelum Sandy sempat menjawab, ponselnya berbunyi. Young-Mi melihat
temannya buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan membukanya.

Jung Tae-Woo?

“Halo?” Raut wajah Soon-Hee berubah sedikit.

Bukan Jung Tae-Woo.

“Ya, Mister Kim... Ya? Sekarang? ... Ya, saya mengerti.”

Sandy menutup ponselnya dan tersenyum kepada Young-Mi. “Young-Mi, aku
harus pergi sekarang, Mister Kim memintaku menemuinya.”

“Bosmu memang drakula penghisap darah,” celetuk Young-Mi. “Kau selalu bilang
mau berhenti, tapi tidak pernah sekali pun mulai menulis surat pengunduran diri.”

“Setidaknya jadwal kuliahku tidak pernah terganggu gara-gara dia,” Soon-Hee
membela atasannya. “Aku pergi dulu ya?”

Young-Mi memandangi temannya yang berjalan pergi, lalu memandang tabloid
yang sedang dipegangnya.

Sebaiknya masalah ini cepat diluruskan, sebelum para penggemar Jung Tae-Woo
mengamuk. Han Soon-Hee tidak tahu bagaimana liarnya para penggemar Jung Tae-
Woo kalau sudah dipancing. Mereka tidak akan rela idola mereka dicampakkan
seorang wanita.

Semoga saja masalah in cepat selesai.





“Miss Han, terima kasih karena sudah datang. Oh, terima kasih,” Mister Kim
menyambut Sandy dengan penuh semangat di dalam studionya yang seperti biasa;
berantakan. Hari ini rambut Mister Kim dicat kuning dan tubuhnya dibungkus jaket
kulit panjang yang kelihatannya sangat tebal. Sandy bertanya-tanya apakah Mister Kim
tidak merasa gerah.

Mister Kim menggerak-gerakkan jari tangannya ke arah beberapa pakaian yang
dibungkus plastik bening yang tergeletak di meja bundar di sudut ruangan. “Tolong
antarkan kepada Jung Tae-Woo, ya?”

Sandy mengerjap-ngerjapkan matanya. Siapa?

“Seperti yang kaulihat, Miss Han, aku sedang sibuk sekali dan tidak ada yang bisa
membantuku...”

Harus diantarkan kepada siapa?

“... Antarkan saja ke rumahnya. Kau sudah punya alamat rumahnya, bukan? ...”

Ke rumahnya? Rumah Jung Tae-Woo?

“... Jangan bilang kau sudah menghilangkan alamat itu, Miss Han. Aku sendiri tidak
tahu lagi di mana kusimpan alamatnya...”

Apa yang harus kukatakan kalau kami bertemu?


“... Katakan saja model pakaian itu bisa menjadikannya trendsetter di kalangan anak
muda...”

Apakah Mister Kim membaca pikiranku?

“... Nah, ide-ideku sedang berontak ingin keluar dari otak. Aku sedang merasa
kreatif sekali...”

Tidak, dia tidak membaca pikiranku.

“... Jadi pergilan sekarang juga, Miss Han, dan biarkan aku sendiri dengan ide-
ideku.”

“Menemui Jung Tae-Woo?” tanya Sandy agak bingung karena terlalu banyak hal
yang berlalu-lalang di benaknya.

“Bukan, ayahnya,” celetuk Mister Kim dari balik meja kerjanya, lalu melanjutkan
tanpa menunggu tanggapan, “tentu saja Jung Tae-Woo. Bukankah pakaian itu untuk
dia? Ayo, Miss Han, gerakkan kakimu.”

“Oh, ya.” Sandy cepat-cepat menghampiri meja bundar dan mengangkat pakaian-
pakaian yang ditunjukkan atasannya tadi.

Ketika ia memegang kenop pintu untuk membukanya, Mister Kim memanggil.
Sandy berbalik menunggu perintah selanjutnya.

Mister Kim sedang memegang tabloid, tabloid yang sama dengan yang ditunjukkan
Young-Mi tadi.

“Asal kau tahu saja, Miss Han. Aku tidak percaya sedikit pun berita ini,” kata Mister
Kim tiba-tiba sambil menunjuk artikel yang membahas Sandy itu. “Jadi cepat
selesaikan.”

Sandy kaget. apakah Mister Kim tahu tentang dirinya dan Jung Tae-Woo? Tidak
mungkin.

Karena tidak tahu harus bersikap bagaimana, Sandy hanya memaksakan seulas
senyum, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan itu.





Sandy sendiri tidak mengerti kenapa ia enggan bertemu Jung Tae-Woo. Mungkin
karena kata-kata Jung Tae-Woo ketika mereka bertemu terakhir kali itu. Mungkin juga
karena sudah lama tidak saling berbicara, jadi kalau harus mulai bicara lagi, sepertinya
agak aneh. Apa yang harus dikatakannya?

Sandy mendesah pelan sambil berjalan menyusuri jalan menuju rumah Jung Tae-
Woo.

“Mm? Mobil itu... seperti mobil Jung Tae-Woo,” Sandy bergumam sendiri ketika
melihat mobil merah yang diparkir di jalan itu, tidak terlalu jauh di depannya. Ia
menyipitkan mata memerhatikan mobil tersebut.


Seiring setiap langkah, semakin jelas terlihat ada tiga orang yang berdiri di dekat
mobil itu. Seorang laki-laki dan dua wanita. Laki-laki itu mengenakan topi dan
kacamata hitam. Dari jauh saja Sandy sudah bisa mengenali pria itu Jung Tae-Woo.
Sandy melihatnya sedang berbicara dengan dua wanita, bukan... lebih tepatnya dua
gadis yang sepertinya siswi sekolah menengah. Kedua gadis itu berbicara penuh
semangat sementara Jung Tae-Woo mendengarkan sambil sesekali tersenyum.

“Bagaimana, Oppa?”

Sandy mendengar salah satu gadis itu bertanya penuh harap.

Jung Tae-Woo tersenyum dan baru akan menjawab ketika matanya menangkap
sosok Sandy. “Oh.”

Sandy menghentikan langkahnya tidak jauh dari tiga orang itu. Ia tidak tahu harus
berbuat apa. Menyapa Jung Tae-Woo? Ya, tentu. Setidaknya itu pasti harus dilakukan
terlebih dulu.

Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Jung Tae-Woo sudah buru-buru
menghampirinya dengan wajah cerah.

“Sudah datang?” tanya Jung Tae-Woo begitu berdiri di sampingnya.

Sandy mengerjapkan mata dan menatap Jung Tae-Woo lalu beralih memandang
kedua gadis tadi. Mereka masih mengenakan seragam sekolah. Sepertinya baru pulang
sekolah. Kedua-duanya berambut panjang dan bertubuh tinggi kurus. Mereka juga
sedang memerhatikan Sandy dengan perasaan ingin tahu.

“Mereka Lee Mi-Ra dan Chon Jin-Ae,” kata Jung Tae-Woo memperkenalkan kedua
gadis tadi. Bagi Sandy nama-nama itu tidak berarti apa-apa. Ia yakin sebentar lagi ia
pasti lupa, tapi ia mengangguk.

Kedua gadis itu tersenyum kepadanya. Menurut Sandy senyum mereka agak
menakutkan.

“Apa kabar, Onni?” sapa mereka berdua bersamaan.

“Kami penggemar Tae-Woo Oppa,” kata salah seorang gadis itu, rambutnya agak
pirang. Sandy sudah lupa siapa namanya.

Oh... ternyata penggemar.

“Onni ini pacarnya Tae-Woo Oppa, ya?” tanya yang satunya lagi yang berambut
agak keriting.

Bagaimana menjawabnya? Sandy memandang Jung Tae-Woo yang diam saja, lalu
kembali memandang dua gadis di depannya itu.

“Kenapa?” tanyanya pada akhirnya.

Si keriting memandangi Sandy dari kepala sampai ke ujung kaki, lalu berkata pelan,
“Onni berbeda sekali dengan yang di dalam foto.”


Sandy baru menyadari bahwa selama ini, walau semua orang tahu Han Soon-Hee
adalah pacar Jung Tae-Woo, mereka tidak pernah melihat wajah Han Soon-Hee yang
sesungguhnya dengan jelas.

“Kami membaca di tabloid kalian berdua sudah berpisah karena Onni suka pada
pria lain,” sela si pirang dengan cepat.

Alis Sandy terangkat.

“Makanya kalian jangan langsung percaya pada apa yang kalian baca di tabloid,”
Jung Tae-Woo menyela. “Kalian lihat sendiri, kami masih baik-baik saja.”

Kedua gadis itu berpandangan, lalu mereka memandangi Sandy. Kini mata mereka
beralih ke Jung Tae-Woo.

Jung Tae-Woo menampilkan senyumnya yang paling menawan dan berkata,
“Baiklah, sekarang kalian pulang saja ya, sebelum orangtua kalian cemas. Hati-hati di
jalan.”

Sandy agak kaget ketika Jung Tae-Woo meraih pakaian-pakaian yang sedang
dijinjingnya.

“Sini, biar kumasukkan bawaanmu ke mobil,” kata Jung Tae-Woo.

Sandy membiarkan Jung Tae-Woo menuntunnya ke mobil. Jung Tae-Woo membuka
pintu mobil untuk Sandy, lalu langsung berjalan memutar ke sisi pengemudi.

Sebelum masuk ke mobil, Jung Tae-Woo sempat melambai kepada kedua
penggemarnya itu sambil berkata, “Sampai ketemu. Jangan keluyuran lagi. Langsung
pulang ke rumah, mengerti?”

“Ya,” jawab kedua gadis itu serentak.

Sandy juga ikut tersenyum kepada mereka, lalu masuk ke mobil. Memangnya apa
lagi yang bisa dilakukannya?

Ketika mobil sudah mulai melaju, Jung Tae-Woo mengembuskan napas lega.
“Untunglah kau datang,” katanya sambil menoleh ke arah Sandy. “Aku sudah
kehabisan akal tadi. Mereka memaksa mau ke rumahku. Masa tadi mereka sampai
mencegatku di tengah jalan.”

Sikap Jung Tae-Woo kelihatan biasa-biasa saja. Ia berbicara seakan-akan waktu
hampir sebulan tanpa berhubungan tidak pernah ada di antara mereka. Ternyata
kekhawatiran yang menguasai Sandy sejak tadi tidak beralasan. Jung Tae-Woo masih
seperti dulu.

Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo yang memegang kemudi dan menatap lurus ke
jalan. Jung Tae-Woo sudah melepaskan kacamata hitamnya, tapi ia masih memakai
topi. Sandy bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya Jung Tae-Woo baru pulang dari
mana. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai ke siku dan
celana jins yang agak longgar. Apakah baru dari acara pemotretan? Pandangan Sandy


kembali beralih ke wajah Jung Tae-Woo. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak melihat
laki-laki itu. Sekarang Jung Tae-Woo ada di sampingnya. Ia bisa melihatnya, bisa
mendengar suaranya. Entah kenapa, mendadak Sandy merasa lega. Saking leganya
sampai dadanya terasa sesak dan matanya terasa panas.

“Kenapa diam saja?” tanya Jung Tae-Woo tiba-tiba.

Sandy tersentak dan menyadari Jung Tae-Woo sedang menatapnya heran.

“Tidak apa-apa,” sahutnya sambil berpaling, memandang lurus ke depan. “Kenapa
kau tidak mengundang mereka ke rumahmu saja? Biar mereka puas. Bukankah kau
sangat memerhatikan penggemarmu?”

“Yang benar saja. Kalau mereka kuizinkan masuk, bagaimana kalau lain kali mereka
datang berbondong-bondong dan semua mau masuk?” kata Jung Tae-Woo sambil
tertawa.

Sandy ikut tersenyum, tapi kemudian ia teringat sesuatu. Pikiran ini membuatnya
mengerutkan kening. “Tadi sepertinya salah satu gadis itu memegang ponsel, tepat
sebelum aku masuk ke mobil. Gadis yang pirang.”

“Lalu kenapa? Apa yang aneh?” tanya Jung Tae-Woo tidak mengerti.

Sandy memiringkan kepala. “Tidak ada. Mungkin... mungkin hanya perasaanku.”

Beberapa saat kemudian Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan rumahnya.

Sandy mencondongkan tubuh ke depan dan memandangi rumah itu lewat kaca
depan mobil. Sudah lama ia tidak melihat rumah ini dan tiba-tiba ia merasa rindu.
Aneh sekali.

“Ayo, turunlah,” kata Jung Tae-Woo sambil melepaskan sabuk pengaman.

“Mm?”

Jung Tae-Woo memandangnya. “Bukankah kau ke sini untuk menemuiku?”

Sandy tersadar. “Oh, ya. Benar.” Ia segera membuka sabuk pengaman dan keluar
dari mobil.

Jung Tae-Woo sudah mengeluarkan pakaian-pakaian dari kursi belakang mobil.

Sandy mengikuti Jung Tae-Woo masuk ke rumah. Rumah itu sama seperti terakhir
kali ia tinggalkan. Tentu saja, pikirnya dalam hati. Memangnya sudah berapa tahun
aku tidak melihat rumah ini?

“Ayo, masuk,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan pakaian-pakaian dari Mister
Kim di meja ruang duduk. “Kenapa malu-malu begitu? Kau kan juga sudah pernah
tinggal di sini.”

Sandy mendengus, membuka sepatu, dan memakai sandal rumah yang sudah
tersedia. Kemudian ia menghampiri laki-laki itu.

“Nah, kenapa kau datang ke sini?” tanya Jung Tae-Woo. Ia berjalan ke dapur. “Mau
minum apa?”


“Itu.” Sandy menunjuk pakaian-pakaian di meja ruang duduk. “Mister Kim
memintaku membawakannya untukmu.”

Jung Tae-Woo hanya memandang tumpukan pakaian itu sekilas lalu membuka
lemari es. “Oh, kenapa repot-repot? Bukankah sudah kukatakan padanya aku akan ke
butiknya besok.”

Oh ya? Lalu kenapa Mister Kim menyuruhnya ke sini? Sandy heran.

Sebenarnya sejak pertama kali disuruh membawakan pakaian untuk Jung Tae-Woo,
ia sudah heran. Kenapa Mister Kim menyuruhnya membawakan pakaian untuk Jung
Tae-Woo? Biasanya tugas Sandy bukan itu. Tugas Sandy sebelumnya adalah semacam
asisten pribadi Mister Kim, bukan kurir.

“Mau minum apa?”

“Tidak usah.”

“Ya sudah, minum jus saja. Ini.”

Sandy menerima sebotol jus apel yang disodorkan Jung Tae-Woo.

“Jadi hanya itu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.

“Mm?”

“Kau kemari hanya untuk itu?”

“Oh,” gumam Sandy, lalu bertanya, “apa kabarmu? Baik-baik saja?”

Jung Tae-Woo meneguk air dan mengangguk. “Baik-baik saja.”

“Sibuk sekali?” tanya Sandy hati-hati.

Jung Tae-Woo berpikir sebentar. “Tidak juga,” jawabnya.

Sandy menarik napas dan mengangguk-angguk. Tidak sibuk. Tidak sibuk katanya.

“Kenapa?” Jung Tae-Woo menundukkan kepala sedikit untuk melihat wajah Sandy.

“Mm?” Lalu sebagai jawaban, Sandy hanya tersenyum dan menggeleng.

Jung Tae-Woo tersenyum. “Rindu padaku?”

Mata Sandy membesar. Apa katanya?

Senyum Jung Tae-Woo melebar. “Rindu padaku, kan? Aku benar, kan?”

Sandy mendengus pelan dan tertawa kecil. “Tidak.”

Jung Tae-Woo memasang wajah kecewa. “Tidak?”

“Tidak,” kata Sandy sekali lagi.

“Wah, berarti usahaku sia-sia,” kata Jung Tae-Woo sambil berjalan ke arah piano
putihnya.

“Usaha apa?” tanya Sandy.

Jung Tae-Woo duduk menghadap pianonya. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

Sandy menghampirinya. “Sudah lama tidak mendengarmu main piano,” kata Sandy
sambil berdiri bertopang dagu di piano Jung Tae-Woo. “Mainkan satu lagu.”

Jung Tae-Woo berpikir-pikir sejenak. “Aku akan main dengan satu syarat.”


Sandy mengangkat dagu, menantangnya. “Syarat apa?”

“Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku?” tanya Jung
Tae-Woo.

Sandy mengerutkan kening karena merasa lucu. “Syarat apa itu?”

“Setuju atau tidak?” tanya Jung Tae-Woo sambil memosisikan sepuluh jarinya di
atas tuts-tuts piano. Ia menatap Sandy lurus-lurus, menunggu jawaban.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” tanya Sandy lagi.

“Supaya aku bisa langsung berlari menemuimu,” jawab Jung Tae-Woo ringan.

Sandy tertegun. Ia merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Apakah laki-
laki itu sungguh-sungguh? Apa maksudnya?

Akhirnya Sandy berdeham dan berkata, “Baiklah, aku akan memberitahumu kalau
suatu saat nanti aku rindu padamu. Tapi kau tidak perlu berlari menemuiku, nanti kau
capek.”

Jung Tae-Woo tertawa. Tiba-tiba ia berseru pelan, “Ah, ada satu hal lagi sebelum
aku main!”

“Apa?”

Ia menatap Sandy. “Artikel itu,” katanya ragu-ragu. “Artikel tentang
„perselingkuhanmu. itu... bukan aku yang mengatakannya.”

“Oh...”

“Aku hanya ingin kau tahu,” kata Jung Tae-Woo lagi. “Jad kau tidak usah
mencemaskan masalah itu lagi. Serahkan saja padaku.”

Dalam hati, Sandy sudah tahu bukan Jung Tae-woo yang menyebarkan gosip
tersebut. Maka tanpa ragu ia pun langsung mengangguk.

“Tapi, apakah kau memang... maksudku, apakah sekarang kau memang dekat
dengan seseorang?”

“Kau sendiri yang bilang gosip-gosip seperti itu tidak bisa dipercaya. Kenapa
bertanya seperti itu?” tanya Sandy kesal.

“Aku memang tidak percaya. Makanya aku bertanya langsung padamu,” kata Jung
Tae-Woo membela diri. Aku ingin tahu jawabannya darimu.”

Sandy meringis. “Tidak, semua yang ditulis di artikel itu tidak benar.”

Jung Tae-Woo mengangguk. “Oke, aku percaya padamu. Ah, satu hal lagi.”

Sandy menghela napas. “Apa lagi? Kau sebenarnya mau main atau tidak?”

“Kalau suatu saat nanti aku rindu padamu, bolehkah kukatakan padamu?”

Pertanyaan itu membuat hati Sandy berdebar-debar lagi.

“Boleh...,” sahut Sandy, berusaha agar suaranya tidak terdengar gugup. “Terserah
kau saja.”

“Aku rindu padamu.”


Kali ini Sandy merasa jantungnya berhenti berdegup. Ia hanya bisa menatap laki-
laki yang sedang tersenyum itu. Ia tidak bisa mengucapkan apa pun, tidak bisa
memikirkan apa pun.

“Baiklah,” kata Jung Tae-Woo akhirnya. “Sekarang lagu apa yang harus
kumainkan?”




































































Tiga Belas









“SANDY, setelah Mama pikir-pikir, sebaiknya kamu jangan terlibat dengan artis itu
lagi.”

Sandy memindahkan ponsel ke telinga kirinya. “Mama, Sandy kan sudah bilang
bahwa hubungan Sandy dengan dia nggak seperti yang Mama kira.”

Di ujung sana, ibunya menghela napas berat dan berkata, “Mama ngagk peduli
kalian punya hubungan yang seperti apa, tapi yang penting, jangan bergaul dengan
artis itu. Atau artis mana pun.”

Giliran Sandy yang menarik napas panjang.

“Awalnya Mama pikir kamu bisa menyelesaikannya, tapi sepertinya nggak begitu,”
kata ibunya lagi. Suaranya terdengar sedih. “Kenapa kamu harus terlibat dengan dia?
Memangnya kamu sudah lupa tentang Lisa?”

Sandy terdiam. Ia merasa tidak perlu diingatkan pada masalah itu. Ia belum lupa.
Tidak pernah lupa. Bagaimana bisa lupa? Sejak pertama kali bertemu Jung Tae-Woo
sampai sekarang, setiap kali melihat Jung Tae-Woo, ia selalu teringat pada Lisa, selalu
bertanya pada dirinya sendiri apakah keputusannya benar. Kini ia merasa ada yang
salah pada keputusannya. Seharusnya ia memang tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo,
karena sekarang ini hatinya kacau, pikirannya kacau. Ia tidak bisa tenang karena belum
sepenuhnya jujur pada laki-laki itu.

“Jangan katakan masalah kali ini berbeda dengan masalah Lisa,” kata ibunya lagi.
“Karena walaupun berbeda, Mama nggak peduli. Tolong jangan terlibat dengan dia
lagi.”

Jung Tae-Woo orang yang baik, Ma,” kata Sandy.


“Mama nggak tahu apakah dia orang yang baik atau jahat,” sela ibunya cepat.
“Yang Mama tahu, kematian kakakmu ada hubungannya dengan dia. Jadi jauhi dia,
Sandy. Jauhi dia.”

Sandy tersentak. “Kenapa Mama bicara seperti itu? Mama bicara seakan-akan Jung
Tae-Woo sendiri yang menyebabkan kematian Lisa.”

“Bukan itu yang Mama katakan!” kata ibunya keras. “Mama hanya berpikir, kalau
saja waktu itu Lisa nggak ke Korea, kalau saja dia nggak ikut acara itu, sekarang dia
pasti masih hidup.”

Pada dasarnya ibunya bukan orang yang berpikiran sempit, Sandy tahu itu. Ibunya
bukan orang yang suka berandai-andai. Sebenarnya bukan ini yang Sandy harapkan
ketika ia memutuskan membantu Jung Tae-Woo. Saat itu tujuannya hanya untuk
mengenal Jung Tae-Woo, mengenalnya lebih baik. Hanya sebentar dan sebatas itu. Ia
tidak punya maksud apa pun. Bagaimana ia bisa tahu masalahnya bisa berubah jadi
seperti ini? Bagaimana ia bisa tahu bahkan perasaannya bisa berubah jadi seperti ini?

Setelah menutup telepon, Sandy bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela.
Ia menyingkap tirai dan memandang ke luar jendela. Hujan. Sudah berapa lama? Ia
tidak menyadarinya.

Sandy menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. Ia memegang pipinya yang
terasa hangat. Benar, kakak perempuannya, Lisa, sudah meninggal. Lisa dulu
penggemar Jung Tae-Woo. Lisa penggemar Jung Tae-Woo yang meninggal pada acara
jumpa penggemar empat tahun lalu. Siapa yang bisa menduga Lisa akan meninggal
hanya karena menghadiri acara jumpa penggemar? Sandy masih ingat ketika Lisa
meneleponnya empat tahun yang lalu.





“Sandy!” seru kakaknya gembira. “Acaranya baru selesai nih! Akhirnya aku ketemu Jung Tae-
Woo! Aku melihat dia! Aku bahkan bicara dengan dia! Oh ya, aku berhasil mendapatkan tanda
tangannya. Dapat dua. Satu buat kamu. Dan aku juga mendapat bros dari dia! Tadi dia
membagikan sepuluh bros kepada penggemar-penggemarnya. Salah satunya aku! Beruntung
banget, kan?”

Sandy hanya mendengus dan tertawa. “Aduh, senangnya. Pasti Onni satu-satunya orang
Indonesia di sana. Onni sempat bicara sama dia? Pakai bahasa apa? Memangnya Onni bisa
bahasa Korea?”

“Jangan anggap enteng Onni-mu ini ya,” kata kakaknya sambil tertawa. “Aku bisa bahasa
Inggris sedikit-sedikit. Bahasa Korea? Setidaknya aku bisa bilang „Sarang haeyo*, Tae-Woo
Oppa.. Itu yang paling penting.”

Sandy tersenyum mendengar tawa kakaknya di ujung sana.

“Kenapa sih kamu nggak mau ikutan? Rugi lho,” kata Lisa lagi.


Sandy meringis. “Ih, Onni kan tahu aku bukan penggemar Jung Tae-Woo. Untuk apa
berdesak-desakan demi melihat seseorang yang tidak aku suka? Memangnya seperti Onni yang
demi melihat Jung Tae-Woo saja harus naik pesawat ke sini.”

“Cinta perlu pengorbanan,” kata Lisa puitis, lalu tertawa lepas.

Sandy juga ikut tertawa.

“Ya sudah, sekarang aku lagi nunggu dia keluar,” kata Lisa. “Wah, mulai hujan nih. Oh,
nah, nah, nah... itu dia udah keluar. Udah dulu ya. Sebentar lagi aku pasti pulang. Jangan
makan dulu. Tunggu aku. Annyeong!**”

Itu terakhir kalinya Sandy mendengar suara Lisa. Lisa tidak pulang makan. Sandy
menunggunya pulang untuk makan, tapi dia tidak pulang. Setelah menunggu lama, telepon
berbunyi dan Sandy nyaris lumpuh mendengar berita itu. Ia tidak ingat apa yang dilakukannya
kemudian. Semuanya menjadi kabur. Kalau tidak salah, ia langsung menelepon orangtuanya di
Jakarta, lalu berlari ke rumah sakit. Lisa tidak membuka mata ketika Sandy tiba di rumah sakit.
Kakaknya tidak membuka mata saat Mama dan Ayah tiba di rumah sakit. Ia bahkan tidak
membuka mata ketika Mama memanggil namanya. Lisa tidak pernah membuka matanya lagi.





Sandy tersadar dari lamunan dan menyadari pipinya basah karena air mata. Ia
menghapusnya dengan telapak tangan, namun air mata tidak mau berhenti mengalir.

Sekarang harus bagaimana? Jung Tae-Woo... haruskah ia memberitahu laki-laki itu?

Tiba-tiba ponselnya berdering. Sandy tersentak. Ia memandang ponselnya yang
tergeletak di tempat tidur. Ia menghapus air mata dan meraih ponsel itu. Ia melihat
layar ponsel yang menyala. JTW. Jung Tae-Woo.

“Halo?”

“Sandy?” Terdengar suara Jung Tae-Woo. “Sudah makan?”

Tanpa sadar Sandy tersenyum. “Kau menelepon cuma untuk menanyakan itu?”

“Memangnya tidak boleh?” balas Jung Tae-Woo. “Sudah makan, belum?”

“Tentu saja sudah. Sekarang sudah lewat jam makan malam,” sahut Sandy. “Kau
belum makan?”

“Belum. Aku baru selesai syuting untuk acara televisi,” jawab Jung Tae-Woo, lalu
terdengar suara bersin.

“Kau kenapa? Flu?” tanya Sandy.

“Tidak. Hanya saja cuaca agak dingin hari ini,” ujar Jung Tae-Woo.

Sandy mendengar sepertinya Jung Tae-Woo sedang membersihkan hidungnya.





* Aku cinta padamu

** Sampai nanti.


“Sekarang sedang hujan. Jangan berkeliaran ke mana-mana. Pakai baju yang tebal
sedikit,” kata Jung Tae-Woo menasihati.

“Memangnya kau ibuku?” balas Sandy sambil tertawa kecil.

“Hanya berusaha menunjukkan sedikit perhatian. Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku
akan pergi makan dengan Hyun-Shik Hyong.”

“Jung Tae-Woo ssi.”

Ah, apakah dia barusan memanggil Jung Tae-Woo?

“Apa?”

Sandy tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Tadi ia hanya ingin mendengar
suara Jung Tae-Woo.

“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Jung Tae-Woo dengan nada khawatir.

Sandy menggeleng, tapi setelah menyadari Jung Tae-Woo tidak bisa melihatnya, ia
berkata, “Tidak, aku tidak apa-apa.”

“Lalu ada yang mau kaukatakan?”

Sandy tidak menjawab.

“Wah, jangan-jangan kau rindu padaku?” gurau Jung Tae-Woo.

“Mm.”

“Apa? Kau bilang apa?”

Sandy ragu-ragu sejenak, lalu menetapkan hatinya. “Mm, aku memang rindu
padamu.”

“Oke, itu artinya aku harus berlari menemuimu sekarang,” kata Jung Tae-Woo.

Sandy tertawa. “Itu tidak perlu.”

“Kau ada di rumah, kan? Tunggu di situ. Aku akan segera ke sana.”

“Jung Tae-Woo ssi, tidak usah. Lagi pula sedang hujan—Jung Tae-Woo ssi? Halo?
Jung Tae-Woo ssi. Astaga.” Sandy menatap ponselnya heran. Ada apa dengan laki-laki
itu? Apakah dia serius?





Tae-Woo hampir tidak bisa memercayai telinganya sendiri. Sandy rindu padanya. Ia
segera bangkit dari tempat duduk dan mengumpulkan barang-barangnya.

“Tae-Woo, kau mau makan di mana?” tanya manajernya yang baru masuk ke ruang
rias. “Mau makan bersama—hei, kau mau ke mana?”

Tae-Woo memandang Park Hyun-Shik sekilas dan berkata, “Maaf, Hyong. Aku
harus menemui Sandy sekarang.”

“Oh? Kenapa buru-buru seperti itu?” tanya manajernya lagi. “Apa yang terjadi?
Sandy kenapa?”


Tae-Woo yang sudah berjalan mencapai pintu berbalik dan menatap manajernya. Ia
tersenyum melihat manajernya kebingungan.

“Dia rindu padaku,” kata Tae-Woo, lalu keluar meninggalkan Park Hyun-Shik yang
masih terlihat bingung.





Sandy mendengar bel pintu berbunyi. Begitu cepat sudah sampai? Ia bangkit dan
berjalan ke pintu. Ketika ia membuka pintu, Jung Tae-Woo sudah berdiri di sana sambil
tersenyum lebar.

“Bukankah sudah kubilang kau tidak perlu datang kemari,” kata Sandy. “Kau
kehujanan—“

Sandy tercengang ketika Jung Tae-Woo tiba-tiba memeluknya. Napasnya tercekat
dan untuk sesaat ASndy lupa bagaimana cara bernapas kembali.

“Jung Tae-Woo ssi, kau kenapa?” tanyanya lirih.

Jung Tae-Woo masih tetap memeluknya. “Padahal kita baru bertemu kemarin,
kenapa rasanya seolah sudah lama sekali aku tidak melihatmu?” gumam laki-laki itu.

Sandy cuma tertawa kecil. “Bukankah kau tadi bilang kau belum makan?”

Tiba-tiba Jung Tae-Woo melepaskan pelukannya dan memegang bahu Sandy
dengan kedua tangannya. “Benar juag. Ayo, temani aku makan di luar.”

“Sebentar.” Sandy menahannya. Apakah ia harus memberitahu Jung Tae-Woo
tentang Lisa?

“Ada apa?” tanya Jung Tae-Woo.

Memang sebaiknya dikatakan. Tapi bagaimana caranya? Apakah harus sekarang?
Tidak, ia harus berpikir dulu. Ia harus memikirkan kata-katanya. Ia akan memberitahu
Jung Tae-Woo, tapi tidak sekarang.

“Tidak apa-apa,” jawab Sandy akhirnya. “Baik, kutemani kau makan di luar.”





Samar-samar Sandy mendengar bunyi sirene, seperti sirene ambulans atau mobil polisi.
Bukan, bukan bunyi sirene. Itu bunyi bel pintunya. Sandy membalikkan tubuh dan
berusaha membuka mata. Ia melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. Siapa yang
datang sepagi ini?

Sandy memaksa dirinya bangkit dari tempat tidur dan dalam keadaan setengah
sadar, ia berjalan terhuyung-huyung ke pintu dan membukanya.

“Oh, Young-Mi?” katanya setelah melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Ia
mundur selangkah agar temannya bisa masuk.


Tanpa berkata apa-apa, Young-Mi menerobos masuk. Sandy agak heran melihat
sikap temannya. Ia menutup pintu kembali dan masuk menyusul temannya.

Young-Mi berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Wajahnya serius sekali.

“Young-Mi, ada apa?” tanya Sandy hati-hati.

Young-Mi membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Ia memutar
tubuhnya menghadap Sandy.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan,” kata Young-Mi. Ia menyodorkan
kertas-kertas itu kepada Sandy. “Tolong jelaskan apa maksud semua ini.”

Sandy mengerutkan kening dan menerima kertas-kertas itu dari tangan Young-Mi.
Begitu membaca kertas pertama, tubuhnya menjadi kaku.

“Aku mendapat artikel itu dari internet dan aku mencetaknya,” kata Young-Mi.

Sandy meletakkan tangan di dahinya. Kalimat-kalimat artikel itu berputar-putar
dalam benaknya, membuat kepalanya berdenyut-denyut.

...Siapa sebenarnya Han Soon-Hee? Kekasih Jung Tae-Woo atau seseorang yang ingin
membalas dendam? ... Han Soon-Hee adalah adik penggemar Jung Tae-Woo yang meninggal
dunia saat jumpa penggemar empat tahun lalu... Apa maksudnya mendekati Jung Tae-Woo? ...
Membalas dendam atas kematian sang kakak... Jung Tae-Woo sudah tahu? Atau tidak... Sekadar
menebus dosa? ... Rasa kasihan...

Ada juga foto dirinya. Jelas sekali. Foto ini... Sandy ingat, pasti diambil ketika ia
bertemu dua gadis penggemar Jung Tae-Woo di tengah jalan. Saat itu ia merasa mereka
memegang ponsel. Ternyata mereka memang sedang memotretnya saat itu. Mereka
memotretnya dan mencari tahu tentang dirinya.

“Soon-Hee, apa artinya itu?” tanya Young-Mi.

Sandy menggeleng. “Dari mana mereka tahu semua ini?”

Young-Mi mencengkeram bahu Sandy dan mengguncangnya. “Maksudmu semua
ini benar?”

Sandy menatap Young-Mi dengan pandangan bingung. “Ya... Tidak... Ya... bukan,
tidak.”

“Demi Tuhan, jawab yang benar!” seru Young-Mi.

Sandy terduduk di lantai. Tangannya masih memegang kertas-kertas itu.

Young-Mi menarik napas dan ikut duduk di lantai. “Baiklah,” katanya pelan. “Aku
akan bertanya dan kau menjawab.”

Sandy hanya menatap temannya, lalu menatap kertas-kertas di tangannya.

“Benarkah kau punya kakak?” tanya Young-Mi.

Sandy mengangguk.

“Kakakmu penggemar Jung Tae-Woo yang meninggal dunia itu?”

Sandy mengangguk lagi dan mendengar napas Young-Mi tercekat.


“Kenapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padaku? Selama ini aku
berpikir kau anak tunggal.”

“Tapi, Young-Mi, yang tertulis di artikel ini... tentang balas dendam... itu tidak
benar. Aku tidak punya maksud seperti itu. Kau harus percaya padaku,” kata Sandy
panik.

“Tentu saja aku percaya padamu,” kata Young-Mi. “Sekarang masalahnya bukan
itu. Para penggemar Jung Tae-Woo sangat marah, kau tahu? Di setiap website Jung Tae-
Woo ada artikel-artikel semacam ini, juga komentar-komentar yang tidak enak. Ini bisa
jadi skandal besar, Soon-Hee. Dan kau sekarang sudah bukan orang asing lagi.
Wajahmu sudah terpampang di internet. Sebentar lagi juga akan terpampang di
tabloid-tabloid. Kau akan dikejar-kejar wartawan, Soon-Hee.”

Sandy merasa kepalanya berputar. Apa yang sudah dilakukannya?

“Jung Tae-Woo sudah tahu tentang kakakmu?”

Sandy tertegun. Jung Tae-Woo. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Ia belum sempat...
Sandy bergegas bangkit dan meraih ponselnya.

“Jung Tae-Woo belum tahu?”

Sandy mendengar Young-Mi bertanya, tapi ia tidak menjawab. Ia menekan tombol
ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menempelkannya di telinga. Tidak aktif. Ponsel
Jung Tae-Woo tidak diaktifkan. Sandy mencoba nomor telepon rumahnya. Tidak
diangkat juga.

Ia menutup ponselnya dengan gerakan lambat. Kepalanya terasa berat. Bagaimana
sekarang? Ia menarik napas panjang, lalu berjalan cepat ke arah lemari pakaiannya.

“Soon-Hee, kau mau ke mana?” tanya Young-Mi.

“Aku harus bertemu dengannya,” kata Sandy sambil menarik jaketnya dari dalam
lemari.





Tae-Woo duduk di depan komputernya dengan kepala tertunduk. Pagi ini ia terbangun
dengan perasaan bahagia. Saat itu entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan
perasaan seperti itu, seakan-akan perasaan bahagia tersebut tidak akan bertahan lama.
Ternyata memang terbukti. Pagi-pagi sekali Park Hyun-Shik sudah menelepon,
menyuruhnya membuka komputer, dan masuk ke sebuah website.

Tae-Woo membaca artikel-artikel yang tertera di website itu. Apakah itu benar?
Penggemarnya yang meninggal dunia empat tahun lalu itu kakak Sandy? Saat ini ia
baru menyadari hal-hal kecil yang dulu membuatnya heran, tapi saat itu ia tidak benar-
benar memperhatikannya.


Tae-Woo ingat, saat itu mereka sedang makan daging panggang di rumah Hyun
Shik Hyong. Hyun-Shik Hyong memberitahu gadis itu tentang jumpa penggemar Tae-
Woo. Sandy kelihatan kaget lalu terbatuk-batuk, lalu ia bertanya, “Jumpa penggemar?
Seperti yang dulu?”

Kemudian ketika ia meminta bantuan Sandy memilihkan hadiah untuk
penggemarnya, gadis itu mengusulkan bros. Ketika Tae-Woo mengatakan ia sudah
pernah memberikan bros untuk penggemarnya, gadis itu berujar, “Aah, benar juga.”

Sandy juga pernah bertanya padanya tentang kecelakaan empat tahun lalu itu. Saat
itu wajahnya agak pucat, Tae-Woo baru menyadarinya sekarang. Ia juga berkata,
“Kurasa... kau tidak salah.”

Tae-Woo juga teringat pada kata-kata manajernya dulu. Park Hyun-Shik pernah
berkomentar bahwa ia merasa aneh Sandy tidak meminta imbalan apa pun untuk
berfoto dengannya dan berpura-pura menjadi kekasihnya.

Tae-Woo mengusap wajah dengan kedua tangannya, matanya menatap layar
komputer. Apakah Sandy sungguh ada hubungannya dengan penggemarnya yang
meninggal itu? Apakah gadis itu ingin membalas dendam? Tidak, tidak mungkin.
Sandy sudah berkata kecelakaan itu bukan kesalahannya.

Tidak, ia tidak bisa duduk saja. Apa yang sedang ditunggunya? Ia harus menemui
Sandy. Ia harus bicara dengannya. Bicara apa? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa berpikir. Yang
pasti, ia harus bertemu gadis itu.

Tepat pada saat Tae-Woo bangkit dari kursi, telepon rumahnya berdering. Ia
membiarkan mesin penjawab telepon yang menerimanya. Ia meraih kunci mobilnya
dan baru akan keluar dari pintu ketika terdengar suara manajernya di mesin penjawab
telepon.

“Tae-Woo, tolong angkat teleponnya. Aku tahu kau ada di sana. Tae-Woo!”

Tae-Woo hanya bergeming menatap mesin penjawab telepon.

“Mereka ingin bertemu denganmu. Kau harus datang kemari.”

Tae-Woo tahu siapa “mereka” yang dimaksud Park Hyun-Shik. Para produser dan
agennya.

Ia mengangkat gagang teleponnya dan berkata, “Aku ingin bertemu dengannya
dulu. Setelah itu aku baru ke sana.”

Seperti yang sudah diduganya, banyak wartawan sudah menunggu di depan
rumah. Ia bisa mendengar mereka berteriak-teriak memanggilnya dari depan pagar.
Tae-Woo langsung masuk ke mobil, membuka pagar rumah dengan remote control, dan
melesat pergi tanpa menghiraukan wartawan-wartawan itu. Ia tidak bisa memberi
komentar apa pun. Tidak sebelum ia bertemu Sandy.


Belum begitu jauh meninggalkan rumah, Tae-Woo melihat seorang gadis sedang
berlari ke arahnya. Sandy. Gadis itu sedang berlari menuju rumahnya.





Sandy berlari secepat mungkin. Ia berlari menyusuri jalan menuju rumah Jung Tae-
Woo. Ia harus bertemu laki-laki itu. Ia harus menjelaskan semuanya. Sebentar lagi
sampai. Tiba-tiba ia melihat mobil merah melaju ke arahnya. Mobil Jung Tae-Woo. Ia
berhenti berlari, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Pasti Jung Tae-
Woo juga sudah melihatnya, karena mobil itu langsung berhenti tepat di sampingnya.

Sandy melihat jendela mobil diturunkan. Jung Tae-Woo menatapnya dari balik
kacamata gelapnya. Sandy tidak mampu berkata apa-apa karena masih berusaha
mengatur napas.

“Masuklah,” kata Jung Tae-Woo. “Ada banyak wartawan di belakang.”

Sandy menurut.

Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Jung Tae-Woo tetap menatap lurus ke
depan. Sandy ingin memulai percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Dari sikap diam Jung Tae-Woo, Sandy yakin laki-laki itu sudah tahu tentang artikel di
internet itu. Apakah Jung Tae-Woo marah? Entahlah. Sandy melirik Jung Tae-Woo
dengan hati-hati. Sulit melihat ekspresinya dari balik kacamata gelap. Akhirnya Sandy
memilih diam dulu.

Mobil Jung Tae-Woo terus melaju ke arah luar kota. Sandy memperkirakan mereka
sedang menuju pantai. Ternyata memang benar. Akhirnya Jung Tae-Woo menghenti-
kan mobil di pinggir jalan yang sepi. Di sebelah kanan mereka terbentang laut luas. Di
sebelah kiri mereka terdapat beberapa rumah makan.

Sandy duduk tegang sementara Jung Tae-Woo mematikan mesin mobilnya. Dari
sudut matanya, ia melihat Jung Tae-Woo membuka kacamata gelapnya namun tetap
memakai topi. Laki-laki itu menarik napas panjang dan melepaskan sabuk pengaman.
Kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar.

“Keluarlah,” katanya pada Sandy.

Sandy melepaskan sabuk pengaman perlahan-lahan. Otaknya terus menyusun kata-
kata yang ingin diutarakannya pada Jung Tae-Woo. Ia keluar dari mobil dan mengham-
piri Jung Tae-Woo yang berdiri dan setengah bersandar pada bagian depan mobil,
memandang laut.

Sandy berdiri di sampingnya. Ia ingin membuka mulut, tapi tidak ada suara yang
keluar. Ia tidak suka melihat Jung Tae-Woo yang pendiam seperti ini.

“Maaf,” gumam Jung Tae-Woo.

Sandy menoleh ke arahnya. Apa yang dikatakannya tadi? Maaf?


Jung Tae-Woo masih tetap memandang ke laut. Ia mengembuskan napas. “Maafkan
aku,” katanya sekali lagi. Nada suaranya lemah, seakan-akan ia tidak bisa mengucap-
kan kata-kata yang lain lagi. “Maafkan aku.”

Sandy mengerutkan kening karena heran. “Minta maaf untuk apa?” tanyanya.

Jung Tae-Woo menoleh ke arahnya, tersenyum samar. “Mengenai kakakmu,”
katanya. “Maafkan aku.”

Hati Sandy terasa seolah diremas. Kenapa Jung Tae-Woo yang harus meminta
maaf? Justru ia sendiri yang ingin meminta maaf karena tidak menceritakan hal ini
sejak awal.

“Tidak,” gumam Sandy. “Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah.”

“Jadi, artikel itu benar?” tanya Jung Tae-Woo lagi.

Sandy tidak suka mendengar nada suara Jung Tae-Woo yang seperti itu. Laki-laki
itu kelihatan sedih, putus asa, kecewa.

Sandy menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. “Benar, dulu aku punya
kakak perempuan. Benar, dia meninggal empat tahun lalu. Dan benar, dia meninggal
setelah menghadiri acara jumpa penggemar itu.”

Kepala Jung Tae-Woo tertunduk. Mereka terdiam sejenak, lalu Jung Tae-Woo
bertanya pelan, “Kukira kau anak tunggal.”

Sandy menoleh ke arah Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap laut. Kata-katanya
mengalir lancar. “Sebelum ibuku menikah dengan ayahku, ibuku pernah menikah
dengan sesama orang Indonesia. Lisa anak hasil pernikahan ibuku dengan suami
pertamanya. Tapi ketika Lisa berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Dua tahun
kemudian, ibuku menikah dengan ayahku. Aku lahir. Ketika usiaku sepuluh tahun,
kami sekeluarga pindah ke Seoul. Lisa tidak ingin ikut, jadi ia tetap tinggal di Jakarta
bersama neneknya. Walaupun begitu, hubungan kami sangat baik. Ia sering datang ke
Seoul, tapi tidak pernah bisa berbahasa Korea.

“Empat tahun yang lalu, ia datang ke Seoul untuk menghadiri jumpa
penggemarmu. Dia salah satu penggemar terbesarmu. Selalu membicarakan dirimu.
Kadang-kadang aku bosan mendengarnya. Aku tidak mengerti kenapa dia sangat
mengidolakan Jung Tae-Woo. Sebelum pergi ke acara itu, dia terus berusaha
mengajakku menemaninya ke acara jumpa penggemar itu, tapi aku tidak mau. Katanya
aku akan rugi karena tidak mengenal Jung Tae-Woo, tidak mendengar Jung Tae-Woo
menyanyi.

“Aku ingin kau mengerti aku tidak menyalahkanmu.” Sandy menatap Jung Tae-
Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya. “Karena itu aku tidak pernah punya
dendam terhadapmu. Mungkin awalnya kau sempat heran kenapa aku bersedia
membantumu, kenapa aku bersedia terlibat dalam urusanmu. Saat itu aku hanya ingin


mengenal dirimu, mengenalmu lebih baik. Aku ingin tahu kenapa kakakku sangat
menyukaimu. Aku berpikir, bila aku bisa memahami alasan kakakku menyukaimu, aku
akan merasa lebih memahaminya dan perasaanku akan membaik. Hanya itu.”

Sandy memalingkan wajah. “Seharusnya kuceritakan lebih awal. Maafkan aku.”

Jung Tae-Woo memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Lalu,” katanya, “apakah
kau sudah bisa memahami kakakmu?”

Sandy tersenyum samar. Jung Tae-Woo menanyakan pertanyaan yang tepat.
Apakah ia sudah bisa memahami Lisa? Apakah ia sudah menemukan jawaban kenapa
Lisa sangat menyukai Jung Tae-Woo?

“Kurasa belum,” jawabnya.

“Belum?”

Sandy menoleh memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya
dengan raut wajah yang susah ditebak artinya.

“Kurasa aku tidak akan pernah bisa memahaminya,” Sandy melanjutkan, “karena
menurutku apa yang kurasakan berbeda dengan apa yang Lisa rasakan.”

Dahi Jung Tae-Woo berkerut tidak mengerti.

Sepertinya rasa suka yang dirasakan Lisa terhadapmu berbeda dengan rasa suka yang
kurasakan terhadapmu, kata Sandy dalam hati. Matanya menatap mata Jung Tae-Woo
lurus-lurus.

Kerutan di dahi Jung Tae-Woo perlahan-lahan menghilang. Ketika baru akan
mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat.

“Halo? ... Mm... Aku mengerti.”

Jung Tae-Woo hanya mengucapkan kata-kata pendek itu, lalu menutup flap
ponselnya kembali.

“Dari Paman Park Hyun-Shik?” tanya Sandy.

Jung Tae-Woo melihatnya sekilas, lalu mengangguk. “Mm.”

“Kau disuruh menemuinya, bukan?”

Jung Tae-Woo tidak menjawab.

“Mungkin... Apakah menurutmu sebaiknya kita tidak saling bertemu dulu untuk
sementara? Maksudku, karena ada masalah seperti ini. Kurasa kita berdua juga perlu...
berpikir.”

Jung Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras, tapi tidak berkata apa-apa.

Mereka berdua kembali terdiam beberapa saat. Masing-masing menikmati
keheningan yang hanya diselingi deburan ombak. Entah kenapa ada sepercik perasaan
damai ketika itu. Kalau boleh, Sandy ingin waktu berhenti saat itu juga. Ia ingin
menikmati kesunyian itu, perasaan damai itu, dan suara laut yang menenangkan


dengan Jung Tae-Woo di sampingnya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Cepat atau
lambat mereka harus menghadapi kenyataan.

“Sebaiknya kita kembali saja sekarang,” kata Sandy akhirnya.

Sandy bergerak, berniat menjauhi mobil, ketika tiba-tiba ia merasa pergelangan
tangannya dicekal. Ia menoleh dan melihat Jung Tae-Woo sedang mencengkeram
pergelangan tangannya tanpa memandangnya. Mendadak saja ia merasa sulit
bernapas.

“Kau tidak usah khawatir,” kata Jung Tae-Woo dengan nada rendah. “Biar aku saja
yang menyelesaikan masalah ini. Setelah itu kita akan bicara lagi. Kau... kau mau
menunggu sampai saat itu?”

Sandy mengangguk, lalu berkata sekali lag, “Kita kembali saja sekarang...”
























































Empat Belas









SEJAK hari itu, Sandy mengalami hari-hari biasa. Walaupun juru bicara Jung Tae-Woo
sudah meluruskan gosip itu, tentu saja tidak semua pihak menerimanya sebagai
kenyataan. Masih saja ada penggemar Jung Tae-Woo yang mengatakan hal-hal yang
tidak menyenangkan dan menyebarkannya di internet. Sandy juga tidak bisa berjalan-
jalan sendirian di tempat umum lagi. Sekarang banyak orang yang mengenalinya,
terlebih lagi remaja-remaja penggemar Jung Tae-Woo. Ada yang bersikap sopan, hanya
tersenyum ketika mengenalinya. Tapi ada juga yang kasar, menuduhnya memperalat
dan menghancurkan nama baik Jung Tae-Woo, bahkan ada yang menuduhnya
memanfaatkan kecelakaan kakaknya sendiri demi mendapatkan Jung Tae-Woo.

Sandy menyadari bahwa yang mengalami masa-masa sulit tidak hanya dirinya
sendiri, tapi juga Jung Tae-Woo. Laki-laki itu harus menghadapi mimpi buruknya
sekali lagi. Orang-orang kembali membicarakan kecelakaan empat tahun lalu yang
melibatkan dirinya dan yang mengakibatkan salah seorang penggemarnya meninggal
dunia.

Sejak mereka kembali dari pantai itu, Sandy sama sekali belum berbicara dengan
Jung Tae-Woo. Sudah seminggu lebih. Berkali-kali Sandy ingin meneleponnya, tapi
kemudian membatalkan niatnya. Ia merasa sebaiknya tidak menghubungi laki-laki itu
untuk sementara ini, seperti yang mereka sepakati. Tapi bagaimana ini? Hatinya tidak
tenang.

“Miss Han.”

Sandy tersentak dan menoleh. Mister Kim sudah berdiri di sampingnya sambil
berkacak pinggang.

“Ya, Mister Kim?” Ia bergegas bangkit dari kursinya.


“Apa yang sedang kaupikirkan, Miss Han? Aku sudah memanggilmu ratusan kali,”
kata Mister Kim. “Wajahmu juga pucat seperti bulan.”

Sandy menunduk. “Aku minta maaf.”

“Karena Jung Tae-Woo?”

Sandy mengangkat wajahnya dengan kaget. “Oh, Mister Kim, itu—“

Mister Kim mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan kata-kata Sandy.
“Miss Han, aku tidak percaya pada gosip-gosip yang beredar. Aku percaya padamu. Do
you understand that?”

Sandy terdiam.

Mister Kim berjalan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursinya yang besar.
“Tapi kau memang menyukainya, kan?”

Pertanyaan Mister Kim yang langsung dan tiba-tiba itu membuat Sandy tidak bisa
berkata apa-apa.

“Kau ingin bertemu dengannya?”

Sandy masih diam.

Ternyata Mister Kim mengartikan sikap diamnya sebagai jawaban “ya”. “Kenapa
kau tidak menghubunginya?”

Sandy tersenyum dan menggeleng.

Mister Kim menyandarkan kepala ke kursi. “Benar juga,” katanya. “Dia pasti se-
dang banyak urusan sekarang ini. Kalau semuanya sudah diselesaikan, aku yakin dia
pasti akan menghubungimu.”

Sandy hanya mengangguk sedikit, lalu keluar dari studio Mister Kim. Ia berjalan ke
ruang penerimaan tamu yang saat itu sedang kosong. Ia duduk di sofa dan
memandang ke luar jendela kaca yang besar. Banyak mobil yang berlalu-lalang, tapi
Sandy tidak benar-benar memerhatikannya. Ia menatap ponsel yang ada dalam
genggamannya.

Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku? ... Agar aku bisa
langsung berlari menemuimu.

Benarkah? Tidak, ia tidak akan mencobanya.

Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berbunyi. Ia menatap layar ponsel dan
jantungnya langsung berdebar dua kali lebih cepat. Jung Tae-Woo.

Sandy menempelkan ponselnya ke telinga. “Ya?” Kenapa suaranya terdengar serak?

“Bagaimana kabarmu?”

Mata Sandy terasa panas begitu mendengar suara Jung Tae-Woo.

“Baik-baik saja?” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi. Suaranya terdengar ceria,
ringan, dan santai.


“Mm,” jawab Sandy sambil mengerjapkan mata untuk menghalau air mata.
“Bagaimana denganmu?”

“Ingin bertemu denganmu.”

Sandy tidak berkata apa-apa.

Jung Tae-Woo mendesah panjang. “Bagaimana ini? Sudah lama aku tidak
melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali. Sepertinya semua yang
kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu
dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik. Sekarang setelah mendengar
suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain.” Hening sejenak.
“Aku jadi semakin ingin melihatmu.”

Tanpa sadar Sandy tersenyum, namun pandangannya mulai kabur.

“Apa aku boleh berpikir seperti itu?”

Sandy mengerjapkan mata, tapi kali ini air matanya tidak bisa dihentikan.

“Bisa membantuku?” tanya Jung Tae-Woo lagi. “Katakan „Jung Tae-Woo, fighting!.
sekali saja.”

Sandy tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya. “Jung Tae-
Woo, fighting!” katanya.

Ia mendengar Jung Tae-Woo mendesah puas. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-
katamu. Aku akan bertahan. Dan kau sendiri, Sandy, fighting!”

Sandy menutup ponsel dengan perlahan. Ya, bertahanlah, Sandy.





“Kau mau ke Jakarta?”

Sandy memandang Kang Young-Mi sambil tertawa kecil. “Kenapa terkejut begitu?”

Mereka berdua sedang mengobrol di kafe langganan ketika Sandy memberitahu
Young-Mi ia akan pulang ke Jakarta tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih
terkejut daripada yang disangkanya.

Young-Mi mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah. “Kau sedang melarikan
diri?” tuduhnya.

Sandy menggeleng. “Tidak. Melarikan diri dari apa?”

“Dari Jung Tae-Woo,” jawab temannya langsung.

“Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?”

“Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta?”

Sandy ikut bersandar di kursi. “Hanya ingin berganti suasana. Aku ingin mene-
nangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak se-
belum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah.”

Young-Mi menatap Sandy dengan kening berkerut. “Kenapa marah?”


“Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembica-
raan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula,” jelas Sandy.

“Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Jung Tae-Woo atas kecelakaan kakakmu
itu, kan?” tanya Young-Mi hati-hati.

“Tidak,” jawab Sandy. Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, “Tidak.”

“Lalu kenapa kau tidak menemuinya?”

“Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya,
bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan
ibuku.”

Mereka berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian
Young-Mi bertanya, “Berapa lama kau akan tinggal di Jakarta?”

Sandy mengangkat bahu. “Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah.
Yang pasti, aku akan kembali.”

“Kau sudah memberitahu Jung Tae-Woo soal ini?”

Sandy menggeleng. “Apakah perlu?”

“Kurasa itu pertanyaan bodoh.”

Sandy memiringkan kepala. “Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.”

“Jangan memintaku melakukannya,” kata Young-Mi begitu melihat tatapan Sandy.
“Kau harus mengatakannya sendiri.”





Tae-Woo memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil
di depan kamera. Hari ini ia akan tampil dalam acara bincang-bincang yang cukup
populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak
apa-apa. Ia sudah siap. Melalui cermin, ia melihat Park Hyun-Shik menghampiri dari
belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Tae-Woo mengangguk mengerti.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan
ponsel. Begitu membaca tulisan yang muncul di layar ponsel, ia tersenyum. Sudah
seminggu terakhir ini ia tidak menghubungi gadis itu. Kenapa Sandy tiba-tiba
meneleponnya?

“Halo?” katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.

“Ini aku.” Terdengar suara Sandy di ujung sana.

Tae-Woo tersenyum. “Aku tahu.”

Sandy hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, “Sedang apa?”

“Sebentar lagi on air,” sahut Tae-Woo sambil melihat ke sekeliling. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu.”

“Begitu?” kata Tae-Woo senang. “Di mana kau sekarang?”


“Di bandara.”

Tae-Woo mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. “Di mana?”

“Di bandara.”

Ia tidak salah dengar. “Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?”

“Aku akan pergi ke Jakarta. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu.”

Tunggu... Jakarta? Jakarta, Indonesia?

Sepertinya Tae-Woo tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya, karena Sandy
menjawab, “Ya, aku akan pergi ke Indonesia. Sudah cukup lama aku ingin bertemu
orangtuaku.”

“Berapa lama kau akan di sana?” tanya Tae-Woo. Tangannya mendadak terasa
lemas.

“Sekitar seminggu,” jawab Sandy cepat. “Hanya untuk liburan.”

“Begitu.”

“Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu.”

Tae-Woo masih dalam keadaan setengah sadar. “Mm... Kau juga,” gumamnya.

Walaupun Sandy sudah memutuskan hubungan, Tae-Woo masih memegangi
ponsel di telinganya.

Gadis itu akan pergi. Tae-Woo mendadak merasa tidak bertenaga. Walaupun ia bisa
memahami kenapa Sandy ingin pergi ke Jakarta, kenapa Sandy merasa perlu
menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi.
Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya.
Sandy pasti sudah masuk ke pesawat. Itulah sebabnya kenapa gadis itu tidak
memberitahunya lebih awal. Sandy tahu Tae-Woo pasti akan mencegahnya kalau
memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Tae-Woo cemas. Bagaimana
kalau Sandy tidak kembali? Tidak bertemu Sandy beberapa waktu ini saja sudah
membuat Tae-Woo agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.

“Tae-Woo, ayo, sudah saatnya.”

Tae-Woo menoleh ke manajernya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi
tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Jung Tae-Woo, fighting!




















Lima Belas









“HEI, lagi dengerin lagu apa nih?”

Sandy menoleh ke arah suara yang bernada ceria dan penuh semangat itu. Tara,
saudara sepupunya yang sebaya dengannya, masuk ke kamarnya dan langsung
merebahkan diri di tempat tidur. Sebelum Sandy menjawab, Tara sudah meraih kotak
CD yang sedang dipegang Sandy.

“Cakep amat nih cowok,” komentarnya ketika melihat cover depan CD yang
gambarnya foto Jung Tae-Woo itu. “Lho, San, kok ada tanda tangan segala? Ini beneran
tanda tangan penyanyi ini? Lo pernah ketemu?”

Sandy tertawa dan merebut kotak CD itu kembali. “Ya. Waktu itu aku pergi ke
acara jumpa penggemarnya.”

Ia melihat Tara hanya meringis dan mengangkat bahu. Ada kalanya ia ingin seperti
sepupunya itu. Tara gadis yang periang, santai, dan berbakat dalam bahasa. Lihat saja,
walaupun menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Paris bersama ayahnya dan
hanya sesekali mengunjungi ibunya di Jakarta bila sedang liburan seperti sekarang,
bahasa Indonesia Tara tanpa cela. Bahkan ia sama sekali tidak kesulitan mengikuti
perkembangan bahasa gaul Indonesia. Tidak seperti Sandy yang bahasa Indonesia-nya
masih terdengar agak resmi.

“Ada rencana apa hari ini?” tanya Sandy. “Kok pagi-pagi sudah ke sini?”

“Gue bosan di rumah,” jawab sepupunya ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur
Sandy dan merapikan ikal-ikal rambutnya. “Ngomong-ngomong, lo kok tiba-tiba
nongol di Jakarta. Bikin kaget aja. Lagi patah ati?”

“Apa?”

“Udah punya gebetan belon sih?” Tara mengganti pertanyaannya.


“Apa itu gebetan?”

Mata Tara melebar. “Yee... lo ini orang Indonesia apa bukan?” katanya sambil
tertawa kecil. “Maksud gue tuh, lo udah punya cowok yang ditaksir belon? Udah
punya cowok belon? Gitu lho.”

Senyum Sandy mengembang. “Sudah,” jawabnya sambil menunjuk gambar cover
depan CD Jung Tae-Woo. “Ini dia.”

Tara meringis. “Iye, gue juga punya affair sama Brad Pitt,” katanya cepat. “Gimana
sih, ditanya baek-baek kok jawabnya gitu.”

Sandy juga sudah memperkirakan Tara tidak akan percaya. Ia menatap wajah Jung
Tae-Woo di cover CD itu. Sudah satu minggu ia berada di Jakarta, dan selama satu
minggu itu ia tidak bisa melihat foto-foto dan artikel Jung Tae-Woo di tabloid dan di
televisi. Namun masih ada Young-Mi yang sering mengirimkan SMS untuk mencerita-
kan kabar terbaru. Jung Tae-Woo juga kadang-kadang mengirim SMS untuk
mengabarkan keadaannya.

“Tara, bisa pinjam handphone-mu sebentar?”

“Pourquoi? Kenapa?” tanya Tara sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas
tangannya.

“Pulsaku sudah habis. Aku mau kirim SMS ke temanku di Korea. Aku mau bilang
lusa aku akan balik ke Korea,” Sandy menjelaskan.

Tara menggeleng-geleng sambil mendesah. “Lo jangan ngomong pake bahasa yang
seresmi itu dong. Gue jadi merinding nih. Pake aku-kamu segala. Emang kita pacaran?”

Sandy hanya tertawa. Tara membantunya mengirim SMS kepada Young-Mi dalam
bahasa Inggris karena ponsel Tara tidak memiliki fasilitas huruf hangeul dan karena
Sandy sendiri tidak begitu bisa bahasa Inggris. Menulis bahasa Korea tanpa hangeul
terasa terlalu aneh.

“Nih, udah kekirim,” kata Tara, lalu ia bangkit dari tempat tidur Sandy. “Sekarang
kita cabut yuk!”

“Apa? Kamu mau ke mana?”

Tara memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding, berbalik ke kiri,
berbalik ke kanan, lalu mendekatkan wajah ke cermin, seakan-akan ingin memeriksa
apakah ada setitik debu di ujung hidungnya. “Kita ke Bandung. Mau nggak?” usul Tara
sambil menjauhkan wajahnya dari cermin. “Gue lagi pengin jalan nih. Bukan cuma lo
yang patah ati. Gue juga lagi bete. Hari ini kita have fun aja. Ayo dong! Lelet amat sih
nih anak. Ganti baju sana!”



* * *


“Jadi kamu pasti kembali hari ini?” tanya Young-Mi dengan ponsel yang ditempelkan
di telinga. Ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan toko yang menyerahkan
barang belanjaannya dan kembali memusatkan perhatian pada Sandy yang sedang
berbicara di ujung sana.

“Mm,” jawab Sandy. Suaranya kurang jelas karena sambungan internasional.
“Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Dua jam lagi aku akan berangkat lagi
ke bandara. Pesawatku berangkat tengah malam, jadi menurut jadwal aku akan sampai
besok pagi.”

Young-Mi mendorong pintu kaca toko dan keluar. “Oke. Aku akan menjemputmu
di bandara nanti.”

“Tidak usah. Aku bisa naik taksi sendiri. Bukankah kau harus membantu ibumu?”

“Biasanya tidak ada pelanggan yang datang pada jam-jam segitu,” bantah Young-
Mi. “Jung Tae-Woo sedang di Amerika Serikat, jadi tidak bisa pergi menjemputmu.”

“Aku tahu. Dia pulang hari ini juga, tapi mungkin sampai di Seoul agak malam
besok.”

Young-Mi meringis. “Rupanya kau masih berhubungan dengan dia. Memangnya
ibumu tidak marah-marah?”

Young-Mi mendengar temannya tertawa kecil di seberang sana, lalu Sandy berkata,
“Tidak, sebenarnya ibuku tidak benar-benar marah. Ibuku hanya sedih karena teringat
lagi pada Lisa. Ibuku juga kesal karena kedua anak perempuannya menjadi bahan
pembicaraan di Korea. Tapi sekarang gosipnya sudah mereda, kan?”

Young-Mi mengangguk, walaupun ia tahu Sandy tidak bisa melihat anggukan
kepalanya. “Ya, Jung Tae-Woo sudah menyelesaikannya. Entah bagaimana. Setidaknya
sekarang dia memang sibuk sekali.”

“Oh, begit—AHH!”

Young-Mi berhenti berjalan. Ia mengerutkan kening. “Halo? Halo? Soon-Hee?”

Tidak ada jawaban. Sambungan telepon sudah terputus. Young-Mi menatap
ponselnya, lalu menelepon ponsel Sandy. Tidak bisa. Young-Mi mencoba sekali lagi.
Tetap tidak bisa.

Awalnya Young-Mi tidak begitu merisaukan hubungan telepon yang terputus, tapi
ketika tidak bisa menemukan Sandy di bandara waktu ia menjemput keesokan harinya,
ia mulai cemas. Ia kembali berusaha menghubungi ponsel Sandy, tapi tetap tidak bisa
tersambung.

Young-Mi kebingungan. Ia tidak tahu nomor telepon rumah Sandy di Jakarta. Ia
harus menghubungi siapa? Tiba-tiba ia teringat pada SMS yang diterimanya dari Sandy
dengan menggunakan ponsel saudara sepupunya. Young-Mi memeriksa ponselnya.
Semoga saja SMS dari nomor ponsel sepupu Sandy itu masih ada.


Ah, ternyata belum dihapus. Syukurlah.

Young-Mi cepat-cepat menghubungi nomor itu dan menunggu dengan tidak sabar.

“Halo?” Terdengar jawaban dari seberang sana. Suara perempuan. Saudara sepupu
Sandy atau bukan? Sepertinya memang benar.

Young-Mi berusaha menyusun kata-kata dalam bahasa Inggris secara kilat. “Hello,”
katanya ragu-ragu. “Is this Soon-Hee.s cousin?”

“Yes,” jawab perempuan itu. Suaranya terdengar aneh. “This is Tara. Who.s
speaking?”

Untunglah sepupu Sandy bisa berbahasa Inggris dengan lancar. “My name is Kang
Young-Mi. Soon-Hee.s friend from Korea,” kata Young-Mi memperkenalkan diri. “I need to
ask you something. Soon-Hee told me that she would arrive in Korea today,b ut I couldn.t find
her at the airport. She couldn.t make it?”

Begitu mendengar jawaban sepupu Sandy, mata Young-Mi terbelalak. ”Apa?! I.m
sorry... what was that? Can you say that again, please?”

Young-Mi merasa tubuhnya lemas seketika. Begitu memutuskan hubungan, ia
langsung menghubungi Jung Tae-Woo melalui ponsel Park Hyun-Shik karena ia tidak
punya nomor ponsel Jung Tae-Woo. Tidak tersambung. Mungkin Park Hyun-Shik dan
Jung Tae-Woo sedan berada dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke Korea
dari Amerika Serikat.

Young-Mi menutup flap ponselnya dengan keras. Ia mengacak-acak rambut dengan
perasaan putus asa. Ia harus segera memberitahu Jung Tae-Woo apa yang sudah terjadi
pada Sandy.





“Lelah sekali,” gumam Park Hyun-Shik sambil masuk ke mobil yang sudah menunggu
mereka di pintu depan bandara.

Tae-Woo menyandarkan kepala ke kursi. Sandy seharusnya sudah kembali ke Korea
hari ini. Benarkah telah nyaris satu bulan berlalu sejak terakhir ia bertemu gadis itu?
Hari ini ia bakal bisa menemuinya. Tae-Woo merasa semangatnya pulih kembali begitu
berpikir ia bisa melihat Sandy.

Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri sejak kapan gadis itu menjadi salah satu
alasannya untuk menjalani hari-hari. Karena ingin melihat dan bersama gadis itu, maka
ia tetap bertahan, tetap bangun di pagi hari, tetap bernapas. Sekarang Tae-Woo bisa
memahami apa artinya bila seseorang ingin tetap bertahan hidup demi orang lain. Ia
sering menonton drama yang tokoh utamanya mengidap penyakit parah yang
mematikan, namun ingin tetap bertahan hidup demi orang yang dicintainya. Sebelum
ini, Tae-Woo tidak terlalu memahami perasaan seperti itu tapi sekarang, walaupun


tidak mengidap penyakit apa pun, ia ingin tetap hidup. Karena dalam hidup ini, ada
seseorang yang sangat berharga baginya. Karena dalam hidup ini, ia ingin selalu bisa
melihat dan bersama orang itu.

“Aneh. Teman Sandy yang bernama Kang Young-Mi itu sudah meneleponku
belasan kali.”

Lamunan Tae-Woo dibuyarkan suara manajernya. Ia menoleh dan melihat Park
Hyun-Shik sedang mengerutkan kening menatap ponselnya.

“Kang Young-Mi?” tanya Tae-Woo.

Park Hyun-Shik mengangguk. “Aku juga baru tahu setelah kuaktifkan ponselku
kembali.”

Tae-Woo ikut mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya.

Tiba-tiba ponsel Park Hyun-Shik berbunyi.

“Dari Kang Young-Mi,” kata Park Hyun-Shik dan segera menjawab teleponnya.

Tae-Woo memerhatikan manajernya berbicara dengan teman Sandy itu.

“Kang Young-Mi ssi, bicaranya pelan-pelan saja. Aku tidak mengerti apa yang
kaukatakan,” kata Park Hyun-Shik. “Jung Tae-Woo? ... Ya, dia ada di sini... Mau bicara
dengannya? ... Oke, sebentar.”

Tae-Woo mengerutkan dahi. Mendadak saja perasaannya tidak enak. Apa ada
hubungannya dengan Sandy?

Ia menerima ponsel dari Park Hyun-Shik. “Ya?”

“Jung Tae-Woo ssi, aku ingin memberitahumu lebih awal, tapi ponsel Paman Park
Hyun-Shik tidak aktif dan aku tidak tahu nomor ponselmu.” Tae-Woo mendengar
suara teman Sandy itu agak gugup dan kacau.

“Aku dan Hyun-Shik Hyong memang baru turun dari pesawat, jadi ponsel kami
berdua tidak aktif tadi,” Tae-Woo menjelaskan. Perasaannya semakin tidak enak. “Ada
apa kau mencariku?”

“Soon-Hee...”

Kenapa ia tiba-tiba merasa sulit bernapas?

“Ada apa dengan Sandy?” tanyanya. Tangannya mulai terasa dingin. Ia sendiri
mulai panik. “Di mana dia?”

“Soon-Hee masih di Jakarta.”

“Dia tidak pulang hari ini? Kenapa?”

Kang Young-Mi tidak bersuara sejenak. Tae-Woo baru akan memanggilnya ketika
gadis itu berbicara lagi. “Dia mengalami kecelakaan.”

“Apa?”

Kali ini penjelasan Kang Young-Mi mengalir dengan lancar. “Tadi aku sudah
menelepon saudara sepupunya yang ada di Jakarta karena ponsel Soon-Hee tidak bisa


dihubungi. Dia yang mengatakan padaku Soon-Hee mengalami kecelakaan lalu lintas.
Taksi yang ditumpanginya terlibat dalam tabrakan beruntun di jalan tol.”

Tae-Woo merasa dadanya berat sekali, susah bernapas, darahnya seolah-olah
membeku begitu saja. “Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Belum sadar.” Suara Kang Young-Mi mulai pecah. Sepertinya gadis itu mulai
menangis.

Belum sadarkan diri... Ya Tuhan...

Tae-Woo berusaha keras untuk menarik napas. “Di rumah sakit mana? ... Aku
mengerti... Terima kasih.”

Sandy sedang terbaring tidak sadarkan diri...

“Tae-Woo, ada apa? Sandy masuk rumah sakit?”

Tae-Woo mendengar suara Park Hyun-Shik, tapi ia tidak punya tenaga untuk
menjawab. Pikirannya kalut.

“Hei, Jung Tae-Woo!”

“Aku harus ke sana,” katanya cepat tanpa memandang manajernya. “Aku harus ke
Jakarta.”





Tara memeluk rantang dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain mem-
betulkan letak tali tasnya. Rantang berisi makanan itu akan diberikannya kepada
orangtua Sandy yang sudah menunggui Sandy semalaman di rumah sakit. Ibu tara
yang menyuruhnya membawakan makanan untuk mereka.

Ia melangkah memasuki pintu depan rumah sakit besar itu dan berjalan ke lift.
Siang ini ia tidak ada jadwal apa pun, sorenya juga tidak ada acara penting. Tara
berencana membujuk oom dan tantenya itu istirahat. Ia bisa menjaga Sandy bila oom
dan tantenya mau pulang sebentar. Tara merasa kasihan pada kedua orang itu.
Kemarin ibu Sandy banyak menangis dan ayah Sandy juga sempat menangis setelah
melihat anak perempuan terbaring di kamar rumah sakit dengan tubuh dan wajah
penuh luka.

Ting!

Tara tersentak mendengar denting bel yang menandakan terbukanya pintu lift. Ia
mengembuskan napas keras dan keluar dari lift. Ketika akan membelok menuju kamar
Sandy, ia menghentikan langkahnya. Di depan pintu kamar Sandy ia melihat dua laki-
laki yang tidak dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan kedua orangtua Sandy.
Tara melihat oomnya merangkul tantenya yang sesekali menyeka air mata dengan sapu
tangan sambil mengangguk-angguk kecil.


Tara menyipitkan mata. Sepertinya ia pernah melihat salah satu dari kedua laki-laki
itu. Bukan yan berkacamata, tapi yang berdiri di samping temannya dengan kepala
tertunduk. Raut wajah laki-laki itu kelihatan kusut. Tunggu... bukankah laki-laki itu
sama dengan laki-laki yang fotonya ada di sampul depan CD yang pernah ditunjukkan
Sandy kepadanya? Tara memerhatikan lebih cermat lagi. Benar... memang orang itu.
Orang itu berarti... artis?

Kemudian Tara melihat orangtua Sandy berjalan mengikuti si laki-laki berkacamata.
Si artis menundukkan kepala kepada orangtua Sandy, tapi ia tidak ikut pergi. Ia tetap
berdiri di depan pintu kamar tempat Sandy dirawat.

Laki-laki itu memegang pegangan pintu kamar sejenak. Tidak bergerak. Lalu
dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk.





Tae-Woo merasa tubuhnya lelah sekali. Belum pernah ia merasa seperti ini. Seluruh
tenaganya seakan sudah terserap habis. Dadanya terasa begitu berat. Ia naik pesawat
pertama yang bisa didapatkannya ke Jakarta, lalu langsung ke rumah sakit tempat
Sandy dirawat. Semuanya berjalan seperti mimpi. Ketika ia bertemu kedua orangtua
Sandy untuk pertama kalinya, ketika ia berbicara pada mereka, meminta supaya ia
diizinkan melihat Sandy, ia masih merasa dalam keadaan setengah sadar.

Ia masuk ke kamar Sandy dan hatinya seakan diremas begitu kuat ketika melihat
gadis itu berbaring dengan mata terpejam. Tae-Woo menghampiri tempat tidur dan
memerhatikan wajah Sandy yang lebam. Kepalanya diperban, begitu juga siku dan
sebelah kakinya.

Tae-Woo menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum lemah.

“Ini aku,” bisiknya pelan.

Gadis itu tetap diam tidak bergerak.

Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh tangan Sandy. “Sudah lama tidak
melihatmu. Kau tahu, aku hampir melupakan wajahmu. Kalau aku sampai lupa
bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa?
Karena aku akan terlalu sibuk berusaha mengingat wajahmu sampai-sampai tidak
mampu memikirkan masalah lain. Gawat, kan?”

Ia membelai pipi Sandy dengan ujung jemarinya. “Sekarang setelah melihatmu, aku
baru ingat. Ah, benar... Matamu seperti ini... hidungmu seperti ini... mulutmu...
dahimu... dan rambutmu.”

Ia menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Kenapa aku bisa lupa
wajahmu?” Tae-Woo mendesah. “Ingatanku memang buruk, aku tahu. Menurutmu


aku harus bagaimana? Menurutku, aku harus melihatmu setiap hari supaya tidak lupa.
Itu artinya kau harus selalu di sisiku, bersamaku. Bagaimana?”





Tara menghampiri pintu kamar Sandy dan ragu-ragu sebentar. Ia tidak punya pikiran
atau maksud apa pun. Ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan laki-laki itu di kamar
Sandy. Karena itu ia memantapkan hati dan membuka pintu itu dengan perlahan.

Ia melihat laki-laki itu duduk di sisi tempat tidur. Laki-laki itu tidak menyadari
kehadirannya di balik pintu. Tara melihatnya menggenggam tangan Sandy dengan
salah satu tangannya. Tara tertegun melihat cara laki-laki itu memandang saudara
sepupunya. Belum pernah ada orang yang menatapnya dengan cara seperti itu. Tara
bukan tipe orang yang romantis, tapi ia merasa tatapan itu begitu tulus. Ia pasti sudah
luluh jika ada orang yang menatapnya penuh perasaan seperti itu.

Laki-laki itu sedang berbicara. Samar-samar Tara bisa mendengar suaranya, ia tahu
laki-laki itu berbicara dalam bahasa Korea, tapi tidak mengerti apa yang sedang
dikatakannya. Sambil berbicara, laki-laki itu menyentuh wajah Sandy dengan ujung
jemarinya. Hanya dengan ujung jemari, dan perlahan sekali, seakan-akan takut akan
menyakiti gadis yang terbaring di tempat tidur itu. Tanpa disadarinya, Tara menahan
napas, terkesima melihat laki-laki itu dan Sandy. Suara laki-laki itu pelan dan dalam.
Walaupun Tara tidak mengerti sedikit pun apa yang diutarakannya, herannya ia bisa
merasakan perasaan yang mengalir melalui ucapan laki-laki itu.

Laki-laki itu menghela napas berat. Ia menatap wajah Sandy dan saat itu Tara
mendengar laki-laki itu berbisik, “Sarang hae...”

Kerongkongan Tara tercekat dan entah kenapa air matanya bergulir turun. Yang
membuat Tara tersentuh adalah cara laki-laki itu mengucapkannya: dengan segenap
perasaan, seolah-olah tidak lagi punya tenaga untuk mengucapkan kata-kata lain. Tara
tidak bisa berbahasa Korea, tapi ia tahu arti kalimat barusan.

Aku mencintaimu....






















Enam Belas









BEBERAPA hari setelah itu Tae-Woo terus berada di Jakarta. Park Hyun-Shik sibuk
membatalkan dan menyusun ulang jadwal kerja Tae-Woo. Tae-Woo ingin berada di
dekat Sandy. Ia juga menggunakan kesempatan itu untuk lebih mengenal kedua
orangtua Sandy. Setelah mengenal mereka secara pribadi, ia baru mengetahui dengan
pasti bahwa sebenarnya kedua orangtua Sandy tidak membencinya karena kejadian
empat tahun lalu.

“Masih sama. Belum sadar,” kata Tae-Woo sambil duduk di bangku panjang di
koridor rumah sakit. Ia menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga dan
bersandar ke dinding. Ibunya menelepon dari Amerika untuk menanyakan keadaan
Sandy. “Tentu, Ibu. Kalau ada kabar apa pun, aku akan menelepon Ibu... Ya, Hyong
masih di sini menemaniku... Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku bisa menjaga diri...
Ya, bye.”

Tae-Woo menutup ponsel dan memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini tidurnya
tidak nyenyak. Ia lelah, tapi tidak bisa terlelap. Orangtua Sandy juga begitu. Ayah
Sandy sudah kembali bekerja tapi datang menjenguk putrinya tiap sore. Ibunya selalu
berada di rumah sakit. Tadi sepupu Sandy yang bernama Tara datang dan kini
menemani ibu Sandy pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.

Sambil menarik napas panjang, Tae-Woo kembali ke kamar Sandy. Ia duduk di
tempatnya seperti biasa, di sisi tempat tidur. Dokter pernah berkata, bila Sandy
sadarkan diri, ia akan baik-baik saja. Masalahnya, dokter tidak tahu kapan Sandy akan
sadar. Gadis itu tetap terbaring tak bergerak, tidak membuka mata.


Tae-Woo menggenggam tangan Sandy. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia
mengerutkan kening. Apakah ia salah lihat tadi? Sepertinya kelopak mata Sandy
bergerak. Tidak, ia hanya bermimpi.

Tapi kemudian ia merasakan tangan Sandy yang sedang digenggam bergerak. Ia
tersentak dan menatap wajah Sandy dengan jantung berdebar keras.

Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka.

Tae-Woo merasa begitu lega sampai kakinya terasa lemas. Sandy sadar! Ia sudah
sadar. Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh pipi Sandy. Gadis itu menoleh
lemas dan matanya bertemu mata Tae-Woo.

“Kau sudah sadar,” kata Tae-Woo kepadanya, senyumnya mengembang. Ia begitu
lega, begitu bahagia sampai ia ingin melompat. “Bagaimana perasaanmu?”

Sandy membuka mulut, tapi terlalu tak bertenaga untuk berbicara. Tae-Woo cepat-
cepat menggeleng. “Jangan bicara dulu. Kau masih lemah. Tunggu sebentar, kita harus
memanggil dokter.”

Tae-Woo menekan tombol merah di dekat tempat tidur dan kembali memandangi
Sandy. Kelihatannya gadis itu masih setengah terjaga, karena matanya sesekali
terpejam, lalu terbuka lagi, tapi dari matanya Tae-Woo tahu Sandy mengenalinya.

Gadis itu memandangnya, lalu membuka mulut lagi. Tae-Woo mendekatkan
telinganya ke wajah Sandy untuk mendengarkan kata-katanya.

“Aku... rindu... padamu.”

Tae-Woo tertegun. Suara Sandy memang lebih mirip bisikan, tapi ia mendengar
kata-kata itu dengan jelas. Tae-Woo tersenyum dan berkata pelan, “Aku juga.”

Tidak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Tae-Woo menoleh dan melihat
dokter dan perawat bergegas masuk. Ia menoleh kembali kepada Sandy dan berkata,
“Dokter sudah datang. Aku akan pergi sebentar untuk memanggil ibumu. Kau sudah
tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”





“Ibumu sudah tahu aku yang akan mengantarmu pulang,” kata Jung Tae-Woo sambil
meletakkan tas Sandy di sofa kamar.

Hari ini Sandy sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Keadaannya sudah
membaik walaupun tubuhnya masih agak lemah. Lagi pula setelah seminggu siuman
di rumah sakit, Sandy mulai merasa bosan setengah mati.

Ketika tabrakan keras itu terjadi, hal terakhir yang diingatnya adalah Jung Tae-Woo.
Bahwa ia belum bertemu laki-laki itu lagi. Belum bicara dengannya. Ia takut tidak akan
pernah punya kesempatan melihat Jung Tae-Woo lagi. Lalu semuanya gelap. Ia tidak
tahu apa-apa lagi.


Ia nyaris tidak percaya pada apa yang dilihatnya ketika pertama kali membuka
mata. Ia melihat wajah Jung Tae-Woo. Seperti sedang bermimpi. Kalau bermimpi, saat
itu ia tidak ingin bangun. Tapi ternyata itu kenyataan. Jung Tae-Woo sungguh ada di
sana, di sisinya, menggenggam tangannya dan berbicara padanya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Sandy tersentak dari lamunan dan melihat Jung Tae-Woo sedang menatapnya
dengan alis terangkat. Sandy tersenyum dan menggeleng.

Jung Tae-Woo mendorong kursi roda ke samping tempat tidur. “Ayo, kubantu,”
katanya.

Sandy membiarkan Jung Tae-Woo menggendongnya dan mendudukkannya di
kursi roda. Walaupun sebagian perbannya sudah dilepas, kakinya masih tidak kuat
untuk berjalan atau berdiri, karena itu mereka membutuhkan kursi roda.

“Sebelum pulang ke rumah, aku ingin membawamu ke suatu tempat,” kata Jung
Tae-Woo sambil meraih tas Sandy dan mendorong kursi roda Sandy keluar pintu.

“Kita mau ke mana?” tanya Sandy heran.

“Aku ingin mengajakmu makan siang. Untuk merayakan kesembuhanmu.”

“Di mana?”

“Kau akan tahu.”

“Kita naik apa?”

“Tentu saja naik mobil. Eh... kau tidak takut, kan?” tanya Jung Tae-Woo agak ragu.

Sandy menggeleng. “Bukan begitu maksudku. Ini bukan di Korea. Di Indonesia
kemudi mobil ada di sebelah kanan. Memangnya kau bisa?”

Jung Tae-Woo tertawa. “Ada orang yang akan mengemudikan mobil. Aku juga
sudah memperingatkannya untuk mengemudi dengan hati-hati sekali.”

“Siapa?”

“Kalau kukatakan, kau tidak akan kenal siapa dia.”

Sandy memiringkan kepala dan tidak bertanya-tanya lagi. Bertanya juga tidak ada
gunanya kalau Jung Tae-Woo sudah tidak mau mengatakan apa-apa.

Ternyata Sandy memang tidak mengenal pria setengah baya yang mengemudikan
mobil itu. Sandy melihat Jung Tae-Woo berbicara padanya dalam bahasa Inggris, lalu
pria setengah baya itu mengangguk mengerti. Mereka pun berangkat.





Mereka berhenti di hotel terkenal di daerah Jakarta Selatan.

“Kita mau makan di sini?” tanya Sandy ragu-ragu.

“Ya. Aku sudah memesan tempat. Ayo, kubantu keluar,” kata Jung Tae-Woo.


Sandy cepat-cepat menahannya. “Tunggu sebentar, Jung Tae-Woo ssi. Aku...
maksudku, aku tidak masuk ke tempat seperti itu dengan kursi roda. Maksudku—“

Kata-kata Sandy terputus ketika Jung Tae-Woo memegang wajahnya dengan kedua
tangan.

“Tidak apa-apa. Ada aku,” katanya sambil tersenyum menenangkan.

Sandy tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan dirinya didudukkan di kursi roda
dan didorong masuk ke lobi hotel.

Seorang pegawai hotel sepertinya sudah mengenal Jung Tae-Woo. Ia langsung
tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran.

Sandy merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang
pun di sana. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu
perintah. Sandy juga memerhatikan ada beberapa pria yang memainkan alat musik di
panggung kecil di tengah restoran.

Pegawai hotel yang mengantar mereka menunjukkan meja yang sudah disiapkan
untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Sandy juga melihat ada grand piano
hitam serta pemusik yang duduk di sana dan memainkannya.

Ketika Jung Tae-Woo sudah duduk berhadapan dengannya, Sandy membuka
mulut. “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”

“Mengatur apa?” Jung Tae-Woo balas bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.

Sandy tersenyum. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan dan beberapa
pemain musik. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”

Jung Tae-Woo hanya tertawa.

Tak lama kemudian makanan mereka diantarkan. Sepertinya sudah lama sekali
sejak Sandy makan bersama Jung Tae-Woo. Ia sangat menikmatinya. Ia selalu merasa
senang berada di dekat Jung Tae-Woo. Bila ia bersama laki-laki itu, ia merasa lebih
tenang, lebih bahagia.

Saat mereka selesai makan, Sandy baru akan mengatakan sesuatu ketika Jung Tae-
Woo mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.

“Aku tahu apa yang kauinginkan,” kata Jung Tae-Woo yakin.

Alis Sandy terangkat.

“Dari tadi kau terus melirik piano di sana itu,” kata Jung Tae-Woo. “Aku sudah
tahu kau akan memintaku bermain piano. Benar tidak?”

Sandy kaget dan tertawa. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.

“Tentu saja,” sahut Jung Tae-Woo. “Karena aku mengenalmu.”

Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo saat ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah
piano. Pria yang tadinya bermain piano berdiri dan mempersilakan Jung Tae-Woo


duduk. Saat itu juga lampu sorot entah di mana menyala menyinari piano itu. Jung Tae-
Woo duduk di depan piano dan memosisikan jari-jari tangan di tuts-tutsnya.

Jung Tae-Woo menatap Sandy dan bertanya, “Kau ingin aku memainkan lagu apa?”

“Apa saja,” jawab Sandy cepat.

“Aku sudah menulis sebuah lagu,” kata Jung Tae-Woo sambil menekan beberapa
nada di piano. “Sebenarnya lagu ini kutulis untukmu, tapi belum ada liriknya, juga
belum ada judulnya. Untuk sementara ini hanya ada nadanya.”

Biarpun begitu, Sandy tetap merasa tersanjung.

Jung Tae-Woo mulai memainkan piano. Sandy sangat suka mendengar Jung Tae-
Woo bermain. Setiap nada yang keluar dari piano itu begitu hidup, membentuk melodi
indah. Walaupun masih belum ada liriknya, Sandy sangat senang dengan kenyataan
bahwa Jung Tae-Woo menulis lagu itu untuknya.

Ketika lagu itu berakhir, Sandy bertepuk tangan bersama para pemusik lain. Sandy
mengira Jung Tae-Woo akan kembali ke meja mereka, tapi laki-laki itu malah
mengambil mikrofon. Lalu salah seorang pemusik tadi mengambilkan bangku tinggi
dan meletakkannya di tengah-tengah panggung. Para pemusik lain bersiap-siap
kembali dengan alat musik mereka. Apa yang sedang dilakukan Jung Tae-Woo?

Jung Tae-Woo tersenyum padanya. Laki-laki itu menyalakan mikrofon dan berkata,
“Sebenarnya aku ingin menyanyikan laguku sendiri untukmu, tapi tidak ada yang
cocok dengan apa yang ingin kukatakan padamu sekarang. Jadi, aku akan
menyanyikan lagu lain.” Ia terdiam sejenak dan melanjutkan, “Ada satu lagu yang
rasanya cocok.”

Jung Tae-Woo akan menyanyi? Sandy menunggu dengan hati berdebar.

Jung Tae-Woo memberi tanda kepada para pemusik dan musik mulai mengalun. Ia
pun mulai bernyanyi.

Sandy menahan napas ketika mengenali lagu itu. Salah satu lagu favoritnya
sepanjang masa. Lagu yang dinyanyikan Kang Ta yang berjudul Confession. Dulu,
setiap kali mendengarkan lagu ini di CD Kang Ta atau di radio, ia selalu bermimpi
suatu saat nanti ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini khusus untuknya. Kini
mimpinya menjadi kenyataan. Jung Tae-Woo sedang menyanyikan lagu itu. Khusus
untuknya.



Ya... aku ingin hatimu datang padaku

Aku ingin melangkah ke dalam matamu yang sedih

Tidak bisa... kau tidak bisa menerima hatiku semudah itu

Tapi kuharap kau membuka hatimu dan menerimaku






Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu

Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?



Seluruh cintaku akan menjadi bintang

yang akan melindungimu di sisimu

Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk

Tidak banyak yang kumiliki

tapi akan kuserahkan semuanya untukmu

Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku



Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu

Tidakkah kau tahu yang paling berharga adalah dirimu?



Seluruh cintaku akan menjadi bintang

yang akan melindungimu di sisimu

Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk

Tidak banyak yang kumiliki

tapi akan kuserahkan semuanya untukmu

Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku



Terima kasih...

Aku akan hidup demi dirimu yang bersedia menerima hatiku

Walaupun cahaya di wajahmu meredup

aku akan tetap mencintaimu...

Aku akan tetap mencintaimu...

Aku akan tetap mencintaimu...



(Terjemahan lagu Confession)



Ketika lagu itu berakhir, Sandy baru menyadari air matanya mengalir tanpa
sepengetahuannya.

Jung Tae-Woo turun dari panggung dan menghampirinya. Sandy mendongak
menatap Jung Tae-Woo yang tersenyum. Lalu laki-laki itu berlutut di samping kursi
rodanya.

“Anak bodoh. Kenapa menangis?” tanya Jung Tae-Woo sambil menghapus air mata
di pipi Sandy dengan jarinya.

Sandy tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam saja sambil memandangi wajah laki-
laki di depannya.


Jung Tae-Woo menatapnya lurus-lurus. “Aku mencintaimu.”

Sandy tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Yang ia tahu
pipinya terasa panas, air matanya kembali mengalir, lalu Jung Tae-Woo
mencondongkan tubuh untuk menciumnya.






































































Epilog









“KAU akan pergi ke Amerika, Miss Han?” tanya Mister Kim dengan kening berkerut.
“Aku tidak salah dengar?”

Sandy memasang senyum termanisnya dan menjawab, “Benar, Mister Kim. Hanya
sepuluh hari. Tidak lebih.”

Mister Kim mendecakkan lidah. “Memangnya untuk apa kau ke sana? Kau mau
pindah ke sana atau bagaimana?”

Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, Mister Kim. Hanya jalan-jalan.”

“Tujuh bulan lalu aku sudah memberimu cuti karena kau mengalami kecelakaan.
Masa sekarang kau mau cuti lagi?” Mister Kim masih bersikeras.

“Mister Kim, ayolah,” bujuk Sandy. “Hanya sepuluh hari.”

Mister Kim menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau pergi dengan siapa?”

“Oh?” Sandy jadi salah tingkah. “Oh... dengan... Jung Tae-Woo.”

“Hah!” seru Mister Kim. “Anak itu! Dia pikir karena dia artis maka bisa
sembarangan merebut asistenku kapan saja dia mau? Seenaknya saja! Fine, kau boleh ke
Amerika. Sebagai gantinya, suruh Jung Tae-Woo tidak usah pergi. Dia harus
menggantikanmu menjadi asistenku selama kau cuti.”

Sandy tertawa mendengar atasannya marah-marah. “Jangan begitu, Mister Kim.
Tapi bagaimanapun, kalau dipikir-pikir, saya harus berterima kasih pada Anda.”

“Untuk apa?”

“Karena Mister Kim telah memintaku mengantarkan pakaian kepada Jung Tae-Woo
sehingga aku bisa berkenalan dengannya.”

“Itu salah satu penyesalanku.”

“Saya senang Anda melakukannya,” kata Sandy, tidak mengacuhkan kata-kata
Mister Kim.


Mister Kim menatapnya.

“Sungguh,” Sandy menegaskan.

Akhirnya atasannya menyerah. “Okay, aku akan mengabulkan permintaan cutimu.
Tapi hanya sepuluh hari. Tidak lebih. Understand?”

Sandy mengangguk dan tersenyum lebar. “Terima kasih, Mister Kim. Anda baik
sekali.”





“Kau sungguh tidak mau mengganti nada deringmu?” tanya Sandy. Ia berdiri di
ambang pintu kamar Jung Tae-Woo sambil menggenggam ponsel laki-laki itu.

Jung Tae-Woo berhenti mengemas pakaian ke koper dan mengangkat wajah.
“Kenapa? Kau menjawab teleponku lagi?” ia balas bertanya. “Kau memang tidak
sengaja atau jangan-jangan kau sedang memata-mataiku?”

Sandy mendengus. “Hoho... kau... Sudahlah, tidak apa-apa. Tidak perlu kaujawab
pertanyaanku. Biar aku yang mengganti nada deringmu.”

Sandy baru mulai menekan-nekan tombol ponsel Jung Tae-Woo ketika laki-laki itu
mengambil ponselnya dari tangan Sandy.

“Jangan diganti,” katanya.

“Kenapa?” tanya Sandy.

Jung Tae-Woo tersenyum dan kembali mengemasi pakaian. “Aku suka kita punya
nada dering yang sama. Silakan saja jawab teleponku sesukamu. Tidak ada yang perlu
kusembunyikan.”

Sandy meringis, lalu berkata, “Ayo cepat. Kita harus berangkat ke bandara.”

“Sudah hampir selesai,” kata Jung Tae-Woo sambil mengunci koper. “Kau sendiri
yakin tidak ada barangmu yang ketinggalan? Kita sudah tidak punya waktu untuk
kembali ke apartemenmu.”

“Tidak ada,” kata Sandy yakin. Ia meraih topi kuning pemberian Jung Tae-Woo dan
memakainya. “Jung Tae-Woo ssi, orangtuamu sudah tahu aku akan ikut ke sana?”

“Kau sudah tanya itu berkali-kali,” sahut Jung Tae-woo sambil membawa koper ke
lantai bawah. Sandy menyusulnya dari belakang.

“Aku hanya tidak mau mereka kaget begitu melihatku,” Sandy menjelaskan. “Aku
memang sudah bertemu ibumu, tapi aku belum bertemu ayahmu.”

Jung Tae-Woo meletakkan kopernya di dekat pintu depan.

“Jung Tae-Woo ssi,” panggil Sandy.

Jung Tae-Woo memutar tubuh dan menatap Sandy. “Apa?”

“Kenapa aku ada di nomor sembilan ponselmu?”


Sandy melihat Jung Tae-Woo agak kaget mendengar pertanyaannya, lalu laki-laki
itu tersenyum geli. “Astaga, kukira ada masalah serius apa.”

“Aku hanya penasaran.”

“Karena aku suka nomor sembilan dan karena aku merasa kau cocok dengan angka
sembilan,” jawab Jung Tae-Woo ringan.

“Cocok? Hanya karena itu?”

Jung Tae-Woo meletakkan kedua tangan di bahu Sandy. “Ya,” jawabnya sambil
menatap lurus ke mata Sandy. “Sekarang, ayo pergi, sebelum ketinggalan pesawat.”

“Siapa yang tidak berkemas sejak kemarin?” tanya Sandy agak jengkel.

Jung Tae-Woo tertawa dan merangkul bahu Sandy. “Baiklah, aku minta maaf. Bisa
kita berangkat sekarang?”

“Oke,” sahut Sandy. “Jangan lupa kuncimu. Sudah kaukunci semua jendelanya?
Kompor gas sudah diperiksa?”





“Hei, kau tidak jadi minum-minum dengan kita?” tanya Park Hyun-Shik begitu ia menutup
ponsel.

Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali aku yang traktir.” Kemudian
ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.

“Begitu kembali dari luar negeri, sudah ada yang menunggu di rumah. Menyenangkan
sekali,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum.

“Dia memintaku makan di rumah,” kata Tae-Woo.

“Aku heran kenapa kau menyimpan nomor telepon Sandy di nomor sembilan,” kata Park
Hyun-Shik. Ia mendadak ingat pernah melihat Tae-Woo menekan nomor sembilan di ponsel
untuk menghubungi Sandy.

“Oh, itu,” kata Tae-Woo sambil tersenyum. “Hyong tahu aku suka bisbol, kan?”

“Aah, sepertinya aku tahu alasannya,” kata Park Hyun Shik sambil mengangguk-angguk
mengerti.

Tae-woo mengabaikan manajernya itu dan tetap melanjutkan, “Dalam bisbol ada sembilan
pemain. Kurang satu saja tidak bisa. Sembilan artinya lengkap. Kenapa aku menyimpan nomor
Sandy di nomor sembilan? Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap. Dia
nomor sembilanku.”
“Persis seperti yang kuduga,” kata Park Hyun-Shik puas.